Sedang Membaca
Ilmuwan Muslim Cum Musisi (1): Catatan dari Penulis

Penerjemah buku-buku sejarah klasik dan penulis literasi Islam klasik dan kontemporer. Akun media sosial; Miftahus Syifa (Facebook), @syifaAdzkiya (twitter).

Ilmuwan Muslim Cum Musisi (1): Catatan dari Penulis

Kemajuan sebuah bangsa dan peradaban memang bergilir seiring dengan berjalannya sang zaman. Hari ini kita melihat negara Barat dan Eropa yang menjadi kiblat peradaban. Di mana dalam kemajuan tersebut ilmu pengetahuan berkembang pesat hingga memunculkan banyak intelektual hebat.

Gambaran seperti itulah kira-kira yang terjadi pada dunia Islam abad pertengahan. Saat itu Islam mengalami keemasan peradaban yang di dalamnya marak perhelatan kritis literasi pengetahuan dan melahirkan para ilmuan. Bedanya para cendekiawan dari dunia muslim ini semuanya ahli pada beberapa disiplin keilmuan. Tidak seperti sekarang, akibat desakan profesionalitas keilmuan yang semakin terspesialisasikan, para intelektual hanya ahli di satu bidang saja. 

Tuntutan spesialisasi keilmuan dalam dunia modern sampai di titik kulminasi menjadikannya semakin terdikotomi. Orang-orang yang menekuni ilmu pengetahuan dijustifikasi sebagai akademisi ahli yang akan teralienasi jika ia juga berkecimpung dalam dunia seni, musik misalnya. Kita bisa lihat hari ini jarang sekali, bahkan tidak ada para akademisi atau ilmuan yang juga menggeluti dunia permusikan. Padahal sebenarnya musik pun merupakan ilmu pengetahuan yang tidak salah untuk ditekuni oleh siapapun ilmuan. Kasus-kasus seperti ini jauh dari situasi zaman keemasan Islam abad pertengahan, di mana sering dijumpai para intelektual Islam, mahir beberapa disiplin keilmuan serta lihai mengotak atik ilmu permusikan.

Mari kita masuk lorong waktu ke abad pertengahan. Banyak para musisi maupun komposer musik dari dunia Islam mempunyai jejak yang tidak main-main dalam disiplin ilmu pengetahuan lain. Sang filsuf pertama Islam al-Kindi yang ahli dalam ilmu kedokteran adalah ilmuan yang mula-mula memperkenalkan ide-ide musik ke dalam dunia Islam. Dua risalahnya tentang musik seperti Ajza Khabariyyah fi’l Musiqi, dan al-Musawwitat al-Watariyyah berupaya menyingkap tabir kesesuaian musik dan kosmik serta mulai merumuskan sistem notasi. Ide-ide ini kemudian dilanjutkan oleh Al-Farabi, maha guru filsuf Islam, dengan karya fenomenalnya Musiqa al-Kabir. Karya musik Al-Farabi merupakan pedoman musik yang paling otoritatif di Timur, sedangkan di Barat menjadi rujukan teori musik paling awal dan paling tenar bagi orang-orang Eropa. 

Jejak Al-Farabi kemudian diteruskan sang bapak kedoteran Ibn Sina dengan beberapa karyanya. Dalam buku besar kedokterannya al-Syifa, Ibnu Sina menuliskan satu bab khusus tentang musik yang mempunyai korelasi kuat dengan terapi medis. Ibn Sina juga menuliskan beberapa karya yang mengulas rumusan notasi musik seperti al-Najat dan al-Madkhal ila Sana’a al-Musiqi. Dari generasi Ibn Sina ini lahirlah dua sastrawan besar yang bukunya menjadi masterpiece terlengkap dan terdetail masalah musik. Dua buku tersebut adalah al-Aghani karya Abu al-Faraj al-Asfahani dan al-Adwar karangan Safi al-Din al-Urmawi. 

Masih bekisar abad pertengahan, musik masih menjadi ilmu eksakta yang ditekuni para ilmuan. Para intelektual Ikhwan al-Shafa mengembangkan madzhab musik Al-Kindi dengan penjelasan rasio aritmatika terhadap notasi dan ritme. Satu bab tentang musik mereka kupas tuntas dalam Risalah Ikhwan al-Shafa wa al-Khulan al-Wafa bagian matematika. Dalam gagasan akhirnya Ikhwan al-Shafa memberikan pandangan tentang tentang tujuan dan hakikat musik yang bertendensi spiritual.

Pencapaian disiplin ilmu permusikan di era pertengahan memang tidak terlepas dari adanya persepsi tentang kesatuan antara ilmu hitung, filsafat, dan musik. Mereka mengkategorikan musik sebagai cabang dari ilmu matematika. Notasi, ritme, melodi, interval, dan instrumen dalam musik adalah bilangan-bilangan yang jika tersusun rapi akan menghasilkan harmoni yang indah. Pandangan ini tidak lain terinspirasi dari matematikawan Yunani Phytagoras dan filosof Aristoteles. Ilmu hitung yang secara general disebut matematika menurut ilmuan abad pertengahan adalah modal utama dalam memahami filsafat. Sama seperti pandangan kaum tasawuf ketika ingin menuju makrifat, syariat adalah pendahuluannya. Sedangkan musik sendiri menurut mereka adalah bagian dari matematika. Korelasi ini pada implikasinya membawa musik menjadi sebuah ilmu yang digandrungi para ilmuan untuk dikaji dan dirumuskan. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sekarang kita coba selesaikan penelusuran dan menghadirkan diri kembali ke masa ini. Menelaah tradisi permusikan Islam klasik terasa mengejutkan jika kita refleksikan dengan keadaan sekarang.

Hari ini, tantangan tidak hanya berasal dari dikotomi dan spesialisai keilmuan yang semakin memisahkan musik dengan dunia ilmu pengetahuan. Tetapi juga adanya fatwa sekelompok orang Islam tentang haramnya bernyanyi dan bermain musik. Padahal kondisi seperti itu akan menjadi sebaliknya jika sekelompok orang itu dan kita semua sebagai umat Islam sendiri mau mengintip mundur para intelektual muslim cum musisi abad pertengahan.

Dunia permusikan harusnya tidak teranaktirikan oleh kita sebagai umat Islam sendiri. Karena hal itu justru membuang kekayaan khazanah Islam. Ada baiknya jika kita melakukan perjalanan historis, memahami kembali gagasan Ikhwan al-Shafa bahwa musik adalah sarana spiritualitas yang mampu mengantarkan sang makhluk menuju Tuhannya. Wallahu a’lam.

Baca juga:  Riwayat Buya Hamka, Ulama Multitalenta
Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top