Hosiyanto Ilyas
Penulis Kolom

Alumni Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Miftahul Ulum Bangkalan. Pernah menimba ilmu di Ponpes Attaroqqi Karongan Sampang. Pegiat Bahtsul Masail LBM NU.

Hidup Fakir Ala Sufi

Whatsapp Image 2020 07 12 At 13.56.07

Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin ‘Abd Al-Qadir Syamsuddin Ar-Razi Al-Hanafi dalam karyanya Hada’iq Al- Haqa’iq Fi Al-Mau’idhah Wa Al-Tashawuf (Juz, 1 Hlm. 35) mengulas tentang arti fakir yang dijalani oleh para ulama sufi. Prinsip para ulama sufi hidup dalam kefakiran walaupun sebagian dari mereka mempunyai harta, akan tetapi dalam hati mereka tidak ada rasa cinta terhadap kemewahan harta yang dimilikinya.

Fakir menurut ahli bahasa adalah orang yang mempunyai sesuatu, akan tetapi sangat sedikit dan tidak bisa memenuhi kebutuhannya. Sedangkan menurut ahli hakikat fakir adalah tidak mempunyai sesuatu kecuali hanya Allah atau ia tidak butuh sesuatu kecuali hanya butuh kepada Allah.

Selanjutnya Syekh Muhammad bin Abi Bakar bin ‘Abd Al-Qadir Syamsuddin Ar-Razi Al-Hanafi membagi tingkatan fakir atas tiga bagian: Pertama, fakirnya makhluk kepada khalik (sang pencipta) sebagaimana firman Allah SWT:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِ ۚوَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

Artinya: Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji. (Q.S. Fathir:15)

Kedua, fakirnya orang awam (umum) yaitu, tidak mempunyai harta benda dan modal untuk membuka usaha dalam berniaga. Fakirnya orang awam (umum) terkadang bisa berubah menjadi kaya apabila ia sukses dalam usaha yang ia jalankan. Ketiga, fakirnya hati atau jiwa, fakir yang ketiga ini Nabi Muhammad SAW memohon kepada Allah SWT agar dijaukan darinya, karena fakir hati dan jiwa selalu merasa kurang walaupun bergelimang dengan harta benda. Nabi Muhammad SAW bersabda:

Baca juga:  Kisah Umat Nabi Isa yang Dihapus Amalnya

لَوْ كَانَ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لاَبْتَغَى ثَالِثًا، وَلاَ يَمْلأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Artinya: “Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu ia masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari )

Apabila seorang hamba sabar atas kefakiran dan bersyukur atas pilihan yang Allah tetapkan kepadanya, menjaga agamanya, menyembunyikan kefakirannya, merasa cukup dalam kefakiran dan takut akan hilangnya nikmat kefakiran seperti takutnya orang kaya akan hilangnya kenikmatan kekayaannya. Orang yang mempunyai prinsip yang demikian adalah orang fakir yang sesungguhnya, dan ia adalah orang fakir yang tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ الأَغْنِيَاءِ بِنِصْفِ يَوْمٍ خَمْسِمِائَةِ عَامٍ

Artinya: “Orang-orang beriman yang fakir kelak akan masuk surga terlebih dahulu setengah hari yang setara 500 tahun lamanya daripada orang kaya.” (HR Ibnu Majah)

Dalam kitab Halatu Ahli Al-Haqiqah Ma’allahi Ta’ala (Juz 1, Hlm. 20) Syekh Hasan Al-Bashri membagi tiga golongan sufi yang hidup dengan kefakiran, akan tetapi adakalanya mereka dianugerahi kekayaan, tetapi dalam hati mereka tidak terbesit sama sekali rasa cinta terhadap gemerlapnya kenikmatan dunia. Adapun golongan tersebut sebagai berikut:

Baca juga:  Kisah Imam Al-Qusyairi Menyembuhkan Anak Sakit Setelah Memperoleh ‘Resep’ Lewat Mimpi

Pertama, lelaki yang selalu memfokuskan diri untuk beribadah, aktivitas beribadah sudah mendarah daging baginya, dan ia percaya bahwa Allah akan memberikan rezeki yang akan mencupinya, ia percaya akan janji Allah. Sehingga ia tidak menyibukkan diri untuk bekerja mencari harta benda. Langit sebagai atapnya dan bumi sebagai lantainya, ia tidak perduli lagi apakah ia dalam keadaan lapang dan melarat, yang terpenting baginya adalah beribadah kepada Allah sampai ajal menjemputnya. Lelaki seperti ini sangat jarang sekali untuk kita jumpai di muka bumi ini.

Kedua, lelaki yang tidak sabar seperti sabarnya lelaki yang pertama, ia menekuni pekerjaan untuk menyambung hidupnya, memakai pakaian untuk menutup auratnya, mempunyai rumah untuk berteduh, dan mempunyai istri yang dinafkahinya, akan tetapi ia takut kepada tuhannya dan mengharap rahmat dari tuhannya.

Ketiga, lelaki yang hidup mewah, ia membangun gedung-gedung yang kokoh, mempunyai tunggangan yang bagus, dan mempunyai asisten rumah tangga, kelak ia tidak akan mendapatkan kenikmatan yang sempurna di akhirat, karena telah dibagikan di dunia, kecuali Allah SWT mengasihinya. Wallahu A’lam Bissawab.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
3
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
1
Terinspirasi
3
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top