Sedang Membaca
Ulama Nahwu Garis Lucu: Menilik Kisah-Kisah Unik Seputar Nahwu
Alfan Jamil
Penulis Kolom

Alumni PP. Nurul Jadid dan Ma'had Aly Nurul Jadid Jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh. Telah menyelesaikan S2 di Universitas Nurul Jadid. Aktifitas: Dosen Kajian Fiqh Ulama Nusantara di Ma'had Aly Nurul Jadid dan pengajar di PP. Darul Lughah Wal Karomah Kraksaan.

Ulama Nahwu Garis Lucu: Menilik Kisah-Kisah Unik Seputar Nahwu

Buku Ulama Nahwu Garis Lucu

Ilmu nahwu merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang sangat populer dalam khazanah Islam. Tak terkecuali di bumi Nusantara, hampir seluruh pesantren yang ada mengkaji ilmu nahwu. Dalam perjalanannya, pembelajaran ilmu nahwu tidak selalu berjalan mulus, banyak santri yang mengeluh ketika proses pembelajaran berlangsung.

Tentu, hal ini bisa menimbulkan kesan dan asumsi bahwa nahwu itu adalah ilmu yang sulit, kaku, dan serius. Padahal tidak demikian, di balik kesan itu ternyata ilmu nahwu juga menyimpan banyak humor, banyak kisah yang mengundang tawa, dan akan selalu membuat anda tersenyum. Bernama Musyfiqur Rahman—seorang alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep—mencoba menepis kesan-kesan negatif akan ilmu nahwu dengan menghadirkan beragam kisah unik dalam bukunya yang berjudul “Ulama Nahwu Garis Lucu”.

Isi Buku Ulama Nahwu Garis Lucu

               Pembahasan dalam buku Ulama Nahwu Garis Lucu terdiri dari lima bagian: Bagian I, membahas asal-usul ilmu nahwu dalam berbagai riwayat. Pada bagian ini Musyfiqur Rahman menyebutkan lima riwayat yang menjadi rujukan terkait asal-usul ilmu nahwu. Riwayat pertama yaitu kisah kegelisahan Khalifah Ali bin Abi Thalib melihat fenomena rusaknya bahasa Arab. Riwayat kedua, kisah Khalifah Umar dan seorang badui yang kritis. Riwayat ketiga, kisah Abu al-Aswad melaporkan kerusakan bahasa Arab kepada Gubernur Ziyad. Riwayat keempat, Kisah Abu al-Aswad dan putrinya. Riwayat kelima, kisah Khalifah Ali bin Abi Thalib dan kesalahan fatal seorang Badui.

Bagian II berisi lelucon-lelucon nahwu yang terjadi dikalangan orang biasa. Terdiri dari 37 kisah menarik nan unik, salah satunya berjudul “Perbedaan Kijang yang Makrifah dan Kijang yang Nakirah”. Pada masa Daulah Abbasiyah, dikenal sosok nyentrik bernama Abu al-‘Ibar. Dia seringkali disebut sebagai orang dungu tapi jenius. Meski tingkah polahnya terkesan ugal-ugalan, ia kerap kali memicu tawa karena hal-hal yang tak terduga keluar dari mulutnya. Pada suatu ketika Abu al-‘Ibar berjumpa dengan Abu al-‘Abbas Tsa’lab—salah satu ulama nahwu hebat di masanya. Mengetahui dihadapannya ada orang kocak yang nyentrik, Abu al-‘Abbas mengajukan pertanyaan spontan: “Wahai Abu al-‘Ibar, menurutmu kijang (dalam bahasa Arab الظَّبْيُ) itu makrifah (definit) atau nakirah (indefinit)?”. Abu al-‘Ibar malah menjawabnya dengan sangat lucu, “Ya tergantung, kalau kijang itu sudah dibakar dan dihidangkan di atas meja, maka ia makrifah, tetapi jika kijang itu masih di tengah padang sahara, jelas ia masih nakirah.”

Baca juga:  ‘Aqidah Ibnil Lasami: Nazam Tauhid Karangan KH. Hakim Masduqi Lasem (1961)

Bagian III berisi lelucon-lelucon nahwu dari kalangan para penguasa. Bagian ini memuat 24 kisah yang di antaranya berjudul “Salah Bertutur Kata, Khalifah Hilang Wibawa”. Pada suatu hari, Sa’id bin Salam bin Qutaibah—seorang ahli hadits dan pakar bahasa—mendatangi istana Khalifah Harun ar-Rasyid. Ia begitu terpukau pada wibawa dan kharisma khalifah ke-5 Daulah Abbasiyah ini. “Ketika tiba-tiba aku dengar ada yang salah pada ucapannya, seluruh wibawa dan kharismanya hilang di mataku,” katanya.

Bagian IV berisi lelucon-lelucon nahwu di kalangan para pakar bahasa. Bagian ini memuat 30 kisah, salah satunya berjudul “Jangan Paksa Orang Kelaparan Berbahasa dengan Baik dan Benar”. Suatu hari, al-Ashma’i mendapati kawasan yang dilanda paceklik. Para penduduknya pun mengalami bencana kelaparan. Lalu dari tengah padang pasir, muncul seorang laki-laki yang tampak sangat kelaparan, tampangnya seperti batang pohon kering kerontang. Namun lucunya, al-Ashma’i bukan langsung menolong nya, melainkan menanyakan sesuatu tentang al-Qur’an.

“Apakah kamu bisa membaca al-Qur’an?” tanya al-Ashma’i. “Tidak!” jawabnya lesu. “Mau aku ajarkan?” tanya al-Ashma’i. “Terserah kamu saja,” jawabnya. “Oke. Kalau begitu, coba bacalah ayat قُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ (Katakanlah, “Wahai orang-orang kafir”).” Al-Ashma’i mencoba membimbingnya. Namun jawaban laki-laki itu sangat mengejutkan, “كُلْ يَا أَيُّهَا الكَافِرُوْنَ (Makanlah, Wahai orang-orang kafir).” Mendengar hal itu al-Ashma’i langsung menegurnya, “bukan كُلْ tapi قُلْ.” Lalu lelaki itu menimpalinya, “Aku sudah mengatakannya (كُلْ). Sekarang mulutku tidak bisa mengatakan قُلْ, sebab aku lagi kelaparan.”

Baca juga:  Puasa dan Bahasa

Bagian V berisi kisah orang-orang yang “Sinis” pada ilmu nahwu. Bagian ini memuat memuat 6 kisah, salah satunya berjudul “Ilmu Nahwu Dimulai dari Kebohongan”. Pada suatu hari, Abu Ja’far al-Samsar duduk bersama Bisyr bin al-Harits, seorang ahli hadits yang zuhud. Di tempat tersebut hadir juga seorang ahli hadis bernama al-‘Abbas bin Abdul Adzim al-‘Anbari.

Tiba-tiba al-‘Abbas memantik percakapan kepada Bisyr bin al-Harits: “Wahai Abu Nashr (Bisyr bin al-Harits), kamu termasuk orang yang ahli al-Qur’an dan pencatat hadits, tapi mengapa kamu tidak mendalami bahasa Arab sehingga kamu tidak terjebak dalam kesalahan gramatika bahasa Arab?” Bisyr langsung menjawab, “Wahai Abu al-Fahdl (al-‘Abbas bin Abdul Adzim al-‘Anbari), lalu siapa yang akan mengajariku ini?”,  “Aku, wahai Abu Nashr,” Jawab al-‘Abbas mantap. “Kalau begitu, langsung saja dimulai,” Kata Bisyr. “Coba kamu katakan ضَرَبَ زَيْدٌ عَمْرًا !” kata al-‘Abbas memberi intruksi awal. “Tunggu dulu, kawan. Kenapa harus ada pemukulan di antara Zaid dan ‘Amr?” tanya Bisyr. “Sebenarnya Zaid tidak benar-benar memukul ‘Amr, kawan. Kalimat itu memang sudah begitu adanya sejak dulu.” Jawab al-‘Abbas. “Wah, ini sejak awal sudah penuh kebohongan, jadi aku tidak perlu mempelajari nahwu.” Pungkas Bisyr.

Kelebihan Buku Ulama Nahwu Garis Lucu

               Kepiawaian penulis dalam menarasikan dan mengalih bahasakan kisah-kisah unik dari sumber rujukan yang berbahasa Arab menjadi salah satu kelebihan buku ini. pasalnya, bukanlah hal yang mudah mengalih bahasakan kisah yang unik dan lucu dari satu bahasa ke bahasa yang lain. Beberapa buku terjemahan justru kehilangan daya tariknya karena bermasalah pada hasil terjemah, pemilihan diksi yang kurang tepat, hingga kehilangan nuansa sastranya. Selain itu, buku karya Musyfiqur Rahman ini sangat kaya akan referensi. Terdapat kurang lebih sekitar 100-an referensi berbahasa Arab yang ia jadikan rujukan dalam bukunya. Kelebihan lain yang tak kalah penting adalah buku ini bisa menjadi teman ngobrol dan pelipur lara bagi para penuntut ilmu terutama santri yang mengalami kejenuhan dikala mendalami ilmu nahwu.

Baca juga:  Naskah Kitab Samarkand: Jejak Teologi Maturidi di Tanah Jawa

 

Judul Buku: Ulama Nahwu Garis Lucu

Penulis: Musyfiqur Rahman

Penerbit: Diva Press

Tahun Terbit: Cetakan I, November 2023

Tebal: 212 Halaman; 14 x 20 cm

ISBN: 978-623-189-286-7

Peresensi: Alfan Jamil

              

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
2
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top