Sedang Membaca
Yahudi dan Islam di antara Propaganda Antisemitisme
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Yahudi dan Islam di antara Propaganda Antisemitisme

Munawir Aziz

Seorang pemuda bersenjata memasuki sinagoge di Jerman bagian timur, 9 Oktober 2019 lalu. Pemuda 27 tahun ini membunuh dua orang, dalam aksinya pada momentum Yom Kippur, hari suci orang Yahudi. Pemuda pembunuh ini diduga ekstrimis berideologi sayap kanan, yang menebar kebencian terhadap orang-orang Yahudi, muslim dan imigran.

Antisemitisme tumbuh subur dalam beberapa dekade terakhir di Eropa. Bahkan, aksi-aksi pelecehan, kekerasan dan intimidasi bernada antisemitik dialami oleh pemuda-pemuda Yahudi. Dibandingkan dengan generasi orang tua mereka, ancaman antisemitik yang dialami generasi muda Yahudi lebih meningkat. Mengapa hal ini bisa terjadi?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dalam risetnya tentang antisemitisme di Eropa, Gunther Jikeli mengungkapkan ada beberapa kategori bagaimana kebencian terhadap orang-orang Yahudi tumbuh subur. Dalam buku terbarunya ‘European Muslim Antisemitism’, Gunther Jikeli mengungkapkan pengaruh kebencian terhadap orang Yahudi di antara komunitas-komunitas muslim di Eropa.

Dalam narasi risetnya, Gunther Jikeli memandang bahwa antisemitisme di Eropa terbagi dalam beberapa kategori. Latar belakang komunitas, kondisi komunitas, persebaran informasi, selaligus kondisi geopolitik turut menjadi penyebab tumbuhnya antisemitisme ini.

Gunther Jikeli membagi kategori antisemitisme dalam empat bagian: Pertama, antisemitisme klasik. Dalam kategori ini, antisemitisme tumbuh dari pengaruh teori konspirasi, serta stereotype terhadap orang-orang Yahudi yang lahir dari teori-teori kebencian.

Kedua, antisemitisme yang terkait dengan citra Israel. Kondisi geo-politik internasional berpengaruh pada gelombang antisemitisme di Eropa. Konflik Israel-Palestina menjadi point penting dalam konteks ini. Di samping kebijakan-kebijakan Israel yang berpengaruh pada dunia Islam, khususnya di kawasan Timur Tengah.

Baca juga:  Kacamata Kuda

Ketiga, pandangan negatif terhadap Yahudi, yang dipengaruhi dari teologi Islam. Seringkali ada pendapat dari kelompok Muslim, bahwa ‘Islam membenci Yahudi’. Bagi sebagian pemuda Muslim di Eropa, khususnya di Jerman, Prancis dan United Kingdom, pandangan ini masih sering nampak pada perbincangan kaum muda, serta pendapat-pendapat mereka di ruang publik.

Keempat, kebencian terhadap Yahudi. Kategori ini merupakan kelompok orang membeci ‘Yahudi karena dia Yahudi’. Tidak terkait dengan politik, teologi agama, maupun teori-teori konspirasi dari narasi antisemitisme klasik.

Riset Jikeli berguna jika diterapkan untuk klasifikasi antisemitisme. Namun, analisanya terhadap antisemitisme yang berakar di kalangan pemuda muslim, tidak sepenuhnya diterima. Karena, tindakan-tindakan antisemitik tidak semuanya dilakukan oleh komunitas muslim. Justru, dalam beberapa kasus, orang-orang muslim di Eropa juga menjadi korban intimidasi, kekerasan bernuansa Islamophobia. Kasus yang jelas, sentimen negatif muncul terhadap komunitas imigran, Yahudi dan muslim. Ketiga komunitas ini, kerap menjadi sasaran kekerasan, baik sebagai minoritas maupun karena propaganda media.

Dalam survey terkait kebangkitan antisemitisme di Eropa, media CNN bekerjasama ComRes merilis data betapa isu-isu terkait Holocaust dan imigran berpengaruh pada meningkatnya kebencian terhadap orang-orang Yahudi.

CNN/ComRes menggelar survey dengan melakukan interview terhadap lebih dari 7.000 warga Eropa lintas negara, dengan lebih dari 1000 responden di tiap negara Austria (1007 orang), Prancis (1006), Jerman (1012), Great Britain (1010), Hungaria (1019), Swedia (1018) dan Polandia (1020).

Dari survey ini, 1 dari 20 responden belum pernah mendengar tentang tragedi Holocaust. 1 dari 5 responden percaya bahwa anti-Semitism merupakan respon atas apa yang dilakukan orang Yahudi tiap harinya. Sementara, lebih dari seperempat responden, mengungkapkan kebencian terhadap orang-orang Yahudi karena pengaruh mereka di bidang ekonomi dan finansial.

Baca juga:  Mengurai Era Kenabian di Tanah Jawa

Di sisi lain, 1/5 responden mengungkapkan pengaruh media dan politik dalam menentukan sikap mereka terhadap orang-orang Yahudi, serta pada saat yang sama perspektifnya terhadap anti-semitisme. Sedangkan, yang mengagetkan, sepertiga dari orang-orang Eropa yang menjadi responden survey ini, mengakui hanya sedikit informasi yang diketahui atau bahkan tidak sama sekali terhadap aksi Holocaust—tragedi kemanusiaan berupa terbunuhnya lebih dari sepuluh juta orang Yahudi oleh rezim Nazi yang dipimpin Adlof Hitler (1889-1945) pada kisaran tahun 1930-1940an.

Situasi yang sama terjadi di antara pemuda usia 18-34 Prancis: bahwa 1 dari 5 responden yang disurvey CNN mengaku tidak tahu peristiwa Holocaust yang terjadi pada paruh pertama abad XX. Di Austria, 12% pemuda yang menjadi responden, menyatakan tidak mengetahui peristiwa kelam berdarah yang disebabkan kekejian Adlof Hitler. Sebuah hal yang aneh, mengingat Hitler lahir di Austria, tumbuh sebagai remaja di negeri itu.

Konteks politik internasional berpengaruh pada meningkatnya antisemitisme di Eropa. Situasi politik dan kebijakan Israel—terutama pada keamanan Timur Tengah dan masa depan konflik dengan Palestina—menjadi penyebabnya. Dari data survey, 54% responden menyatakan betapa dinamika politik internasional dan kebijakan Israel, berpengaruh pada persepsi terhadap orang Yahudi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Survey CNN/ComRes yang digelar pada 7 – 20 September 2018 ini juga melaporkan pandangan-pandangan orang Eropa terhadap minoritas. Sekitar 10% orang Eropa menyatakan ketidaksukaannya terhadap orang Yahudi. Sementara 16% punya pandangan negatif terhadap LGBT+, serta 36% tidak suka terhadap imigran. Di sisi lain, sekitar 37% orang Eropa memiliki persepsi negative terhadap komunitas muslim.

Baca juga:  Jarwo Dhosok dan Gejala Cocoklogi

Sementara, laporan dari Institute for Jewish Policy Research (IJPR), mengungkapkan tren meningkatnya insiden antisemitisme terhadap pemuda-pemuda Yahudi di Eropa. Sekitar 40 % pemuda Yahudi di Eropa, menginginkan pindah dari negara atau tempat tinggalnya disebabkan aksi-aksi antisemitik yang dialami.

Laporan dari survey IJPR yang melibatkan 2700 pemuda Yahudi Eropa dalam kisaran umur 16 sampai 34 tahun, mengungkap meningkatnya problem yang lahir dari antisemitisme. Aksi-aksi vanndalisme dengan simbol-simbol Swastika bermunculan di beberapa kota Eropa, khususnya di Prancis.

Di Inggris, pihak Kepolisian menerbitkan larangan antisemitik terhadap anggota Partai Buruh, khususnya dalam konteks perdebatan politik. Sementara di Jerman, Menteri Pemerintahan menghimbau orang-orang Yahudi tidak memakai kippah di ruang publik, untuk mengurangi kriminalitas bernada antisemitik (the Washington Post, 6 Juli 2019).

Pemuda-pemuda Yahudi kini mengalami ancaman bernuansa antisemitis yang mendorong mereka ingin pidah dari lingkungan asalnya. Energi kebencian ini juga menerpa komunitas muslim dan kelompok imigran di beberapa kawasan. Meningkatnya populisme politik serta tindakan ekstrimis berideologi sayap kanan turut memompa kebencian terhadap minoritas di Eropa. Kini, dunia membutuhkan kerja perdamaian bersama secara global untuk menebarkan cinta kasih untuk masa depan kemanusiaan kita. (RM)

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top