Sedang Membaca
Sudah Wabah, Tertimpa Bencana Pula: Asia Tenggara Abad ke-17
Muhammad Iqbal
Penulis Kolom

Muhammad Iqbal. Sejarawan. Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam IAIN Palangka Raya. Editor Penerbit Marjin Kiri. Menulis dua buku: Tahun-tahun yang Menentukan Wajah Timur (Yogyakarta: EA Books, 2019), dan Menyulut Api di Padang Ilalang: Pidato Politik Sukarno di Amuntai, 27 Januari 1953 (Yogyakarta: Tanda Baca, 2021).

Sudah Wabah, Tertimpa Bencana Pula: Asia Tenggara Abad ke-17

Pelabuhan Lama Sunda Kalapa 1860 An 151218215601 483

Beberapa pengamat dari Eropa pada abad ke-17 percaya, bahwa Asia Tenggara sepenuhnya bebas dari wabah yang waktu itu melanda Eropa. Yang ada mungkin adalah siklus wabah yang relatif lunak. Letak Asia Tenggara yang umumnya terbuka pada lalu lintas niaga dunia pasti telah menghasilkan imunitas terhadap sebagian besar wabah yang berbahaya sebelum bangkitnya Eropa, berbeda tajam dengan keadaan di benua Amerika, Australia, dan kepulauan Pasifik.

Selain itu, kebiasaan mandi serta pola permukiman desa yang relatif menyebar bahkan di kota-kota besar, mungkin telah membatasi daya sebar wabah kota yang berlaku di Eropa dan India, seperti sampar dan tipus.

Buku Kiai Said

Tidak banyak informasi yang tersedia tentang penyakit di Asia Tenggara sebelum abad ke-16. Dalam naskah-naskah bumiputra, rujukan-rujukan yang ada hanya berasal dari zaman-zaman sesudahnya, dan hal ihwal ini menunjukkan, bahwa penyakit cacar serta penyakit perusak tubuh lainnya (kusta, dan patek atau raja singa) paling ditakuti. Cerita abad ke-17 perihal didirikannya Ayutthaya pada abad ke-14 menyebutkan adanya janji bahwa kota itu akan bebas dari cacar, tapi juga menyebutkan bahwa wabah telah membunuh setiap orang yang mencoba tinggal di sana sebelum rawa-rawa sekitarnya ditutup–menunjukkan penyakit malaria.

Menurut sejarawan Anthony Reid, Undang-Undang Hukum Malaya (Melaka) menyebutkan, bahwa penyakit kulit yang akut dibenarkan sebagai alasan perceraian atau penolakan pembelian seorang hamba sahaya. Sifilis ditunjukkan oleh sejumlah cerita tentang raja-raja yang terserang atau telah sembuh dari penyakit itu karena bersetubuh dengan perempuan tertentu–penyakit menular yang umumnya dipandang akan sembuh apabila selanjutnya orang yang bersangkutan bersenggama dengan perempuan sehat.

Istilah Melayu dari sifilis ialah penyakit raja singa, mungkin karena hanya raja yang diperbolehkan menikmati seks tak terpermanai. Sultan Iskandar Muda dari Aceh, dikabarkan nyaris mati karena penyakit yang menjangkitinya dari seorang putri dari Perak. Raja penderita sifilis yang paling masyhur ialah Raja Brawijaya dari Majapahit, yang menurut babad telah sembuh berkat berhubungan badan dengan seorang perempuan budak dari Wandan. Jordaan dan de Josselin de Jong telah meneliti sejumlah penderita “raja singa” sebagai mitos yang merujuk pada pelbagai rintangan dalam hubungannya antara penguasa dan rakyat yang lemah. Walaupun kasus ini belum merupakan bukti yang definitif, bahwa sifilis sudah ada di Asia Tenggara sebelum orang Eropa membawanya dari Benua Amerika, tetapi alasan untuk menolak pernyataan seperti itu tidaklah sekuat sebelumnya (Reid 1992).

Titimangsa abad ke-16 dan ke-17, di mana bukti-bukti yang memuaskan lebih banyak tersedia, jelas bahwa penyakit cacar merupakan wabah yang paling ditakuti di sebagian besar Asia Tenggara:

Ada beberapa penyakit menular, tapi wabah yang sesungguhnya di negeri ini (Siam) ialah cacar: sering mewabah demikian kejamnya, dan kemudian mereka mengubur mayat-mayat tanpa membakarnya: tapi karena kepatuhan menuntut mereka untuk menunjukkan penghormatan terakhir, mereka sering menggali mayat-mayat itu kembali: dan … mereka tidak berani melakukannya hingga tiga tahun kemudian, atau lebih lama lagi, dengan alasan, ujar mereka, mereka pernah mengalami bahwa penyakit menular ini bangkit lagi, jika mereka menggalinya lebih cepat.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Catatan orang Portugis dan Spanyol, menyebutkan penyakit cacar sebagai pembunuh penduduk di Maluku dan Filipina–Ternate pada 1558, Ambon pada 1564, dan Balayan sekitar 1592. Di Pegu (Birma Bawah) abad ke-17, cacar juga paling ditakuti. Begitu menyerang suatu desa, orang-orang desa yang sehat akan meninggalkan mereka yang terkena dan mulai mendirikan perkampungan baru beberapa mil jauhnya. Di pusat-pusat penduduk dan perdagangan yang besar, cacar mungkin sudah menjadi endemik pada abad ke-16, sehingga yang menjadi korban terutama anak-anak yang belum memiliki kekebalan, dan penyakit itu bangkit setiap tujuh hingga sepuluh tahun.

Galvoa misalnya, melaporkan untuk “Hindia” bahwa wabah berjangkit setiap tujuh tahun. Sebaliknya, para penduduk yang lebih terpencil, seperti yang banyak berlaku di Kalimantan dan Filipina, cacar merupakan tamu yang tidak begitu sering berkunjung tapi tetap ditakuti, dan menelan sebagian besar penduduk yang belum pernah kena. Roh cacar banyak berperan dalam mitos rakyat, terutama di Kalimantan. Orang Kadazan dari Tuaran di awal abad ini, contohnya, percaya bahwa serangan cacar yang secara berkala menyerang mereka merupakan hasil perjanjian antara Tuhan Pencipta dengan roh cacar, yang akan menyerang orang setiap empat puluh tahun untuk mengambil jatahnya sebanyak separuh dari penduduk yang hidup.

Apakah interaksi niaga yang lebih giat antara Asia Tenggara dengan Eurasia selebihnya dari abad ke-14 dan seterusnya membawa penyakit-penyakit anyar ke wilayah itu, mungkin tidak akan pernah diketahui. Hubungan maritim antara India dengan Timur Tengah, “pusat penyakit orang beradab” awal yang paling penting, telah ditutup selama seribu tahun, sehingga sebagian besar wabah luar biasa di masa lampau yang kabur, beberapa abad sebelum orang mulai mencatat. Begitulah kisah Calon Arang di Bali menunjukkan adanya wabah keras di pulau Jawa era Airlangga pada abad ke-11; sebuah legenda Lombok menghubungkan wabah dengan masuknya Islam di sana pada abad ke-17; sedangkan ramalan orang Banjar mengait-kelindakan penyakit-penyakit karena diterimanya orang Melayu, Makassar, Belanda yang asing, atau dengan kebiasaan-kebiasaan lainnya, mungkin pada abad ke-17 (Hikajat Bandjar 1968: 264, 328). Oleh sebab peninggalan-peninggalan tertulis yang ada hanya sampai pada kurun niaga, 1450-1680, tidaklah bijaksana untuk terlalu mempercayai bukti-bukti mengenai parahnya wabah kala itu. 

Sebaliknya, kedatangan orang Spanyol secara tiba-tiba ke Filipina melalui benua Amerika boleh jadi telah membawa beberapa penyakit baru, paling tidak kepada komunitas-komunitas yang lebih terasing di sana. Ini bisa menjelaskan apa yang tampak sebagai penurunan tipis dari jumlah penduduk Filipina antara dua taksiran paling awal dari 1591 dan tahun 1637, begitu juga “bencana kelaparan dan wabah” sangat parah yang menyerang Panay pada 1568-1570, persis setelah kedatangan orang Spanyol, yang kabarnya menelan separuh dari penduduknya. Kedatangan bangsa Eropa lainnya sepanjang jalur-jalur maritim yang sudah ramai digunakan selama berabad-abad tampaknya tidak memberikan dampak yang berarti dalam hal pola penyakit.

Selain itu, karena alasan-alasan yang sama, ada beberapa penyakit yang hanya terdapat di Asia Tenggara. Perihal yang sangat anyar bagi orang Eropa ialah beri-beri, yang namanya kelihatannya berasal (terlepas dari penyataan orang Sri Langka) dari kata Melayu untuk domba (biri-biri), mungkin karena penyakit itu melemahkan tungkai sehingga si penderita berjalan seperti biri-biri. Pelbagai rujukan pertama pada penyakit itu terdapat dalam surat-surat orang Portugis dari Maluku pada pertengahan abad ke-16, dan wilayah itu tidak lepas dari penyakit tersebut hingga abad ke-17. Karena kiwari kita mafhum bahwa beri-beri bermula pada kekurangan vitamin B1, yang terkandung pada kulit luar beras dan padi-padian lainnya, tidak sulit untuk mengetahui mengapa penyakit itu terdapat di sudut-sudut Asia Tenggara yang tidak menanam padi, yang makanan pokoknya bukan beras, melainkan sagu.

Tampaknya sulit diragukan bahwa wabah di Siam adalah cacar. Wabah radang paru-paru mungkin merupakan penyakit menular yang menakutkan di Jawa pada 1625-1626. Wabah yang ganas dan meluas tahun 1665 khususnya senada dengan sebuah laporan Inggris tentang wabah yang berkecamuk pada waktu yang sama di Negeri Belanda; dan identifikasi ini agak diperkuat oleh kenyataan, bahwa wabah itu menyerang paling ganas di kota-kota besar, seperti Banten, Mataram, serta Makassar. Kolera berat dalam bentuk asiatica atau morbus biasanya dipandang belum sampai ke Asia Tenggara sebelum pandemik parah 1820-1822 (Boomgaard 1987). Pelbagai alasan bagi pandangan ini, sebagaimana halnya dengan pandangan-pandangan yang sama tentang wabah pes sebelum 1911, tidak meyakinkan.

Langit (se)makin mendung

Baca juga:  Manuskrip Syeh Anom dan Jejak Pengaruh Kesultanan Demak

Faktor yang benar-benar global sifatnya sebagai penjelasan mengenai “krisis umum” setidaknya juga dimafhumi–berkurangnya suhu secara berangsur-angsur selama abad ke-17, yang mencapai puncaknya di banyak wilayah Utara pada sekitar 1690 sebelum kecenderungan kenaikan suhu di zaman modern ini dimulai. Yang juga penting adalah butki bahwa justru pada masa pendinginan global itulah, perbedaan-perbedaan iklim yang besar terjadi. Penelitian-penelitian mengenai dampak dari fluktuasi jangka pendek membuktikan adanya korelasi antara peristiwa-peristiwa El Nino dan kekeringan di Jawa. Sekalipun sangat sedikit yang diketahui perihal interaksi siklus jangka panjang di wilayah tropis seperti Asia Tenggara, tidak disanksikan lagi, bahwa pelbagai faktor iklim global memang memengaruhi, baik angka kematian karena penyakit, maupun paceklik karena kekeringan.

Dampak dari zaman es kecil itu pada kelembaban tropis tetaplah tidak jelas, sekalipun mungkin sekali ada pula perubahan-perubahan jangka pendek pada cuaca. Tidak banyak tersedia data yang teratur tentang iklim di Asia Tenggara yang bisa membantu menentukan apakah di Asia Tenggara abad ke-17 juga terjadi kesulitan-kesulitan karena iklim. Seri tree-ring (cincin-pohon) yang disusun oleh Berlage di hutan-hutan jati di Jawa Timur, yang menyediakan data tentang curah hujan setiap tahun antara 1514 dan 1929 adalah keterangan yang paling baik. Keterangan itu menunjukkan bahwa keadaan curah hujan antara 1598 hingga 1679 adalah yang paling cendala dalam 415 tahun. Selama 82 tahun dari masa kering itu, hanya 13 tahun mencapai angka rata-rata curah hujan dalam empat abad. Keadaan itu tidak terjadi dalam satu tahun pun antara 1643 hingga 1671, sehingga masa itu merupakan dasawarsa-dasawarsa paling kritis.

Membedakan baik fluktuasi jangka panjang dari jangka pendek maupun dengan menarik simpulan dari data tentang wilayah Rembang di Jawa bukanlah hal ihwal yang mudah. Sumber-sumber lain memang memperlihatkan adanya korelasi antara data Berlage mengenai masa kering di Jawa dan peristiwa-peristiwa krisis di wilayah Nusantara. Bisa diperkirakan bahwa di wilayah Nusantara bagian timur di mana kehidupan bergantung pada keseimbangan yang rumit antara musim hujan dan musim panas, tahun-tahun bercurah hujan rendah yang berkepanjangan hingga musim panas ini bisa menimbulkan kegagalan panen, paceklik, sumur-sumur menjadi kering dan kena polusi, serta wabah nan merajalela.

Masa kering pertama yang kritis dalam serial Berlage tersebut adalah kurun waktu 1605-1616. Setiap tahun dalam masa itu tercatat di bawah rata-rata, dan tahun 1606 merupakan tahun yang paling kering kedua (setelah 1603) yang tercatat sejak 1580. Menurut sejarawan Anthony Reid, sekalipun sumber-sumber deskriptif tidak banyak dari masa ini, baik sumber Belanda maupun sumber Melayu mencatat masa 1606-1608 sebagai masa paceklik yang luar biasa di Aceh (sebagian disebabkan perang), yang menyebabkan banyak orang mati. Periode yang cendala ini bisa juga mendedahkan tentang wabah yang telah mengurangi dua pertiga jumlah penduduk Kedah pada 1614, dan “pengurangan penduduk secara besar-besaran” di Maluku Utara yang sebagian besar karena perang (Reid 1999).

Sekalipun panen padi di Makassar pada 1624 cendala dan  banyak wabah berjangkit di Jawa dalam masa 1624-1625, menurut sejarawan Peter Boomgaard (1989), tahun 1620-an nampaknya relatif baik menurut data tree-ring Jawa. Bagian cendala berikut dalam serial Berlage adalah lebih pendek dari 1633 hingga 1638, dengan tahun 1634 dan 1637 sebagai yang paling cendala. Perihal ini bisa berkelindan dengan kekurangan beras yang dilaporkan di Bali pada 1633, kekeringan di Maluku tahun 1635, dan wabah yang ganas di Makassar pada 1636, di mana ribuan orang dikatakan meninggal dalam 40 hari. Sekalipun Siam juga mengalami musim kering yang berkepanjangan dan panen yang gagal pada 1633, hal-hal itu tampaknya harus dilihat sebagai akibat dari siklus iklim yang berbeda.

Arkian, seperti yang telah saya jelaskan, gambaran yang paling dramatis dari seluruh serial Berlage itu adalah masa kekeringan yang tinggi yang nampak dari tahun 1643 hingga 1671. Pentingnya data ini dikonfirmasikan dengan kekeringan di Banten pada 1657, dan “kekeringan besar” di masa 1660-1661 yang tercatat di Kalimantan bagian Selatan, di Ambon, dan “sebagian besar Nusantara”, di Palembang, Sungai Musi menjadi demikian dangkalnya sehingga kapal-kapal Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC, Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda) tidak bisa melayarinya. Titik puncak yang menyeramkan dari periode ini adalah tahun 1664-1665, tahun-tahun yang paling kering dalam rangkaian 400 tahunan mengenai tree-ring Jawa. Dalam tahun kedua dan yang paling cendala dalam masa itu tampaknya terjadi di wabah paling ganas yang memengaruhi sebagian besar dari Nusantara selama abad ke-15 ini. Jumlah penduduk Makassar dan Jawa dikatakan “sangat berkurang” karenanya, Bali serta pantai barat Sumatra pun juga (Reid 1988: 61).

Buku Tasawuf

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top