Sedang Membaca
Inilah Tiga Ibadah Tertua di Dunia

Pengasuh PP. Darul Ulum Karangpandan Pasuruan, Alumni PP Darul Ulum Jombang

Inilah Tiga Ibadah Tertua di Dunia

Melihat Dinamika Kehidupan Agama di Klenteng Poncowinatan dari Sudut Pandang Orang Islam 3

Sebutkan tiga ibadah syariat Allah yang paling tua. Jawabnya: puasa, salat dan qurban. Ketiganya, sama tua dengan umur manusia di muka bumi ini.

Ibadah saalat tersurat dalam surat al-Mudatstsir [74]: 42-43:

مَا سَلَكَكُمْ فِي سَقَرَ * قَالُوا لَمْ نَكُ مِنَ الْمُصَلِّينَ (المدثر ٤٢ – ٤٣)

”Apa yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar? Mereka menjawab, “Dahulu kami tidak termasuk orang-orang yang me-laksanakan salat”.

Sementara ibadah Qurban diterangkan dalam surat al-Ma’idah ayat 27:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ (المائدة ٢٧)

“Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

Adapun tentang ibadah puasa, ayatnya sudah popuker kita dengar di mimbar-mimbar, yakni dalam surat al-Baqarah ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Alkisah, Nabi Adam as. begitu turun dari surga dan nenginjak bumi akibat kesalahan yang dilakukan, yang dilakukan adalah bertaubat kepada Allah swt dan berpuasa selama tiga hari setiap bulan. Itulah yang kemudian dikenal dengan puasa hari putih yang juga sunah dikerjakan, setiap tanggal 13, 14, dan 15 per bulannya.

Baca juga:  Sedekah Laut dalam Pandangan Budaya dan Agama

Nabi Daud as juga melaksanakan puasa, bahkan dalam waktu yang cukup lama yaitu setengah tahun, di mana Nabi Daud berpuasa satu hari dan berbuka satu hari begitulah selama satu tahun.

Al-Qurthubi, dalam kitab al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, menyebutkan bahwa Allah telah mewajibkan, puasa kepada Yahudi selama 40 hari, kemudian umat nabi Isa selama 50 hari. Tetapi kemudian mereka mengubah waktunya sesuai keinginan mereka. Jika bertepatan dengan musim panas mereka menundanya hingga datang musim bunga. Hal itu mereka lakukan demi mencari kemudahan dalam beribadah. Itulah yang disebut nasi’ seperti disebutkan dalam surat at-taubah ayat 37:

إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ…

Artinya: “Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mensesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah…”

Hal itu menggambarkan betapa umat Yahudi selalu menghindarkan diri untuk melaksanakan ibadah dengan sempurna sesuai aturan Tuhan. Mereka menginginkan puasa dilaksanakan selalu pada musim dingin atau musim bunga yang siangnya lebih pendek dari malam. Ini berbeda dengan puasa pada musim panas, di samping suhu yang panas, siang juga lebih panjang dari malam hari, sehingga, puasa akan terasa sangat sulit dan melelahkan.

Namun, begitulah hikmahnya Allah memerintahkan puasa berdasarkan perjalanan bulan, bukan matahari, agar puasa dirasakan pada semua musim dan semua kondisi. Sebab, jika puasa berdasarkan perjalanan matahari, maka ibadah puasa akan selalu berada dalam satu keadaan.

Baca juga:  Warisan Budaya: Dari Gerimpheng Aceh Hingga Ndambu Papua

Misal, jika tahun ini puasa dimulai pada musim panas, maka selamanya puasa akan berada pada musim panas. Berbeda dengan perjalanan bulan yang selalu berubah, di mana jika tahun ini puasa dilaksanakan pada musim panas, maka tahun depan atau beberapa tahun kemudian puasa akan dilaksanakan pada musim dingin atau semi dan seterusnya.

Begitulah yang disebutkan Allah swt, dalam surat al-Baqarah ayat 186:

فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya: …Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu,…

Dalam sebuah riwayat juga ditemukan, umat Yahudi berpuasa pada setiap tanggal sepuluh Muharram, sebagai syukur atas keselamatan Musa dari kejaran Fir’aun. Maka Nabi saw juga memerintahkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal sembilan dan sepuluh Muharram yang dikenal dengan puasa hari Asyura.

Umat Yahudi juga diperintahkan berpuasa satu hari pada hari kesepuluh bulan ketujuh dalam hitungan bulan mereka. Puasanya selama sehari semalam, alias 24 jam. Sementara masyarakat Mesir kuno, Yunani, Hindu, Buddha, juga melaksanakan puasa berdasarkan perintah tokoh agama mereka. Umat Nashrani juga berpuasa dalam hal-hal tertentu, seperti puasa daging, susu, telur, ikan, bahkan berbicara. Seperti yang pernah dilakukan Maryam ibu Nabi Isa sebagaimana dalam surat Maryam ayat 26:

إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا

Artinya: “…Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini”.

Baca juga:  Tradisi Menyimpan Azimat oleh Sahabat Nabi

Mengetahui sejarah puasa umat terdahulu penting untuk diketahui, agar kita jangan mencontoh puasa umat terdahulu, seperti umat Yahudi yang memilih waktu puasa seenaknya bukan menurut aturan Allah. Sebab, ibadah yang lakukan dengan “kelicikan” kerugiannya akan diderita oleh manusia itu sendiri.

Di samping itu, dan ini yang penting, kita juga harus menyadari bahwa puasa adalah ibadah yang pelaksanaannya menuntut keimanan dan kesadaran. Ibadah puasa adalah untuk manusia itu sendiri. Bukankah Allah menegaskan bahwa tujuan puasa adalah untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Puasa akan menjadikan manusia berubah dari tingkat mukmin menjadi muttaqin.

Untuk bisa berubah ke arah dan bentuk yang lebih baik, bukan hanya manusia yang berpuasa. Hewan-hewan pun menjalani ‘puasa’ mereka masing-masing. Ayam menjalani puasanya selama mengerami telur. Ular berpuasa demi menjaga kesehatan kulitnya. Ulat berpuasa selama menjadi kepompong hingga berubah jadi kupu-kupu. Beruang menjalani puasanya selama musim dingin dengan membuat liang di dalam tanah. Unta, Pinguin, dan lain sebagainya.

Ternyata puasa sudah menjadi bagian yang sedemikian dekatnya dengan kehidupan makhluk-makhluk Allah di atas bumi ini.

Wallohu A’lam…

اَللَّهُمَّ قَرِّبْنَا فِيْ هٰذَ الشَّهْرِ الْمُبَارَكِ اِلَى مَرْضَاتِكَ، وَجَنِّبْنَا فِيْهِ مِنْ سَخَطِكَ وَنِقْمَاتِكَ، وَوَفِّقْنَا فِيْهِ لِقِرَآءَةِ آيَاتِكَ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Ya Allah, dekatkan kami di bulan penuh berkah ini kepada keridhaan-Mu. Jauhkan kami di bulan ini dari kemurkaan dan kebencian-Mu, serta bimbinglah kami untuk membaca ayat-ayat-Mu dengan rahmat-Mu wahai yang Paling Pengasih dari semua yang mengasihi. Aamiiin…

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
1
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top