Sedang Membaca
Mengenang Holocaust, Kisah Kejam Nazi Membantai Yahudi
Munawir Aziz
Penulis Kolom

Kolumnis dan Peneliti, meriset kajian Tionghoa Nusantara dan Antisemitisme di Asia Tenggara. Kini sedang belajar bahasa Ibrani untuk studi lanjutan

Mengenang Holocaust, Kisah Kejam Nazi Membantai Yahudi

Enug3ivwoaa Rfb

Di antara tragedi kemanusiaan yang terjadi di dunia internasional dalam satu abad terakhir, yakni kisah tentang holocaust. Peristiwa mengerikan ini sering diingat sebagai pembantaian terhadap orang Yahudi, di tengah perang dunia berkecamuk.

Bagaimana kisah sebenarnya? Mengapa penting membangkitkan kembali memori atas kisah pedih ini?

Holocaust terjadi pada kisaran tahun 1941-1945, ketika perang Dunia II meletus. Pada waktu itu, Partai Nazi yang dipimpin Adlof Hitler, membantai sekitar 6 juta orang Yahudi di seluruh kawasan Eropa. Inilah tragedi kemanusiaan yang memilukan sepanjang Perang Dunia II, yang dianggap sebagai peristiwa paling kejam pada abad 20.

Pada waktu itu, sekitar 7 dari 10 orang Yahudi yang hidup di Eropa dibunuh. Nazi juga membantai orang-orang dari kelompok gipsy, kulit hitam, dan etnis lain. Adolf Hitler dan para ideolog Nazi meyakini bahwa orang ras Arya, atau orang asli German, lebih tinggi pangkatnya dibanding ras lain. Maka, ras Arya dianggap berhak mendapatkan privilege, atau keistemewaan dibandingkan orang-orang dari ras lain.

Nazi juga beranggapan bahwa orang-orang Jerman berhak memimpin dan mendominasi warga negara serta komunitas lain di muka bumi. Dengan demikian, mereka meyakini invasi atas negara-negara lain sebagai bentuk dari superioritas ras Arya. Ideologi kebencian inilah yang melandasi gerak Nazi, hingga membantai jutaan umat manusia di Eropa ketika Perang Dunia II meletus.

Baca juga:  Kisah Abu Hasan Al-Asy’ari Keluar dari Muktazilah

Nazi merupakan singkatan dari National Socialist German Worker (National Sozialistische Deutsche Arbeiterpartei/NSDAP). Partai Nazi dibentuk pada tahun 1919, pada kisaran tahun ketika Perang Dunia I membelah dunia. Adlof Hitler memimpin Nazi sejak tahun 1921. Ia sebagai pemimpin bengis yang menjadikan Nazi bergerak secara kejam.

Pada tahun 1934, ketika Presiden Jerman Hidenburg meninggal dunia, Adlof Hitler tampil ke puncak politik. Ia menyebut dirinya sebagai Fuhrer (supreme leader of Germany). Sejak saat itu, Nazi mengkampanyekan tiga hal penting yang menjadi awal dari agenda invasinya: (1) memurnikan ras Arya, (2) mengembangkan kekuatan dan kehebatan Jerman, (3) mengidolakan Fuhrer, Adolf Hitler.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sejak saat itu, secara kejam Nazi mempersekusi dan membantai orang-orang yang dianggap menjadi musuh. Komunitas Yahudi Jerman, Polandia dan kemudian melebar di beberapa negara Eropa menjadi sasaran kebencian. Mereka disiksa, dipenjara, dan kemudian dibantai secara membabi buta.

Nazi membuka kamp konsentrasi di Dachau, sebuah kawasan dekat Munich, sebagai penjara pertama pada Maret 1933. Sepanjang  tahun 1933 hingga 1945, Nazi membangun lebih dari 40.000 kamp konsentrasi untuk mempersekusi, menyiksa, membantai orang-orang yang dianggap musuh Jerman.

Sebuah peristiwa kelabu yang perlu dicatat, terjadi pada 9 November 1938. Malam jahanam dimana orang-orang Yahudi dimusuhi dan dipersekusi. Malam berkabut kekerasan itu dikenal dengan sebutan: Kristallnacht.

Pesan Kerudung Bergo
Baca juga:  Gaji Abu Bakar Ketika Menjadi Khalifah

Orang-orang keluar rumah, merangsek ke tengah kota, memecahkan kaca ke sepanjang jalan. Kaca-kaca hasil rampasan dari toko-toko sepanjang jalan, dipecahkan, dihamparkan. Ini malam benar-benar jahanam: 267 sinagoge dihancurkan, 91 orang Yahudi dibunuh, serta 30.000 lainnya dijebloskan ke kamp konsentrasi.

Tidak sampai sepuluh purnama kemudian, Nazi merangsek menginvasi Polandia. Pada 1 September 1939, Nazi mengirim barisan militernya untuk menyerang Polandia, menandai peluit bermulanya Perang Dunia II.

Di Polandia, Nazi tidak berhenti menebar kebencian. Mereka memaksakan kedigdayaan agar diakui dunia. Pada akhir 1941, kamp konsentrasi di Chelmno Polandia resmi dibuka. Selanjutnya, kamp-kamp konsentrasi menyusul dibangun di Auschwitz-Birkenau, Belzec, Majdanek, Treblinka dan Sobibor. Nazi juga membangun kamp-kamp konsentrasi di luar Polandia, di antaranya di Ukraina, Belarusia, Serbia, dan Kroasia.

Pada 11 Desember 1946, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengumumkan bahwa genosida merupakan kejahatan kemanusiaan di bawah hukum internasional. Adolf Hitler, orang yang paling bertanggungjawab atas kejahatan kemanusiaan selama Perang II tidak mungkin dibawa kemanusiaan, tersebab ia bunuh diri sebelum perang berakhir.

Pemerintah Jerman serius untuk mengobati luka sejarah atas kekejaman Nazi. Pada Juli 2015, pengadilan Jerman menyatakan Oskar Gronieng (94 tahun)–mantan penjaga Auschwitz–bersalah atas tindakannya di masa silam (BBC, What was the Holocaust?, 25 Januari 2019).

Baca juga:  Khazanah Syamail, Rutan Bengis yang Berganti Masjid

Bagaimana dengan Indonesia? Seringkali simbol-simbol Nazi muncul di ruang publik dengan berbagai pola: sebagai ekspresi kebencian, ataupun sebagai hujatan terhadap Israel dan Yahudi. Bahkan, yang lebih sering, simbol-simbol Nazi muncul dalam demonstrasi membela Palestina, sembari mengutuk Israel.

Pola-pola kebencian yang direproduksi dalam isu mengecam kebijakan politik Israel, seringkali menggunakan imaji-imaji Nazisme. Ini bentuk antisemitisme yang berakar dari kemalasan belajar dan menyerap informasi. Juga, propaganda selama beberapa dekade dari zaman kolonial Belanda, Jepang hingga Orde Baru yang menjadikan peristiwa-peristiwa semacam Holocaust sebagai pembenaran. Padahal, peristiwa itu merupakan pembantaian manusia, pembantaian peradaban.

Jangan sampai, kebencian menjadikan Indonesia sebagai medan Holocaust baru, apapun etnis yang menjadi korbannya. Jangan sampai kebencian dan ambisi politik menikam kemanusiaan kita. (RM).

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top