Pendaftaran Workshop Menulis

Mengapa Antisemitisme di Inggris Meningkat?

Munawir Aziz

Dinamika konflik Israel-Palestina berdampak pada isu-isu politik di Eropa. Ujaran kebencian, serangan terhadap komunitas Yahudi, serta kampanye-kampanye mural yang dianggap bernada rasional, melonjak di Inggris.

Dalam pengalaman satu tahun bermukim di Inggris, saya melihat bagaiamana sebenarnya isu antisemitisme sangat terkait dengan politik, manuver politisi serta kontestasi anatara kelompok sayap kiri dan sayap kanan dalam struktur politik. Bahwa, antisemitisme ini merupakan isu yang sangat terkait dengan dinamika politik, yang berdampak pada dukungan terhadap partai, serta isu domestik United Kingdom.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Selama Januari hingga Juni 2019, ada 892 laporan kekerasan dan insiden bernada antisemitik. Jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2018, ada peningkatan 10% dari laporan yang disajikan the Community Security Trust (CST).

Dari data CST, lebih dari sepertiga insiden melibatkan sosial media sebagai perangkat menebarkan kebencian, kekerasan dan ancaman yang bernada rasial maupun mengecam komunitas Yahudi.

David Delew, CEO CST mengungkapkan bahwa kekerasan antisemitik di Inggris cenderung meningkat dalam tiga tahun terakhir. “Problemnya meluas di seluruh penjuru negeri, juga di media sosial. Hal ini merefleksikan pembelahan yang menganga di masyarakat kita, sekaligus menyebabkan kekhawatiran bagi komunitas Yahudi. Ini seharusnya mendorong semua komunitas masyarakat untuk bersama-sama melawan kebencian di sekitarnya,” sebagaimana laporan The Guardian (1 Agustus 2019).

Insiden-insiden antisemitik meluas di beberapa kota di United Kingdom: London, Manchester, Merseyside, Hertfordshire, Leeds, Birmingham, dan Wales. Dalam catatan CST, ada 38 insiden perusakan dan penodaan property milik orang Yahudi; 710 kasus kekerasan yang meliputi ancaman, graffiti, dan kecaman dari media sosial; 10 kasus email ancaman untuk publik, serta 49 kasus ancaman kekerasan langsung di ruang publik. Sementara, 62 publik figur menjadi target, juga 102 organisasi komunitas Yahudi yang mendapat ancaman kekerasan.

Baca juga:  Kejengkelan Gus Dur pada Kementerian Agama Diekspresikan dengan Humor

Di antara meningkatnya angka kekerasan terhadap komunitas Yahudi di Inggris, manuver pemimpin politik dari Labour Party (Partai Buruh). Selain itu, pola kepemimpinan Jeremy Corbin yang kontroversial, dianggap meningkatkan sentimen terhadap orang –orang Yahudi. Masa depan Inggris pasca Brexit juga turut menjadi instrumen penyebab meningkatkan kebencian rasial di ruang publik.

Presiden dari the Board of Deputies of British Jews, Marie van der Zyl, menjelaskan betapa manuver dari petinggi Partai Buruh memicu kekerasan bernada antisemitik. “Hal ini merupakan bacaan yang memuakkan untuk pemimpin-pemimpin Partai Buruh. Mereka seharusnya membuat keputusan final untuk langkah strategis menghentikan rasisme. Melawan kebencian antisemitik akan membutuhkan langkah bersama dari para pemimpin politik di negeri ini dan juga para publik figure, untuk memastikan negeri ini kembali aman dan menjadi tempat yang membahagiakan bagi komunitas Yahudi,” ungkapnya.

Antisemitisme merupakan perilaku atau bahasa yang mencerminkan ketidaksukaan terhadap komunitas Yahudi. Hal ini menyebabkan individu maupun kelompok menjadi terancam, diperlakukan tidak fair, tidak setara, disebabkan keyakinan mereka sebagai pengikut Yahudi. Antisemitisme dapat menimbulkan kriminalitas karena kebencian dan acaman, tergantung seberapa merugikan insiden yang ditimbulkan (BBC, 19 Februari 2019).

Jeremy Corbin, pemimpin Partai Buruh, pernah menyatakan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina. Selain itu, Corbin juga mendukung hak-hak asasi orang Palestina dalam rangkaian konflik dengan Israel. Dari pernyatan-pernyataan Corbin, ia langsung dihujani kecaman dan tuduhan bahwa dirinya merupakan pemimpin politik yang antisemit.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Sejarah Makna Kitab Gandul dalam Tradisi Pesantren

Lebih dari itu, komunitas-komunitas Yahudi di Inggris juga mengecam Jeremy Corbin dan Partai Buruh sebagai partai yang berbahaya karena ujaran-ujaran antisemitik di ruang publik. Namun, Corbin menolak disebut sebagai antisemitik, serta menjelaskan bahwa stereotype itu hanya prasangka.

“Saya berada pada peristiwa di ruang pandangan publik yang sepenuhnya saya tolak. Saya meminta maaf atas kejadian dan kekhawatiran yang ditimbulkan,” ungkap Corbin. “Kami mengakui bahwa antisemitisme terjadi di internal Partai Republik. Hal ini menyebabkan kesulitan dan kesakitan bagi komunitas Yahudi yang mendukung Partai Republik serta di seluruh negeri. Antisemitisme merupakan racun di tengah masyarakat kita. Saya berusaha untuk melawan itu, termasuk apakah antisemitisme berkembang di partai Buruh.”

Di tengah kontroversi tuduhan antisemitisme terhadap Jeremy Corbin, Partai Buruh bergejolak. Beberapa anggota parlemen dari Partai Buruh mengundurkan diri karena insiden ini. Di antara yang mengundurkan diri, yakni: Anne Coffey, Angela Smith, Chris Leslie, Mike Gapes, Luciana Berger, Gavin Shuker dan Chuka Umunna. Mereka mendesak Jeremy Corbin untuk mengambil langkah tegas dalam insiden antisemitisme di internal Partai Buruh.

Dave Rich, yang meriset antisemitisme di Inggris sejak tahun 1960-an, menjelaskan bahwa selama ini kelompok kiri dalam politik United Kingdom teridentifikasi melawan antisemitisme. Namun, sejak Jeremy Corbin memegang kendali Partai Buruh, kondisinya berubah drastis.

Pada paruh pertama tahun 2016, Jeremy Corbin terlibat kontroversi dalam pusaran antisemitisme. Maka, manuver-manuver Corbin dianggap sebagai episode baru politisi kiri di Inggris yang justru didakwa menebar kebencian antisemitik. Narasi ini tercermin dari riset Dave Rich, ‘The Left’s Jewish Problem: Jeremy Corbin, Israel dan Anti-semitism’ (2016).

Baca juga:  Ziarah ke Yerusalem: Tertahan di Pintu Al Quds

Pada tahun 2016 lalu, the International Holocaust Remembrance Alliance (IHRA) mengadopsi definisi baru dalam memaknai antisemitisme. Dalam definisi IHRA, antisemitisme yakni ‘a certain perception of Jews, which may be expressed as hatred toward Jews’. IHRA merupakan sebuah organisasi lintas negara, yang beranggotakan delegasi pemerintah dan pakar, untuk mengkampanyekan edukasi publik tentang peristiwa Holocaust, serta riset-riset tentang kebencian rasial. Organisasi ini didirikan oleh Goran Persson di Berlin, Jerman, pada 1998.

Dalam definisi IHRA, antisemitisme mencakup: sikap penyangkalan (denial) terhadap peristiwa Holocaust, menyangkal hak asasi orang Yahudi, serta menempatkan orang Yahudi bertanggungjawab sepenuhnya terhadap kebijakan-kebijakan yang dihasilkan oleh Israel. Dari definisi ini, kontroversi dan perdebatan mengemuka dalam isu di sekitar eksistensi komunitas Yahudi. Seperti misalnya, apakah mendukung kemerdekaan Palestina dianggap sebagai tindakan antisemitik? Apakah mendukung hak-hak asasi manusia orang Palestina juga merupakan gerakan antisemitik?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kontroversi dan perdebatan tentang batasan definisi anti-semitisme inilah yang menjadi pusaran isu bahwa Jeremy Corbin dianggap melukai perasaan orang-orang Yahudi di penjuru United Kingdom.

Saya melihatnya bahwa kontroversi antisemitisme di Inggris terkoneksi langsung dengan dinamika politik domestik dan ketegangan politik internasional. Perdebatan antisemitisme mengemuka di ruang akademik sekaligus perbincangan politik. Bagaimana dengan di negeri kita tercinta Indonesia ini?

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top