Sedang Membaca
Ilmuwan Muslim Cum Musisi (2): Al-Kindi, dari Menciptakan Instrumen hingga Merumuskan Bunyi

Penerjemah buku-buku sejarah klasik dan penulis literasi Islam klasik dan kontemporer. Akun media sosial; Miftahus Syifa (Facebook), @syifaAdzkiya (twitter).

Ilmuwan Muslim Cum Musisi (2): Al-Kindi, dari Menciptakan Instrumen hingga Merumuskan Bunyi

Alkindi

Cendekiawan Islam yang memperkenalkan ide-ide permusikan kepada Islam adalah al-Kindi. Nama aslinya adalah Abu Yusuf Ya’qub ibn Ilyas Al-Kindi (800 – 870 M). Ia berasal dari suku Kinda dan berkebangsaan Abbasiyah, karena hidup pada masa pemerintahan itu.

Al-Kindi dijuluki “filosof Arab” karena ia merupakan satu-satunya filosof asli keturunan Arab yang bermoyang kepada Ya’qub ibn Qathan yang bermukim di kawasan Arab Selatan. Meskipun begitu penyematan gelar matematika juga pantas disandangnya karena banyaknya pemikirannya mengenai matematika. Menurutnya, matematika adalah pengantar bagi siapa saja yang ingin belajar filsafat. 

Al-Kindi kecil dididik di Kufah. Ia beradu dengan lingkungan pembelajaran yang maju seperti menghafal Al-Qur’an, mempelajari tata bahasa, gramatika, dan kesusastraan Arab, dan juga ilmu hitung. Kesemuanya itu dipelajari karena merupakan kurikulum wajib bagi pendidikan anak-anak di kota Kufah.

Al-Kindi tumbuh besar di Baghdad pada pemerintahan al-Makmun dan juga al-Musta’sim. Para khalifah Abbasiyah pada umumnya sangat peduli pada ilmu pengetahuan dan literasi. Mereka menghadirkan iklim literasi yang sangat maju seperti pembangunan perpustakaan besar Bayt al-Hikmah oleh Harun al-Rasyid, kemudian dilanjutkan putranya Al-Makmun yang membuat Khizanah al-Hikmah.

Gerakan penerjemahan juga dilakukan para khalifah seperti menterjemah buku-buku berbahasa asing terutama bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab. Al-Makmun sendiri adalah seorang khalifah yang sangat cinta ilmu pengetahuan dan mengapresiasi kerja-kerja intelektual dengan sangat masif melakukan proyek terjemahan buku-buku ini.

Dalam tim penerjemah yang dibuat oleh khalifah itu, Al-Kindi bekerja sebagai translator dan juga penanggung jawab dari dua proyek, sedangkan proyek yang lain dipegang oleh Hunayn Ibnu Ishaq (Endress 1997). Kerja penerjemah termasuk pula Al-Kindi dibayar emas oleh istana seberat buku yang ia terjemahkan.

Berada dalam sivitas terjemahan serta pusat kegiatan intelektual yang sangat riuh, menjadikan al-Kindi sebagai sosok yang kaya literasi dan pemikiran. Ia banyak mentransmisikan pemikiran Yunani ke dalam karyanya, terutama Aristoteles dalam filsafatnya serta Phytagoras dalam matematika. Meskipun dua rumpun keilmuan itu yang paling sering ditulis oleh al-Kindi, berbagai cabang keilmuan lain juga ia geluti.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Menurut Ibnu Nadhim jumlah karya yang telah dirilis oleh al-Kindi sekitar 260 buah, meski hanya sedikit yang sampai kepada generasi setelahnya. Karya-karya yang ditulis al-Kindi meliputi filsafat, logika, kosmologi, matematika, kimia, astronomi, geologi, dan juga kedokteran. Ilmu permusikan yang hari ini tidak lagi dijamah para ilmuwan, pada waktu itu ditekuni oleh al-Kindi. Al-Kindi bahkan dicatat sebagai ilmuan Islam yang menghadirkan teori-teori musik dari Yunani ke dalam Islam.

Dalam dunia permusikan Islam, al-Kindi dianggap sebagai orang pertama yang mengelaborasi musik menjadi sebuah cabang ilmu yang bisa dirumuskan. Ide-ide tentang permusikan itu terinspirasi dari pemikiran matematika Pythagoras. Ia berpendapat bahwa instrumen musik bisa dijelaskan dan dirumuskan dengan bilangan dan hitungan yang menghasilkan notasi. Al-Kindi menyusun notasi yang mirip dengan skala nada kromatik. Simbol; A. B. J. D. H. W. Z. H. T. Y. K. L. sama dengan notasi; a. b b. c. c♯ d. e e. f. f♯ g. a. Notasi fonetis ini telah ditemukan dalam karya Al-Kindi dan juga telah digunakan jauh sebelum notasi fonetik diadopsi oleh Eropa Barat.

Bagi Al-Kindi musik sangat berkaitan dengan proporsional kosmik alam semesta. Akibat sinkronisasinya itu, musik mempunyai hubungan dengan ilmu-ilmu alam seperti metafisika, astronomi, astrologi, meteorologi dan lain-lain. Hal itu menjadikan dalil baginya bahwa musik mampu ia jelaskan hingga akhirnya ia didapuk sebagai seorang komposer yang merumuskan instrumen musik dengan pengetahuan filosofis kosmik yang telah ia kuasai.

Baca Saintis Muslim lainnya:

  1. Al-Kindi Sang Pionir Optika
  2. 4 Estetikawan Muslim Abad Pertengahan
  3. Ibnu Sina dan Runtuhnya Nalar Islam Arab
Baca juga:  Mengapa Gus Baha Sering Sekali Menyebut Nama Bapaknya?

Menciptakan Instrumen al-Ud

Ia menciptakan alat musik al-ud dengan empat dawai. Empat senar yang dirancang untuk tinggi rendah nada menurut fisika zaman itu bukan berasal dari frekuensi gelombang akibat laju getaran seperti teori bunyi yang kita kenal sekarang. Al-Kindi menempatkan empat senar itu sebagai fungsi langsung dari ketebalan.

String-A (al-bamm) adalah yang paling tebal, sesuai dengan bumi yang merupakan elemen terpadat. Urutan ketebalan berikutnya adalah senar-D (al-mathlath) yang sesuai dengan sifat air. G-string (al-mathna) menempati urutan ketebalan ketiga yang seperti udara. Sedangkan senar C (al-zir) adalah senar tertipis yang mempunya nada paling tinggi (Fadlou Shehadi 1995).

Sebagai sorang filsuf, musisi dan juga ahli kedokteran al-Kindi mengkomparasikan keilmuannya itu menjadi sebuah bentuk terapi pengobatan psikis atau yang yang dikenal dengan metode terapeutik. Setiap senar yang ia pasang pada al-ud punya filosofi tersendiri. C-string mempunyai indikasi terapeutik dapat meningkatkan sifat asertif yang menggembirakan, dan memperkuat empedu sehingga berfungsi maksimal ketika cuaca musim dingin dan pada saat tidur.

Indikasi G-string yang bekerja pada aliran darah dapat memperkuat temperamen kegembiraan, cinta, kasih sayang, dan simpatik serta bisa meminimalisir efek melankolis. D-string mempunyai indikasi dengan koneksi memori dan intelektual serta mampu mengatur sistem pertahanan tubuh. Efeknya mampu menstimulir sifat kelembutan dan keramahan serta mengatur rasa takut dan senang.

Yang terakhir adalah A-string yang berindikasi memperkuat empedu hitam dan mendinginkan darah sehingga menimbulkan efek perilaku keramahan, kesabaran serta sifat keceriaan.

Terapi medis terapeutik yang dicetuskan al-Kindi ini makin tersohor di kala ia menangani kasus yang sekarang dinamakan penyakit ayan. Al-Qifti menceritakan ketika para dokter yang ada pada saat itu tidak mampu menangani sang pasien, Al-Kindi justru mengobati sang pasien dengan terapi musik. Al-Kindi memerintahkan muridnya untuk memainkan musik kecapi sesuai arahannya.

Sembari itu, Al-Kindi yang mengetahui melodi dan ritme musik yang tepat memeriksa pergerakan denyut nadi sang pasien. Dengan metodenya itu perlahan-lahan denyut nadi sang pasien berangsur kuat dan akhirnya ia sadar.

Walaupun terkenal dengan profesi seorang filosof, Al-Kindi tidak mengenyampingkan ilmu lain karena sifat hausnya terhadap ilmu. Ia bahkan mengkolaborasikan berbagai keilmuan yang ia kuasai, termasuk ilmu permusikan.

Menyisir perjalanan intelektual Al-Kindi menjadi refleksi historis bahwa kontribusinya dalam dunia akademik dan juga musik Islam sangatlah berharga. Ia adalah seorang intelektual sekaligus pintu gerbang ilmu seni musik dalam Islam.

Pesan Kerudung Bergo
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top