Sedang Membaca
Ayat-Ayat Sosiologis dalam Al-Qur’an (2): Habilisme dan Qabilisme Ali Syari’ati (Surah Ar-Ra’d ayat 11 dan Surah Al-Maidah ayat 27-31)
Nuzula Nailul Faiz
Penulis Kolom

Mondok di PP Nurul Ummah Yogyakarta dan mahasiswa di Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ayat-Ayat Sosiologis dalam Al-Qur’an (2): Habilisme dan Qabilisme Ali Syari’ati (Surah Ar-Ra’d ayat 11 dan Surah Al-Maidah ayat 27-31)

Whatsapp Image 2022 02 22 At 21.47.51

Agama Islam bagi sosok ini bukan hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga punya dimensi sosial. Islam dalam pandanganya, bukan hanya bisa mengantarkan hamba pada Tuhannya, tetapi juga bisa mengantarkan pada nilai-nilai keadilan dan kesejahteraan sosial segenap umat manusia. Dalam semangat keagamaan seperti itu, Ali Syari’ati dan segenap kiprah perjuanganya, pada kemudian hari dikenal sebagai cendekiawan dan ideolog revolusi Iran.

Ayat sosiologis kedua dalam tulisan ini, merupakan ayat-ayat Al-Qur’an yang digunakan pijakan Ali Syari’ati dalam merumuskan teorinya terkait Sosiologi Islam. Ali Syari’ati memang dikenal sebagai salah satu intelektual besar dari dunia Islam pada abad 20 dalam bidang sosiologi. Dalam menerangkan berbagai fenomena serta realitas historis sosiologi, Ia menerjemahkan kisah-kisah dalam ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam narasi sosiologis. Ia bukan hanya menerjemahkan kisah tersebut secara ekspresif naratif-verbal, tetapi juga bisa mengisyaratkan serangkaian simbol-simbol hidup darinya dengan dinamis.

Riwayat Hidup

Ali Syari’ati lahir di Mazinan, Iran, pada 24 November 1933. Ia lahir dari keluarga Syiah yang taat beragama dan berpendidikan. Ayahnya seorang guru di sekolah dasar agama, dan memiliki pandangan, bahwa Islam juga memiliki doktrin sosial dan filsafat yang relevan dengan era modern. Dari kecil, ia sudah gila membaca buku dari berbagai disiplin ilmu, seperti sastra, filsafat, sosial, dan keagamaan. Saat menginjak remaja, ia mengaku sudah membaca 2.000 buku koleksi perpustakaan pribadi ayahnya (Syariati A, 2003).

Ia kemudian melanjutkan studinya di Prancis dan bertemu dengan berbagai tokoh intelektual dunia di sana. Ia memperoleh gelar Doktor di bidang Sosiologi dan kembali ke Iran pada tahun 1963. Ia kemudian mengajar di Universitas Masyhad, dengan metode pengajaran yang kritis dan penuh perubahan. Ia juga bersikap kritis dengan kebijakan-kebijakan Pemerintah. Karena sikap kritis dan pengaruhnya pada kaum muda untuk menentang Syah Reza Pahlevi yang dianggap zalim, ia dipenjara dan ditargetkan untuk dibunuh. Pada 19 Juni 1977, jenazah Ali Syari’ati ditemukan secara misterius di lantai empat tempatnya menginap di Southampton, Inggris (Dewi E, 2012).

Ia meninggal saat Revolusi Iran belum terjadi. Dua tahun sesudahnya, yakni pada Februari 1979, revolusi berakhir dan Iran kemudian menjadi Republik Islam. Namun, Ali Syari’ati tetap tidak dilupakan sebagai peletak ideologi revolusi Iran. Ia juga dikenal sebagai perumus teori Sosiologi Islam berdasar interpretasinya atas kisah perseteruan Habil & Qabil dalam Al-Qur’an.

Baca juga:  Tafsir Surah al-Fatihah (5): Hikmah Perintah Membaca Basmalah Setiap Memulai Pekerjaan

Q.S. Ar-Ra’d ayat 11 dan Perubahan Sosial

Pemikiran-pemikiran sosiologi Ali Syari’ati bersumber dari Al-Qur’an. Syari’ati berpandangan, perubahan sosial dan perkembangan masyarakat tidak terjadi karena kebetulan. Faktor-faktor yang menurutnya bisa mendorong perubahan sosial adalah manusia itu sendiri, munculnya gagasan perubahan, dan nilai-nilai yang dianut masyarakat (Dewi E, 2012). Hal ini berdasarkan firman Allah SWT. dalam QS. Ar-Ra’ad ayat 11. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

…اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚوَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ

Artinya: …Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (Ar-Ra‘d [13]:11).

Dalam Hasyiyah Shawi disebutkan, pada ayat ini Allah mengisyaratkan bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu bangsa dari yang tadinya memperoleh kenikmatan dan kesejahteraan menjadi kesengsaraan, kecuali bangsa itu sendiri yang mengubahnya, dengan berbuat zalim atau membiarkan seseorang berbuat zalim. Dalam hadits riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, Nabi Muhammad SAW. bersabda: “Jika manusia melihat seseorang yang zalim dan tidak bertindak terhadapnya, maka mungkin sekali Allah akan menurunkan azab mengenai mereka semuanya”.

Penjelasan ini bisa dikaitkan dengan latar belakang sosial-politik negara Iran, saat Ali Syari’ati merumuskan pandangan sosiologinya. Pemerintah Syah Reza yang dianggap zalim, tentu tidak ingin dibiarkan, agar keadaan bangsa tidak semakin menjurus pada kesengsaraan. Itulah yang mendasari kenapa faktor internal merupakan faktor penting dalam perubahan sosial yang dirumuskan Ali Syari’ati.

Dalam menjelaskan ayat ini sendiri, Syari’ati berkesimpulan bahwa dalam Sosiologi ada tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial. Tanggung jawab pribadi di sini adalah usaha manusia dalam menentukan masa depan sesuai ikhtiar dan akal yang dianugerahkan Allah. Sementara tanggung jawab sosial yaitu tanggung jawab suatu bangsa secara kolektif untuk memajukan bangsanya. Keduanya, saling terkait satu sama lain (Syariati A, 1982).

Baca juga:  Tafsir Surah al-Fatihah (13): Apakah Basmalah Termasuk Bagian dari Surah al-Fatihah?

Al-Maidah ayat 27-31 dan Interpretasi Sosiologis Kisah Habil & Qabil

Kisah Habil dan Qabil diceritakan Al-Qur’an dalam QS. Al-Maidah ayat 27-31. Pada ayat tersebut, diceritakan bagaimana dua putera Nabi Adam AS. yang sedang berseteru, diperintahkan untuk mempersembahkan kurban pada Allah SWT.Perseteruan mereka disebabkan tidak bersedianya Qabil menerima perintah Allah dan ayahnya untuk menikahi Labuda, saudarinya Habil. Qabil ingin menikahi Iqlima, saudarinya sendiri yang lebih cantik. Dalam suatu riwayat, Qabil dan Iqlima dilahirkan di surga, sehingga Qabil tidak berkenan menikahi Labuda yang dilahirkan di bumi.

Kemudian, Allah memerintahkan keduanya untuk mempersembahkan kurban. Qabil yang seorang petani mempersembahkan hasil dari ladang pertanianya, sedangkan Habil mempersembahkan hewan gembalanya. Kurban yang diterima Allah adalah persembahan Habil yang diberikan dengan penuh keikhlasan. Melihat kenyataan itu, Qabil tidak diterima dan mengancam untuk membunuh Habil. Habil kemudian memperingatkan saudaranya itu, yang direkam dalam QS. Al-Maidah ayat 27-29:

…Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang-orang yang bertakwa. (27) Sesungguhnya jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam. (28) Sesungguhnya aku ingin engkau kembali (kepada-Nya) dengan (membawa) dosa (karena membunuh)-ku dan dosamu (sebelum itu) sehingga engkau akan termasuk penghuni neraka. Itulah balasan bagi orang-orang yang zalim.” (29).

Pada akhirnya, karena terbawa hawa nafsunya, Qabil kemudian membunuh saudaranya Habil. Ia ditetapkan Al-Qur’an sebagai termasuk orang-orang yang merugi dan kemudian menyesal.

Ali Syari’ati menganggap kisah Habil dan Qabil ini bukan hanya sekedar gambaran individu, melainkan bisa dianggap sebagai faham kolektif yang terus berdialektika dengan sejarah manusia. Keduanya sebagai individu sudah mati, namun faham, orientasi hidup, dan cara mereka menghadapi realitas, masih hidup dalam sejarah manusia selanjutnya. Syaria’ati kemudian memetakan manusia menjadi kelompok Habil (Habilisme) dan kelompok Qabil (Qabilisme).

Baca juga:  Ayat-Ayat Sosiologis dalam Al-Qur’an (1): Thaba’i Al-‘Umran Ibnu Khaldun (Surah Al-Ahqaf ayat 15 dan Surah Al-A'raf ayat 34)

Habil merupakan simbol masyarakat yang lemah, dieksploitasi, dijadikan budak, dan diperas tenaganya. Habilisme mewakili ekonomi penggembalaan yang primitif, dimana masih berlaku sistem milik bersama atas sumber produksi berdasar semangat persaudaraan dan kekeluargaan. Sementara Qabilisme merupakan kelompok penguasa dan pemilik tanah, serta melambangkan sistem pertanian dengan sistem milik pribadi, yang penuh tipu daya dan pelanggaran atas hak orang lain (Syariati A, 1982).

Pertarungan kedua kelompok ini berlangsung sepanjang sejarah, dengan kelompok Qabilisme sebagai pembunuh dan penindas, dan kelompok Habilisme sebagai terbunuh dan tertindas. Tindakan Qabil yang merusak persatuan kemanusiaan ajaran orang tuanya menjadi penuh konflik dan pertentangan abadi, menurut Syari’ati tidak hanya ditentukan faktor eksternal seperti norma-norma. Karena keduanya dibesarkan dalam kondisi dan ‘syariat’ yang sama oleh ayahnya, Nabi Adam AS. Menurutnya, tindakan zalim Qabil itu lebih dipengaruhi oleh pecahnya dualitas baik-buruk dalam internal manusia yang cenderung pada kezaliman, dan bagaimana caranya menyikapi realitas sosial (Syari’ati A, 1987). Qabil menjadi simbol sikap mendua manusia (musyrik) dan menonjolkan aspek manipulatif untuk kepentingan pribadi. Sementara Habil menjadi simbol tradisi agama yang konsisten menampilkan kebenaran dan kebajikan manusia.

Fakta sejarah menunjukkan Qabil akan terus hidup dalam sejarah manusia, karena Habil dikisahkan telah terbunuh. Namun menurut Syari’ati, Qabilisme bisa dilawan dengan dua cara (Dewi E, 2012). Pertama, dengan menjadikan agama bukan hanya sebagai gerakan teologis, tapi juga gerakan ideologis sebagai basis dan obsesi gerakan pembebasan. Kedua, perubahan orientasi intelektual yang memperjuangkan Habilisme, mengingat gerakan Qabilisme juga awalnya ditopang oleh gerakan intelektual. Oleh karena itu, penyimpangan kemanusiaan juga mesti dilawan dan dibongkar dengan gerakan yang sama pula.

Wallahu a’lam bish showab

 

Referensi:

Ash-Shawi, A. (Tanpa tahun). Hasyiyah Shawi ala Tafsir Jalalain. Dar al-Mukhtar.

Dewi E. (2012). Pemikiran Filosofi Ali Syari’ati. Jurnal Substantia Vol. 14 No. 2.

Syariati A. (2003). Kemuliaan Mati Syahid. Jakarta: Pustaka Zahra.

Syariati A. (1982). On the Sosiologi Islam. Yogyakarta: Amanda.

Syari’ati A. (1987). Tugas Cendekiawan Muslim. Jakarta: Rajawali Press.

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top