Sedang Membaca
Beda Gus Dur dan Amien Rais Memahami Konflik Israel-Palestina
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Beda Gus Dur dan Amien Rais Memahami Konflik Israel-Palestina

Munawir Aziz
Relasi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Amien Rais mengalami pasang surut seiring waktu. Gus Dur dan Amien Rais pernah saling bekerjasama di ujung rezim Soeharto, menumbangkan kekusaan Orde Baru. Namun, selang beberapa tahun sesudahnya ketika Gus Dur menjadi presiden RI, Amien Rais berbalik arah, menyerang Gus Dur.
Hubungan “teman tapi (tidak) mesra” ataupun benci tapi rindu mewarnai politik Indonesia, khususnya ketika menyebut relasi Gus Dur-Amien Rais. Gus Dur pernah menyebut berpolitik dan menjadi presiden dengan modal dengkul Amien Rais. Sementara, Amien Rais menganggap Gus Dur antek Zionis. Catatan kecil ini akan membahas keduanya tentang dunia internasional, tepatnya Israel-Palestina. Bagaimana Gus Dur dan Amien Rais memandang konflik Israel-Palestina? Apa beda keduanya?
Greg Barton dan Colin Rubenstain mencatat Abdurrahman Wahid merupakan presiden Indonesia yang mempunyai hubungan erat dengan Israel. Menurut Barton, pikiran dan kebijakan Gus Dur tentang Israel dan Yahudi, tidak bisa dilepaskan dari perjalanan hidupnya ketika belajar di Baghdad serta proses penjang menjadi aktifis sosial khususnya di Nahdlatul Ulama.
Dalam paper Barton & Rubenstain “Indonesia dan Israel: Relationship in Waiting” (Jewish Political Studies Review, Spring 2005), dijelaskan bagaimana political will Gus Dur dalam membangun diplomasi dengan Israel. Gus Dur adalah presiden Indonesia yang paling sering berjunjung ke Israel, dibandingkan dengan presiden Indonesia sebelum dan sesudahnya. Rekor kunjungan Gus Dur ke Israel tidak bisa disamai oleh Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, Megawati Soekarnoputri, bahkan Susilo Bambang Yudhoyono, apalagi Joko Widodo.
Gus Dur berkunjung ke Jerusalem dan kota-kota lain di Israel, jauh sebelum menjadi presiden. Kunjungan pertama Gus Dur ke Israel pada 1980. Kenangan Gus Dur ketika belajar di Baghdad, serta persahabatan dengan seorang Yahudi Irak bernama Ramin, menjadi kenangan yang membekas di benak Gus Dur.
Sejak saat itulah, Gus Dur belajar bahasa, tradisi dan geo-politik Israel-Palestina. Gus Dur mulai memahami kultur, pandangan dan nilai-nilai tradisi orang Yahudi, yang membuatnya punya horizon pandangan tentang relasi agama-agama yang demikian luas.
Pada Oktober 1994, Simon Peres mengundang Gus Dur untuk sebuah kunjungan penting untuk dialog kemanusiaan. Kunjungan ke Israel berikutnya pada Mei 1997, yang secara resmi Gus Dur menjadi anggota dewan eksekutif di the Simon Peres Peace Center.
Keterlibatan Gus Dur di lembaga the Simon Peres Peace Center ini sontak mengguncang Indonesia. Tidak sedikit tokoh agama dan politik mengkritik langkah Gus Dur. Bahkan, di internal Nahdlatul Ulama, para kiai juga mempertanyakan langkah Gus Dur ini. Sebagian besar bingung dan tidak bisa menerka langkah zigzag Gus Dur, sebagian lagi menganggap sebagai ‘jurus mabuk’.
Di antara tokoh ormas dan politik yang mengkritik keras kepada Gus Dur, yakni Amin Rais dan Menteri Luar Negeri Ali Alatas. Amin Rais, yang saat itu menjadi representasi tokoh intelektual Muhammadiyah, menganggap Gus Dur sebagai antek Zionis. Demikian pula, Ali Alatas yang tidak terima dengan langkah Gus Dur yang membangun relasi personal dengan Simon Peres, selanjutnya kalangan politisi dan tokoh kunci Israel.
Namun, lengking suara kritik dari beberapa pihak tidak membuat surut langkah Gus Dur. Ia semakin getol mengkampanyekan pentingnya membangun relasi dengan Israel sebagai bangsa, serta komunitas Yahudi dalam interaksi antar agama. Gus Dur tetap bergerak maju, membangun dialog antar agama, dialog kemanusiaan untuk mengupayakan perdamaian Israel-Palestina.
Meski kritik dari kalangan internal NU juga keras, posisi Gus Dur tetap kuat. Kontroversi atas kunjungan Gus Dur ke Israel dan kontribusinya di lembaga the Simon Peres Peace Center tidak menyurutkan dukungan dari kiai-kiai. Gus Dur melenggang menjadi Ketua Umum PBNU, melanjutkan kepemimpinan untuk kedua kalinya. Ketika itu, posisi NU dan Gus Dur memang jauh dari pemerintah Orde Baru. Soeharto dan rezimnya, sangat membenci Gus Dur dan berusaha menggencet Nahdlatul Ulama.
Gus Dur berusaha mendekati Israel dan Palestina dalam strategi diplomasi yang seimbang, agar Indonesia dipercaya sebagai juru damai. Gus Dur yakin, akar konflik Timur Tengah dan terorisme-ekstrimisme di era modern muncul dari berlarutnya konflik Israel-Palestina. Maka, Gus Dur dengan strategi diplomatiknya, melakukan manuver-manuver cerdas agar diterima kedua belah pihak.
Sementara, Amien Rais berada di gelombang protes terhadap Israel. Isu yang sama berkembang di kelompok Islamis di Indonesia, yang menarik konflik Israel-Palestina sebagai konflik agama.
Ketika Gus Dur datang ke Israel pada 2008 untuk misi perdamaian, Amien Rais melontarkan pernyataan nyinyir.
“Gus Dur itu aneh. Israel itu negara zionis yang menjajah Palestina, dan Israel itu negara yang sering melakukan kejahatan moral. Terus ngapain Gus Dur ke sana?” tanya Amien Rais dengan nada mencibir.
Menurut Amien Rais, Gus dur sebaiknya tetap tinggal di Indonesia untuk menjaga Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang saat itu sedang menghadapi tsunami politik, konflik internal yang serius.
“..daripada Gus Dur pergi ke Israel, mending tetap tinggal di Indonesia dan ngurusin konflik internal PKB. Saya khawatir dengan tidak adanya Gus Dur di Indonesia akan membuat konflik PKB makin meruncing,” ungkap Amien Rais, sebagaimana diarsip Okezone (5 Mei 2008).
Pada lawatan ke Israel itu, Gus Dur juga dijadwalkan mengunjungi beberapa kawasan, berdialog dengan beberapa pihak serta mendapat penghargaan Simon Wiesenthal Centre, sebuah LSM berbasis di Amerika Serikat yang mengadvokasi komunitas Yahudi internasional.
Menanggapi penghargaan terhadap Gus Dur, Amien Rais mencibir. “Saya juga dapat kabar, salah satu yayasan Israel memberi penghargaan kepada Gus Dur. Sebetulnya kalau saya amati, Gus Dur enggak perlu. Sudah jadi tokoh besar, tokoh Dewan Syuro PKB, ia juga mantan presiden. Jadi dia nggak butuh penghargaan lagi.”
Selama ini, Amien Rais sering mengungkapkan kritik terhadap Israel. Ketika menjadi Ketua Majelis Perwakilan Rakyat (MPR) pada 2003, Amien Rais mengecam Israel dan mewanti-wanti pemerintah Indonesia agar tidak bekerjasama dengan Israel. “Jangan sampai sedikitpun memberi peluang salah tafsir seolah kita ada simpati dengan Israel,” ungkap Amien Rais kepada Tempo (03 Juli 2003).
Amien Rais menganggap Israel negara ekspansionis dan pelanggar HAM berat. “Dulu ada (insiden) Sabra dan Satila. Kemudian, perkara mereka menghancur leburkan perkampungan Palestina juga sesuatu yang sudah biasa.”
Amien Rais mendorong pemerintahan Megawati Soekarnoputri-Hamzah Haz tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Israel. Padahal, pada pemerintahan sebelumnya di era kepemimpinan Gus Dur, ada rencana membangun relasi diplomatik, minimal dalam kerjasama formal di bidang ekonomi.
Gus Dur dan Amien Rais tidak hanya berseberangan dalam strategi politik, namun juga cara berpikir dalam memahami akar konflik Israel-Palestina.
Baca juga:  Adil: Kitab Suci dan Politik
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top