Sedang Membaca
Pelanggaran HAM di Jalur Gaza
Penulis Kolom

Penulis berasal (lahir) dari kultur ‘tani’ desa Geneng Mulyo kecamatan Juwana kabupaten Pati, Jawa Tengah. Domisili di Jogja. Hobi: menikmati dan belajar hidup melalui sabda 'iqra'. Sesekali berpiknik fiksi dan ilmiah, untuk memaknai keseharian yang dijalani.

Pelanggaran HAM di Jalur Gaza

Foto Bbc

Hampir setahun yang lalu, saya membantu penelitian saudara saya dengan tema “Pelanggaran HAM di Jalur Gaza”. Saya membantu mencari data dari media-media online terkemuka (Kompas.com, Tirto.id, detik.com). Hasilnya, cuplikan situasi hidup di Palestina begitu perih. Korban jiwa warga sipil (termasuk anak-anak) beribu-ribu, represi terhadap demonstran, perusakan fasilitas dan tenaga medis, ekonomi yang rubuh akibat blokade militer Israel, serta penyempitan wilayah, terjadi terus-menerus tanpa ada harapan kapan episode tersebut berakhir. Pelanggaran HAM yang terjadi di sana, akibat agresi dan blokade militer Israel terlalu jelas, bahkan tanpa penelitian sekalipun.

Kemanusiaan selalu terkait dengan kata dasarnya: manusia. Penderitaan siapapun, selama masih manusia, pasti menggetarkan manusia lain, walaupun tak sekeluarga, tak sebangsa, tak seagama. Inilah ‘rasa kemanusiaan’. Erich Fromm melalui bukunya Seni Mencintai (versi aslinya The Art of Loving, 1962) menjelaskan rasa kemanusiaan itu sebagai ‘keterikatan bawaan’ antara manusia satu dengan manusia lain. Keterikatan ini secara psikis begitu mendalam, alami, hingga tak mungkin ditampik.

Melalui tulisan kolom “Palestina, Rachel Corrie, dan Solidaritas Kemanusiaan” (Detikcom, 24/5/2021), Ahmad Hadi Ramdhani, penulisnya, menguatkan tesis Form tersebut. Bahwa Rachel Corrie seorang dari negara lain (Amerika Serikat), yang berlainan bangsa dan agama (Kristen), rela menjadi martir kemanusiaan semata karena ‘rasa kemanusiaan’ yang menyala. Apalagi saya, dan jutaan muslim di seluruh dunia, pastinya lebih meledak. Meledak dalam keheningan, keprihatinan sembari bingung harus berbuat apa.

Arus Bawah Palestina-Israel

Jika menggunakan analogi, pecahnya konflik berdarah di Gaza akhir Ramadhan kemarin, mirip ‘riak ombak’ laut yang sampai ke pinggir pantai media kita. Jauh di kedalaman lautan, yang jauh ke tengah, jauh ke dalam, terjadi gesekan dahsyat lempeng-lempeng tektonik—bahkan letusan gunung-gunung merapi bawah laut—yang saling hantam, saling bergemuruh. Dan suara asli tragedi itu teredam oleh palung laut. Kita, tak bukan hanyalah pengunjung di pinggir pantai yang terkecipak, lalu berteriak-teriak memukuli ombak. Meriah namun melompong.

Konflik Palestina-Israel, merupakan penanda globe real dari kisah kemanusiaan yang tidak melulu tentang batas geografis semata. Melainkan lebih pada persinggungan psikologis-historis-politis antar manusia. Selalu seperti itu. Dan agama lebih dari mumpuni untuk didalihkan sebagai tameng.

Sejarah Tuhan (Karen Armstrong, 1993) adalah buku tebal pertama yang saya kenal. Rabi Meir Kahane, seorang fundamentalis Yahudi, dikutip dalam buku itu, “misi Yudaisme hanya satu: melaksanakan kehendak Tuhan—Tuhan menginginkan kami datang ke negeri ini (Palestina) demi menciptakan sebuah negara Yahudi”. Ini mewakili suara Fundamentalis Yahudi yang menduduki Tepi Barat dan Jalur Gaza. Mereka tidak cukup hanya mukim, namun bertekad mengusir pemukim Arab yang tinggal di sana. Kekerasan boleh dilakukan. Ini adalah “api”.

Jika api bertemu air, tentu akan padam. Tetapi bangsa mana yang mau menjadi air sebagai pemadam nafsu penguasaan tanah, pengusiran, dan penjajahan bangsa lain? Lahir kemudian komunitas Hamas, sejenis api perlawanan di pihak Palestina. Sekuat tenaga mereka mengimbangi Israel dengan kekerasan: api dengan api.

Karen Armstrong melihat, seharusnya jika benar mereka (Palestina dan Israel) mau meneladani para nabi, maka adu “api” kekerasan itu bisa saja padam. Para nabi mengajarkan welas asih dan kasih sayang. Sayangnya, “kasih sayang merupakan kebajikan yang sangat sulit dilakukan. Etos ini menuntut kita untuk keluar dari keterbatasan ego kita, membuang rasa terancam dan prasangka buruk yang telah kita warisi”. Aduh, betapa beratnya.

Kerukunan yang Niscaya (?)

Getaran ‘rasa kemanusiaan’ harusnya semakin menguat tatkala skala jarak semakin dekat. Tetapi pepatah lama yang berkata “gajah di pelupuk mata menutupi pandang, kutu di seberang lautan menggoda pandang”, kerap lebih nyata. Kita sering abai pada perkara yang sebenarnya paling dekat dan paling mungkin diberesi—keluarga dan tetangga, misalnya. Teralihkan oleh perkara yang seolah-olah butuh kita ubah—konflik di Gaza, misalnya. Atau silakan ambil contoh lain.

Baru-baru ini saya mendapati rerasan teman FB (ia penulis, pengkaji psikologi, belakangan jadi seniman kayu) yang merasa ganjil dengan ketimpangan etos profesionalitas dan etos personalitas kebanyakan psikolog. Ia mendapati umumnya psikolog begitu cair, supel, ramah, grapyak kepada pasiennya—mungkin sedemikianlah hasil didikan sekolahnya—namun tidak berlaku sama ketika berhadapan dengan istri dan keluarganya. Lho…, ya.

Andaikan saja Palestina dan Israel benar berkenan damai, legowo bermarkah pakem di perbatasan wilayah mereka—sekali lagi, ini pengandaian paling manis—lalu sampai kapan sedemikian itu bertahan? Sejauh mana keterjaminan kerukunan itu terjaga-terawat, bila masing-masing masih mensekam dendam warisan sejarah?

Jika boleh mengutip Konfusius, begawan sepuh Tiongkok, “lebih baik menyalakan lilin kecil, walau redup, daripada sibuk merutuk kegelapan”. Kerukunan menjadi niscaya, saat ada yang memulai, bukan saat beramai-ramai bergantian mencaci maki mereka yang walaupun nyata-nyata biadab.

Diam bukan berarti tidak peduli. Ada saatnya menunggu waktu yang tepat untuk bersuara, lebih layak dilakukan. Tapi, sampai kapan? Saya pun masih mengukur waktu untuk menjawab itu, dengan menjalani semua “tanggung jawab” keluarga, pertemanan, pertetanggaan sebaik-baiknya. []

Baca juga:  Tafsir Maqashidy dan Gerakan Pembaharuan Tafsir
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top