Sedang Membaca
Santri Par Excellence dari Lombok
Penulis Kolom

Berasal dari Dompu, Nusa Tenggara Barat. Saat ini menjadi penasehat YPP Nurul Hikmah NWDI Kadindi dan pengajar di STKIP Al-Amin Dompu.

Santri Par Excellence dari Lombok

Images (2)

Buku Peradaban Sarung (2018) karya Ahmad Dofir Zuhry merupakan sumbangan literatur yang sangat berharga. Kehadirannya kian menegaskan bahwa peran santri dalam membangun Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Santri, yang tidak bisa dilepaskan dari pesantren, dalam kiprahnya ditinjau dari beragam sudut pandang. Mulai dari sejarah perjuangan melawan penjajah pada masa kolonial hingga peranan mengisi dan terus memaknai arti kata merdeka yang kini telah mencapai usia tujuh puluh empat tahun bagi Indonesia.

Kiranya bukan sesuatu yang berlebihan apabila pandangan semacam itu terlontar. Tengok saja lingkungan sekitar, kita akan banyak menemukan pesantren di mana aktifitas merawat nalar tetap berlangsung. Bukan saja di area perkotaan, melainkan juga di wilayah-wilayah yang dikategorikan pelosok maupun daerah tertinggal. Poin terakhir ini justru menjadi nilai lebih yang dimiliki pesantren.

Dalam kaitannya dengan hal itu, Nahdlatul Wathan (NW) sebagai ormas Islam terbesar di Nusa Tenggara Barat (NTB) yang didirikan tahun 1953 mampu mengambil peran sebagai ormas yang tidak saja ikut dalam berjuang melawan penjajah, juga dalam mengisi kemerdekaan, khususnya menyangkut geliat membangun madrasah. Maulanasyaikh, TGH. Zainuddin Abdul Majid adalah sosok yang berada di balik itu semua. Tentu dengan tidak mengabaikan peran para sesepuh dan pendahulu yang turut berjuang bersama beliau.

Sekembalinya dari Makkah, Maulanasyaikh pulang dan mengabdikan diri untuk membagun daerahnya. Sebelum itu, beliau menempuh pendidikan di Madrasah As-Shaulatiyah di bawah asuhan Maulanasyaikh Hasan Muhammad Al-Massyath, Syaikh Salim Rahmatullah, dan Syaikh Sayyid Muhammad Al-Kuthbi dan beberapa lainnya. Ia bahkan dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Pada tahun 1934 M, beliau mulai merintis pesantren dengan nama Al-Mujahidin dengan model halaqah. Embrio itu kemudian tumbuh menjadi Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI) pada tahun 1937. Hingga kini NWDI terus mengalami perkembangan.

Baca juga:  Kapan Sejarah Kemerdekaan Indonesia Harus Mulai Ditulis

Tidak hanya bagi kalangan laki-laki, Maulanasyaikh sadar betul akan pentingnya peran perempuan dalam mengisi kemerdekaan. Mengapa demikian? Karena perempuan lumrah dikenal sebagai  pendidik bagi generasi berikutnya. Mungkinkah peranan itu terlaksana manakala pendidik justru banyak yang tidak terdidik? Saya kira inilah yang menjadi dasar dibangunnya madrasah bagi kalangan perempuan, yakni Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI) pada tahun 1943 M yang dikenal pula dengan nama Madrasah Aliyah Muallimat Nadlatul Wathan Pancor. Tidak berhenti sampai di situ, madrasah hingga perguruan tinggi lain bermunculan kemudian seiring perkembangan waktu.

Apakah pesantren dan madrasah-madrasah yang dibangun Maulanasyaikh hanya terpusat di Pancor, Lombok Timur? Bagaimana dengan daerah lain di sekitarnya yang notabene masih tertinggal? Mendapat perhatiankah?

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana seorang petani bekerja? Setelah menebar bibit, masing-masing lalu tumbuh beranak-pinak menghasilkan tunas-tunas baru, terkait dalam satu rumpun, lalu perlahan menyebar ke berbagai penjuru. Seperti itu pulalah para santri, murid dari Maulanasyaikh bekerja.

Di daerah Sumbawa Nusa Tenggara Barat Misalkan, sebuah pulau dua kali lebih besar dari Pulau Lombok, menyimpan sejarah letusan dahsyat Tambora (1815) mengubur beberapa kerajaan sekitarnya, menjadikan Eropa gelap gulita, dan menghentikan kedigdayaan Kaisar Prancis, Napoleon Bonaparte; semula adalah daerah tertinggal, minim akses pendidikan, dan kurang tersentuh. Walaupun, sebelum letusan terdahsyat dalam sejarah itu, lereng Tambora tercatat menyimpan kehidupan ekonomi yang cukup maju dan akses dengan dunia luar yang cukup luas. Seperti dicatat Imade Geria (2015), arkeolog Bali yang melakukan penelitian di wilayah Gunung Tambora. Namun, pasca letusan terjadi semuanya luluh lantak menjadi abu.

Baca juga:  Berkanjang di Ruang Ambang: Ronggawarsita dan Kesendiriannya

Santri Maulanasyaikh tidak berdiam diri. Mereka masuk ke wilayah Sumbawa membangun kehidupan, tepatnya membangun peradaban. Mereka  merajut jejaring kultural, membangun surau, mendirikan masjid, dan madrasah.

Saya ingat betul bagaimana madrasah-madrasah rintisan di daerah Sumbawa ini mula-mula didirikan. Dengan bahan seadanya dari material kayu beratap alang-alang, kelas dibangun dua hingga tiga lokal saja jumlahnya. Jangan bayangkan fasilitas mewah! Ini daerah terpencil, bukan kota! Para murid datang dengan pakaian seadanya. Sering, seragam pramuka disilang dengan seragam merah putih. Ikat pinggang diganti rapia. Nyeker alias tanpa alas kaki, jangankan sepatu. Anda bisa bayangkan bagaimana hasilnya, bukan? Saya tidak mengarang cerita. Ini fakta. Dan saya tekankan biaya di madrasah ini gratis! Loh, gratis? Iya, gratis. Tidak seperti sekolah negeri. Belum lagi uang siluman untuk bisa masuk ke sana. Ah, anda seperti tidak tau saja.

Bagaimana para guru atau ustaz di sana menyambung hidup? Di medan inilah jiwa mengabdi benar-benar diuji. Pertanyaannya belum dijawab! Para guru atau ustaz ada yang berdagang, bertani, bakan menjadi buruh tani. Mereka ini banyak yang lulusan MA atau Ma’had, tidak memiliki ijazah Strata satu (S1). Peliknya, mereka ini disepelekan negara. Beberapa waktu lalu ada kabar bahwa orang seperti mereka tak diberi kelas mengajar lagi. Padahal orang yang tergolong seperti mereka telah mengabdikan diri bertahun-tahun untuk kemajuan nusa dan bangsa.

Baca juga:  Gerakan Masyarakat Sipil: Asa di Tengah Pandemi Covid-19

Jauh sebelum program Indonesia Mengajar lahir tahun 2009, para santri telah lebih dalu merintis membangun madrasah di sana. Dan tentunya keberadaan mereka bukan sebulan dua bulan atau setahun dua tahun. Mereka mukim, membangun gubuk, dan menata pondasi ekonomi. Itulah geliat perjuangan para santri. Tentu kontras dengan apa yang terjadi di “belahan bumi” lain, bukan? Jika dicermati sulit menemukan komitmen perjuangan semacam itu. Pendidikan seolah telah kehilangan marwah! Seperti mengalami disorientasi. Bukan seperti, tapi itulah yang terjadi.

Majalah Intisari pernah menggambarkan tentang bahaya disorientasi ini. Di sebuah lokasi yang menjadi tempat bertelur penyu, pada suatu waktu dipasang lampu berderet di sekitar pantai. Kalau tidak salah, berhubungan dengan geliat pariwisata. Biasanya saat telur-telur itu menetas, penyu yang masih kecil segera menuju laut, berenang, dan mengarungi samudra. Saat dewasa dan musim kawin tiba, ia akan kembali meletakkan telurnya di sana. Tapi taukah anda apa yang terjadi? Bayi penyu yang baru menetas akan mencapai air mengikuti panas yang bersumber dari laut. Karena di sekitanya dipasang banyak lampu, bayi penyu yang baru menetas malah menuju daratan mencari sumber panas yang dihasilkan oleh lampu. Akibatnya karena tak menemukan air, penyu-penyu tersebut malah banyak yang mati.

Relevansinya ialah, jika kaum “terdidik” mengalami disorientasi, itu menjadi sinyal kemajuan akan terhenti. Tapi saya masih menyimpan harapan karena selama ini santri masih tetap ada! Bersama yang lain, mereka masuk dalam berbagai ruang, berkamuflase dalam berbagai rupa, dan menjadi magnet berbagai latar kehidupan. Wallahu a’lam.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top