Munawir Aziz
Penulis Kolom

Kolumnis dan Peneliti, meriset kajian Tionghoa Nusantara dan Antisemitisme di Asia Tenggara. Kini sedang belajar bahasa Ibrani untuk studi lanjutan

Gus Dur dan Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron, Persahabatan Lintas Iman

Pada sebuah hari di bulan Juni, 2003, Kiai Abdurrahman Wahid mengunjungi Jerusalem, Israel. Kunjungan ini merupakan lawatan Gus Dur kesekian kalinya ke Israel, yang menjadi titik panas konflik di Timur Tengah. Gus Dur telah turun dari kursi presiden, setelah 21 bulan menjadi kepala negara Indonesia. Kala itu, Gur Dur melakukan kunjungan yang tak biasa. Ia mengeksekusi misi penting dalam dialog Islam-Yahudi, sekaligus membentangkan jalan perdamaian Israel-Palestina.

Ya, Gur Dur membangun aliansi dengan beberapa komunitas Yahudi Israel, khususnya para rabbi Sephardi. Di agenda itu, Gus Dur menandatangani sebuah pernyataan publik bersama Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron, untuk misi perdamaian internasional. Di antara program yang dirancang bersama, yakni program melawan terorisme. Dari pernyataan publik ini, kemudian dirancang program-program berkelanjutan untuk mengantisipasi sekaligus menyiapkan counter-terrorisme di lintas negara.

Gus Dur dan Rabbi Bhaksi-Doron menandatangani deklarasi di Jerusalem. “Causing suffering in God’s name is opposed to the will of God. We affirm the highest religious value to be the sanctity of human life. We condemn those expressions of our religions that speak in the name of our religions and that endorse the use of terrorist means, such as suicide homicides, to achieve political or other goals.” Demikian deklaras itu berbunyi, disaksikan sekitar 200 pemuka agama lintas iman.

Bersama dengan Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron, Gus Dur mendirikan lembaga di Israel untuk dialog lintas agama dan menginisiasi perdamaian. Lembaga itu bernama the Elijah Interfaith Institute. Di lembaga itu, Gus Dur bersama Bhaksi-Doron menjadi founding member of Elijah Board of Religious Leaders (EBRL).

Baca juga:  Era Digital adalah Eranya Anak-Anak NU

Agenda bertajuk Elijah Interfaith ini didukung oleh lembaga Konrad Adenaur Foundation, serta memperoleh dukungan dari puluhan pemuka agama lintas iman dari pelbagai negara. Di antaranya: Zenkei Blancke Hartman (Buddhist, San Fransisco), Ven. Bhikku Mahavenna (India), Bishop Frank Grisworld (USA), Cardinal Jorge Maria Mejia (Israel), Guruji Sri Rishi Prabakar (India), Rabbi David Rosen, Chief Rabbi Sear Yasuf Cohen (Israel), Chief Rabbi Menachem Hacohen (Romania), Rabbi Rene Samuel Sirat (France), dan beberapa pemuka agama lain.

Gus Dur dan Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron membangun persahabatan lintas hati. Tidak sekedar perkawanan lintas iman, tapi juga pemahaman yang senada akan pentingnya perdamaian, perlawanan terhadap terorisme sekaligus dialog-dialog lintas pemuka agama.

Rabbi Bhaksi-Doron lahir pada 1941 di Jerusalem. Ia pernah menjadi kepala Rabbi di Bat Yam dan kemudian berpindah ke Haifa. Dalam pengabdian hidupnya, Bhaksi-Doron dikenal sebagai sosok pejuang untuk perdamaian dan dialog lintas agama. Pada tahun 2000, bersama Rabbi Lau bertemu Paus John Paul II yang berkunjung ke Israel, mengadakan dialog perdamaian.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron juga sangat gigih dalam membangun relasi komunikatif antar pemuka agama. Pada 2005, ia menginisasi pertemuan 100 Imam dan Rabbi. Dalam kesempatan itu, Bhaksi-Doron menyampaikan refleksinya.

When I see all of the Imams and Rabbis coming together, this is message to the Creator that we are here to do you will, that is to bring peace.” Demikian Alon Goshen-Gottstein, founder dan Direktur Elijah Interfaith Institute, mengenang bagaimana Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron bekerja  keras untuk misi kemanusiaan dan perdamaian.

Baca juga:  Dekrit Presiden Gus Dur dan Sidang Istimewa Ketua MPR Amien Rais

Dalam sebuah kesempatan seminar antar agama pada tahun 2010, Gottstein mempertemukan Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron dengan Fr. Pierbattista Pizzabala (Franciscan Custos/Patriarchal Administrator of Jerusalem) dan intelektual muslim Prof. Mohammad Dajani.

Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron explained that for him as a Jewish leader the hope was in the dire state of affairs he observes around him. With so many young people alienated from religion, his faith told him that the next phase would be a revival of spirituality and a renewed commitment to religious values.” Demikian Gottsein mengenang Bhaksi-Doron.

People would come to see the emptiness of their non-religious lives and would recognize that the future depends on hope which depends on faith,” tulis Gottstein dalam sebuah kolom di Times of Israel (Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron, an interreligious appreciation, 14 April 2920).

Yisrael Meir Lau, mantan Kepala Rabbi Yaskhenazi, mengenang Rabbi Eliyahu Bhaksi-Doron sebagai orang baik yang sangat jujur, serta mengabdikan diri dalam perjuangan kemanusiaan.

The great genius has been taken from us. I am sad for you, my brother. It was an honor serving alongside you.” Meir Lau mengenang betapa Bhaksi-Doron sangat gigih dalam berjuang, sekaligus mengabdi untuk kemanusiaan.

Ketika bersaksi atas pengabdian Bhaksi-Doron, Meir Lau mengingat kawan karibnya itu sosok yang jujur. “Together we went through ten tough years that included the [1995] murder of [prime minister Yitzhak] Rabin and the verbal violence that followed, we stood together like a brick wall. There was nobody as honest as you.

Baca juga:  Mengenal Ulama dan Kiai

Sementara, Yitzhak Yosef, kepala Rabbi Sephardi saat ini, menyampaikan betapa umat Yahudi dunia kehilangan sosok penting. “The world of Torah and halacha has lost one of its pillars.” Sepanjang hidup, Bhaksi-Doron juga mengabdikan diri untuk mengajar kitab suci Taurat (Torah), murid-muridnya tersebar di pelbagai belahan dunia.

Lebih lanjut, Yitzhak Yosep mengungkapkan bela sungkawa yang mendalam atas meninggalnya Bhaksi-Doron. “The Chief Rabbinate of Israel owes Rabbi Bhaksi-Doron its renewed contribution over the past decade.”

Benyamin Netanyahu juga memberikan kesaksian atas pengabdian Bahksi-Doron. “His essence was intelligence, tolerance and love for the people and the country.” Netanyahu menyaksikan betapa Rabbi Bhaksi-Doron mengabdikan seluruh hidupnya untuk kemanusiaan.

Di sisi lain, Presiden Israel Reuven Rivlin mengenang masa ketika dirinya menjadi anggota Knesset dan Bhaksi-Doron masih menjadi pemimpin para Rabbi. Bahwa, Bhaksi-Doron “..sincere care for every person and his effort to help women women who have been refused divorces“. Demikian kenangan Netanyahu dan Presiden Rivlin, yang diarsip TimesofIsrael (13 April 2020).

Rabbi Eliyahu Bhaksi Doron meninggal pada 12 April 2020 karena serangan virus Covid-19. Ia meninggal setelah menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit Saare Zedek Medical Center, Jerusalem. Dunia kehilangan pejuang perdamaian dari Israel. Kita kehilangan seorang Rabbi Yahudi sahabat dekat Gus Dur.

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top