Sedang Membaca
Hikmah: Ajalmu Pendek Namun Angan-Anganmu Panjang
Hajriansyah
Penulis Kolom

Penulis Sastra. Meminati seni dan dunia sufi

Hikmah: Ajalmu Pendek Namun Angan-Anganmu Panjang

Tubuh dan Keyakinan adalah Medan Perang

“Tidak ada (dosa) yang kecil jika kau berhadapan dengan Keadilan-Nya, dan tidak ada dosa besar jika kau menghadap Karunia-Nya.”

لَاصَغِيْرَةَ إِذَا قابَلَكَ عَدْلُهُ وَلاكَبِيْرَةَ إذَا وَاجَهَكَ فَضْلُهُ

Kalau sekiranya Allah menjalankan segenap keadilan-Nya kepada semua makhluk, maka takkan ada orang yang lepas dari siksa-Nya. Yang demikian, kata pengarang Futuhul Arifin, karena semua orang mempunyai dosa dan kesalahan. Belum lagi jika menghitung semua nikmat pemberian Tuhan–dari mata, telinga, akal, tangan, kaki, dll.–maka tak cukup rasa syukur kita kepada-Nya, dengan timbangan paling ringannya dosa seseorang sekalipun, sementara dengan semua nikmat yang ada itu pulalah kita melakukan dosa atau maksiat.

Namun Tuhan bersifat Rahman dan Rahim, pengampun dan pemurah, maha kaya dan maha mulia, Dia mengganda-gandakan balasan amal yang sedikit. Dia juga memaafkan dan mengampuni kesalahan siapa saja yang memohon ampun kepada-Nya, dosa kecil maupun besar. Dia menyediakan surga dan segala kenikmatan yang tak ada di dunia ini untuk mereka yang taat dan berbuat kebaikan. Maka, cukuplah itu jadi alasan kita bersegera dalam memohon ampun atas segala dosa, dan/lalu beramal untuk menghapus kesalahan yang lalu. Allah berfirman, “Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapus kesalahan-kesalahan” (Q.S. Hud: 114).

Apabila Keadilan Tuhan tampak bagi siapa-siapa saja yang dimurkai-Nya, ketika itu lenyaplah segala kebaikan yang tak seberapa itu. Dosa-dosa kecil segera menjadi besar, dan kemurkaan-Nya amat berat. Namun sebaliknya pula, tatkala Rahmat, Kelebihan-Nya tampak kepada siapa-siapa yang dicintai-Nya, lenyaplah keburukan-keburukan dan dosa-dosa besar segera menjadi kecil di hadapan-Nya Yang Mahapemurah. Tak peduli sebesar apapun dosa seorang hamba, ketika ia mendekat dan memohon maaf, Allah akan memaafkannya.

Baca juga:  Kisah Thalut, Jalut, dan Daud

Ini suatu pengenalan, bahwa Allah memiliki dua sisi, sifat-sifat Keagungan dan Keindahan. Sifat (Nama) Keagungan-Nya meliputi al-Malik, al-‘Aziz, al-Jabbar, al-Qahhar, al-Mudzil, al-Jalil, dst; sedangkan yang mewakili Keindahan-Nya di antaranya ar-Rahman, ar-Rahim, al-Muhaimin, al-Mushawwir, al-Wahhab, dll. Maka, seyogyanya kita selalu memperhatikan dua hal ini secara proporsional seimbang. Tak dapat kita hanya mengutamakan, mengharap pada sifat Keindahan saja, lalu menjadi lalai dan menyerahkan diri sepenuhnya tanpa disiplin dan upaya yang bersungguh-sungguh untuk menghindari kemurkaan-Nya. Atau sebaliknya, terlalu berlebihan takut dan khawatir, sehingga terlalu kaku dalam memandang kemuliaan-Nya, lupa pada Kasih-sayangNya yang meliputi segala perbuatan hamba-Nya.

Keseimbangan ini pula yang menjadi dasar kita bersikap kepada sesama maupun sekitar dalam konteks hubungan horizontal. Tidak harus selalu bersikap sopan dan seakan percaya segalanya baik-baik saja, padahal kita tahu selalu ada sisi paradoks kehidupan. Kewaspadaan, kehati-hatian juga baik dalam sikap interaksi bersama orang lain. Sehingga, dengan demikian, kita mampu tetap mengembangkan husnuzzon dalam rangka kebaikan amar ma’ruf dan nahi munkar. Kita takkan mudah terjebak tipu daya dunia, bisikan syetan yang memperdaya, dan kita tetap bisa mengembangkan sikap keterbukaan yang elegan sekaligus egaliter kepada siapa saja. Dan pada akhirnya, tak ada yang kecil dan tak ada yang besar, yang ada hanyalah upaya terus menerus menuju Kesempurnaan yang melekat pada segala bentuk ciptaan-Nya.

Baca juga:  Pesantren, Ilmu Hikmah, dan Perdukunan (1): Pesantren, Jawa, dan Ortodoksi Islam

Upaya itulah yang telah ditempuh orang-orang terdahulu, dari para sufi yang mengembangkan sikap muhasabah diri. Ibrahim bin Adham, Fudhail bin Iyadh, Harits al-Muhasibi, dll, yang terus mawas diri dan berbuat yang terbaik untuk sesama. Di antara pesan Fudhail bin Iyadh adalah otokritik pada dirinya sendiri, yang tetap penting hingga hari ini untuk kita renungkan:

“Wahai, kasihannya engkau (diri). Kau sesungguhnya berbuat buruk tapi merasa berbuat baik, kau tidak tahu tapi merasa selevel ulama, kau kikir tapi merasa dermawan, kau pandir tapi merasa cerdas, ajalmu pendek namun angan-anganmu panjang.”

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top