Nabi Muhammad dan Seorang Lelaki yang Mencintai Malaikat Penurun Hujan

Avatar

Bulan November 2019 menjadi pembuka musim hujan pada beberapa kota di Indonesia. Hujan menjadi fenomena yang paling dirindukan oleh para petani padi, sebab padi membutuhkan asupan air yang berlimpah agar dapat tumbuh dengan bahagia. Di kota Banyuwangi, hingga diadakan salat istisqo’ dengan harapan Pemilik Semesta berkenan untuk memerintahkan malaikat Mikail menjalankan tugasnya di kota Banyuwangi. 

Bagi pedamba hujan dan rizki, malaikat Mikail adalah malaikat yang paling dinanti sapanya, sebab tugasnya adalah menurunkan hujan dan membagi rezeki. Terkait dengan hujan dan Mikail, di dalam kitab Marah Labid Tafsir an-awawi atau Tafsir al-Munir karya Syekh Nawawi al-Bantani terdapat kisah seorang lelaki yang sangat mencintai malaikat Mikail, tetapi sangat membenci malaikat Jibril. Lelaki tersebut bernama Abdullah bin Shuriya. Berikut kisah lengkapnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Ketika Nabi Muhammad telah sampai di kota Madinah, seorang lelaki yang bernama Abdullah bin Shuriya mendatangi Nabi Muhammad dan bertanya, “Wahai Muhammad, ceritakan padaku bagaimana cara tidurmu sebagai seorang rasul di akhir zaman?”

Nabi Muhammad dengan sifat Fathonah-nya memberikan jawaban, Ketahuilah, dua mataku memang tidur, tetapi tidak dengan hatiku!” 

Abdullah bin Suriya mengomentari jawaban Nabi dengan ucapan, “Tepat sekali jawabanmu, wahai Muhammad. Selanjutnya, jelaskan padaku tentang warisan genetik seorang anak yang didapat dari ayah dan ibunya!”

Nabi Muhammad lagi-lagi berhasil menjawab pertanyaan (yang seharusnya diajukan pada seorang dokter atau ahli medis. Hal ini menunjukkan bahwa cakupan ilmu nabi Muhammad sangat luas) dengan jawaban cerdas: 

Tulang, urat syaraf, dan otot merupakan warisan genetik dari pihak laki-laki (ayah), sedangkan daging, darah, kuku, dan rambut adalah warisan genetik dari pihak perempuan (ibu).” 

Abdullah bin Suriya dibuat tak berdaya dengan jawaban Nabi Muhammad, tetapi Abdullah tetap ingin memojokkan Nabi Muhammad, Jawaban yang tepat sekali Muhammad. Selanjutnya, bagaimana pendapatmu tentang seorang lelaki yang lebih menyerupai paman (dari pihak ayah) daripada paman (dari pihak ibu) dan sebaliknya?”

Dengan tenang, Nabi Muhammad menjawab pertanyaan tersebut, “Sperma yang lebih dominan akan membuatnya serupa dengannya. Jika sperma ayah yang lebih dominan, maka lelaki tersebut akan lebih mirip dengan paman (dari pihak ayah). Begitu pula sebaliknya.”

Abdullah bin Suriya masih belum menyerah menguji kerasulan Nabi Muhammad, “Jelaskan padaku tentang makanan yang diharamkan oleh bani Israil untuk dirinya sendiri dan di dalam Taurat juga disebutkan seorang nabi akhir zaman  yang menjelaskan hal tersebut.”

Nabi Muhammad untuk yang kesekian kalinya berhasil menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat rinci: 

“Maha Besar Allah yang telah menurunkan Taurat kepada nabi Musa. Tidakkah engkau tahu bahwa bani israil menderita sakit yang sangat parah dalam kurun waktu yang cukup lama. Kemudian mereka bernadzar kepada Allah jika mereka diberikan kesembuhan, maka mereka akan melarang diri mereka sendiri untuk mengonsumsi makanan dan minuman yang paling mereka sukai. Makanan dan minuman tersebut adalah daging unta dan susunya.”

Mendengar jawaban Nabi Muhammad dengan tingkat akurasi bertriliun persen, membuat Abdullah bin Suriya mengeluarkan jurus pamungkasnya, “Semua jawabanmu tepat sekali, Muhammad. Pertanyaan terakhir dariku dan jika kau berhasil menjawabnya, maka aku akan beriman kepadamu. Siapa malaikat yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah?”

Nabi Muhammad menjawab dengan mantap, Jibril.

Abdullah bin Suriyah mengelak dengan jawaban, “Ketahuilah, Jibril bagiku adalah musuh, sebab Ia turun dengan membawa peperangan dan kesusahan. Berbeda dengan Mikail. Ia datang dengan membawa kabar gembira dan kebahagiaan (rezeki dan hujan). Andai yang menemuimu untuk menyampaikan wahyu dari Allah adalah Mikail, maka Aku akan beriman kepadamu, Muhammad.” 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Dari kisah tersebut kemudian Allah menurunkan surat al-Baqarah ayat 97-98. Wallahu a’lam.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top