Sedang Membaca
Kemanusiaan dan Keadilan terhadap Eksistensi Perempuan
Nisrina Khairunnisa
Penulis Kolom

Penulis saat ini sedang menempuh studi di UIN Walisongo Semarang

Kemanusiaan dan Keadilan terhadap Eksistensi Perempuan

Sister Fillah

Tak sempurna rasanya jika ketinggalan karya-karya dari seorang penulis gaul, lucu, kritis, dan merakyat, Kalis Mardiasih. Bahasanya yang khas, penuh dengan anekdot, dan dibumbui dengan sedikit rasa sindiran pedas namun tak mengurangi kelugasan dan daya pikir yang kritis dalam menuangkan ide atau gagasan pada substansi tulisannya.

Hingga kini, isu mengenai perempuan masih menjadi persoalan rumit yang terkadang sulit menuju titik terangnya. “Eksistensi kemanusiaan perempuan itu ada dan penting” begitu salah satu ungkapan Kalis dalam bukunya yang berjudul “Sister Fillah, You’ll never be alone”. Ya, Kalis merupakan satu dari banyak penulis perempuan yang karya-karyanya lebih menitikberatkan pada berbagai isu perempuan.

Dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya, seperti Berislam seperti Kanak-Kanak (2018), Muslimah yang Diperdebatkan (2019), dan Hijrah Jangan Jauh-Jauh Nanti Nyasar (2019). Dalam Sister Fillah You’ll never be alone ini, substansinya telah mewakili dan mencakup seluruh pembahasan yang ada pada ketiga karya sebelumnya. Dan terlihat perbedaan bahasa yang ia gunakan, kali ini Kalis menggunakan bahasa yang lebih subtil ketimbang karya-karya sebelumnya yang terkesan satire namun atraktif.

Dalam bukunya yang terbaru, Kalis sedari awal mampu menjelaskan keseluruhan materi secara lugas, ringan, dan gamblang sehingga pembaca semakin penasaran untuk menelusuri dari tema satu ke tema lainnya. Ditambah dengan gambar sampul berupa kartun muslimah masa kini, dan kertas yang berwarna-warni menjadikan buku ini lebih memberikan kesan relaksasi agar pembaca tidak mudah bosan.

***

Berangkat dari prolog yang berisikan berbagai peristiwa yang telah dialami Kalis saat itu, memberikan pandangan tersendiri sekaligus tantangan besar baginya untuk meluruskan hal-hal yang menjerumus dalam trend dakwah masa kini.

Baca juga:  Sabilus Salikin (74): Khataman dalam Tarekat Qadiriyah

Rasa sensitif yang dibarengi kemarahan Kalis pun muncul ketika teman Muslimahnya menyebarkan berbagai artikel dakwah yang begitu menyudutkan perempuan liyan dan dianggap tak sejenis dengannya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Temannya berasumsi bahwa diharuskan bagi anak kandung (perempuan) hasil dari hubungan perzinahan untuk mengenakan jilbab di hadapan bapaknya. Di sisi lain, Kalis membantah argumen tersebut, karena sejak ia mempelajari banyak keterangan hukum fikih khususnya relasi bapak dan anak dari hasil perzinahan, umumnya kelak, bahwa sang bapak tidak diperbolehkan menjadi wali nikah untuk anak perempuannya, melainkan harus lewat perantara yaitu wali hakim.

Tidak hanya permasalahan itu saja yang ia tuliskan, ia kerap kali mengkampanyekan jilbab syar’i macam orang yang baru saja hijrah. Baginya, jilbab syar’i adalah segalanya, dapat menjadi penyelamat dunia dan solusi segala permasalahan (hlm. XX).

Mengamati beberapa tulisan Kalis, ia ingin mengajak kita untuk berislam yang benar dan sederhana, tidak nyasar sampai kemana-mana. Melihat cara berdakwah ala anak millennial ini terkesan menghadirkan momok seram yang menakut-nakuti orang lain. Misalnya saja anjuran mengenakan jilbab.

Banyak bukan beberapa akun media sosial, tentunya yang berorientasi “hijrah” dengan menyuarakan, bahwa jika sampai dewasa nanti perempuan masih saja tak berjilbab, umpan jitu yang dikeluarkan adalah ayahnya akan masuk neraka. Loh, ini ngajak orang menutup aurat, memakai jilbab dan lain sebagainya kok ditakut-takuti dengan ancaman seperti itu.

Baca juga:  Indonesia: Negara Kesejahteraan

Bagi Kalis, berdakwah tidak hanya menyoal tentang salah dan benar, halal dan haram, tapi juga mengedepankan etika dan tepa salira. Mereka yang defensif terhadap cara berpikir Islam “ortodoks” akan membenarkan seluruh argumennya, sebab mereka tidak melihat keragaman lain di luar mayoritasnya.

Berbagai narasi puan yang tersematkan dalam buku ini, memuat para tokoh perempuan dengan kebesaran hatinya menyalurkan banyak aspirasi dan telah berkontribusi besar bagi eksistensi kemanusiaan perempuan di seluruh belahan dunia. Salah satunya Sang Syaikhah, atau Syaikhah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah.

Mungkin kebanyakan dari kita, nama tersebut masih terdengar asing. Gelar Syaikhah didapatinya dari Universitas Al-Azhar Mesir, sebab kiprahnya yang berhasil mendirikan sekolah perempuan serta merancang kurikulumnya di Padang Panjang. Sudah sepatutnya Rangkayo Rahmah diberi gelar kepahlawanan dan jasanya tak boleh sirna ditelan masa. (hlm.17)

Dalam tulisannya, Kalis menyampaikan bahwa Rangkayo Rahmah dalam mewujudkan eksistensi kemanusiaan perempuan sangat menarik untuk disimak. Karena dengan pandangan keulamaan perempuan yang berkaitan dengan hukum adat setempat. Diberikannya warisan pusaka kepada perempuan ditujukan untuk kepentingan kemanusiaan, bukanlah semata-mata untuk menguasai materi hingga berujung pen-domestifikasi-an perempuan. (hlm.23).

Sementara itu, dalam tulisan selanjutnya Kalis berimajinasi sekaligus berinovasi akan keprihatinanya pada perempuan-perempuan di luar sana yang lemah dalam segi finansialnya. Pesan yang begitu mencengangkan, bunyinya seperti ini:

SAYA AKAN MENGUSULKAN SUBSIDI PEMBALUT UNTUK PEREMPUAN MISKIN”.

Kalimat yang secara tidak langsung membuat pembaca menjadi berkontemplasi diri. Kalis menyadarkan dan membuka pikiran kita akan peristiwa yang tidak diketahui sebenarnya masih banyak terjadi. Pemikiran Kalis begitu filantropi sampai-sampai kebanyakan orang pun tak mempunyai pemikiran secemerlang itu. Ia membayangkan begitu malangnya keluarga-keluarga yang untuk makan saja masih kurang, bagaimana memenuhi kebutuhan anak perempuannya? (hlm.76)

Baca juga:  Kisah-Kisah Spiritual: Pertemuan Para Burung

Buku Sister Fillah telah banyak mengupas isu-isu penting perempuan dari berbagai aspek. Kalis Mardiasih mempunyai diskursus cukup atraktif dalam menarasikan berbagai fenomena eksistensi kemanusiaan perempuan. Tidak hanya menyoal tentang sikap berdakwah yang ramah, polemik jilbab, kesetaraan gender dan hantu-hantu patriarki saja. Namun juga perihal toxic cinta, pendidikan seks dan hak perempuan dalam otoritas tubuhnya.

Sementara itu, membaca buku ini juga menyadarkan bagi sesama perempuan untuk saling menyemangati, saling mendukung dan tidak saling menjatuhkan terhadap perempuan lainnya. Menjadi diri sendiri tampaknya lebih asyik daripada harus memaksa diri untuk menjadi seperti orang lain.

Apabila terus memvalidasi tolak ukuran kesempurnaan perempuan tak akan pernah selesai, mungkin yang akan terjadi, timbul sebuah insecure dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Sudah lah, daripada terus menerus insecure kenapa tidak mencoba hal baru guna meningkatkan kualitas diri? “Tanpa kita sadari, perempuan itu ternyata multitasking lho” ujar Kalis dalam bukunya.

 

Judul: Sister Fillah You’ll Never be Alone

Penulis: Kalis Mardiasih

Penerbit: Qanita

Tahun: April 2020

Tebal: XXVI+126 halaman; 20 cm

ISBN: 978-602-402-177-1      

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top