Sedang Membaca
Berharap Tuah Singa-Singa Muda
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Berharap Tuah Singa-Singa Muda

Nur Shoib Banari

Sudah tak terbilang berapa kali diskusi, seminar, workshop, FGD, hingga obrolan di grup-grup Watshapp dilakukan untuk membincang fenomena dakwah agama para ustaz baru yang cenderung abai terhadap pesan dan ajaran agama yang rahmatanlilalamin.

Biasanya formulasi yang telah disepakati dan dirumuskan hanya sebatas menjadi wacana belaka, hingga mentok di tingkat eksekusinya. Alasannya pun beragam. Dari soal ketidakjelasan siapa yang punya otoritas, kapan memulainya, bagaimana perangkat dan sumberdayanya dan lain sebagainya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Padahal kondisi jagat nyata dan maya sudah menuntut untuk “turun tangan” segera. Sudah tidak sedikit pula terjadi persinggungan antar kelompok hanya gara-gara berbagai ceramah agama para ustaz baru yang cenderung provokatif dan sering menyinggung kelompok lain.

Betapa ruang dakwah akhirnya penuh sesak dengan ceramah para ustaz yang tidak “empan papan”, yang mudah menyepelekan pihak lain, asal berbeda, dan main hantam kanan-kiri tanpa melihat banyak perspektif beragama, bahkan tanpa dasar ilmu yang memadai. Bahkan ada yang spesialisasinya hanya mengumbar “dalil” untuk membidah-kafirkan sesama yang berbeda. Astaghfriullah!

Dan anehnya lagi, ceramah-ceramah yang model seperti ini mudah sekali viral dan digandrungi masyarakat luas.

Mereka yang hadir di majlis agama ataupun yang hanya menikmati berbagai ceramah agama di media sosial soalah seolah tak peduli tentang materi yang disampaikan, siapa sebenarnya penyampainya, bagaimana kapasitas keilmuannya, apalagi hingga menelusuri sanad keilmuannya.

Baca juga:  Sayid Abdullah Lombok: Keluarga Suci dan Kolonisasi

Melihat gejala yang seperti ini, awalnya saya pesimis kok dakwah agama di Indonesia makin muram saja.

Tetapi setelah munculnya fenomena “singa-singa” muda seperti Gus Baha, Gus Muwafiq, Gus Nadir, Gus Reza, Gus Kautsar, Gus Ghofur dan Kiai-Kiai muda lainnya, maka optimisme itu seperti lahir kembali. Namun, saya juga menyimpan cemas, karena beliau-beliau ini tugas utamanya bukan ceramah di media sosial, tapi di masyarakat langsung. Yang membantu ceramah-ceramahnya bisa ditonton dengan mudah adalah anak-anak muda yang bekerja secara probono dan atas dasar kecintaan.

Beliau-beliau yang memang punya otoritas untuk menyampaikan pesan-pesan agama ini akhirnya berkenan “turun gunung” dan hadir di ruang publik untuk memberikan pencerahan kepada umat.

Berbagai video ceramah dan tulisan yang mencerahkan telah diupload di youtube dan media sosial lainnya. Akhirnya tidak kalah viral dan menarik perhatian banyak kalangan juga.

Masyarakat disuguhi corak dan pemikiran keagamaan yang inklusif dan moderat (tawasut) dengan penguasaan ilmu agama dan berbagai referensi yang sangat memadai.

Tidak asal kesan asal comot dalil, apalagi untuk kepentingan politik partisan. Tidak ada hujatan atau makian. Justru yang nampak adalah pesan dan ajaran agama yang menyejukkan yang disampaiakan dengan humor-humor segar ala pesantren.

Baca juga:  Kiai Abdul Wahid Hasyim dan Penerima(an) Pancasila

Akhirnya kita berharap masyarakat Indonesia semakin cerdas mencerna dakwah agama yang didasari ilmu dan sanad keilmuan yang jelas dengan yang tidak. Mana ceramah agama yang santun dan damai dengan yang hanya mengumbar kebencian dan caci maki saja.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top