Zuly Kristano
Penulis Kolom

Menulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Jawa. Sekarang mukim di Tulungagung. FB: Zuly Kristanto, Instagram: zuly_kristanto

Dawuhan, Ritual Menjaga Air di Nglurah Karanganyar

Di Indonesia banyak sekali acara tradisi yang digelar bertujuan untuk merawat alam. Salah satu upacara tradisi yang sangat lekat dengan hal adalah tradisi “Dawuhan” yang sampai saat ini masih dilestarikan masyarakat desa Nglurah, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah.

Acara ini khusus digelar setiap hari Sabtu Legi dalam bulan Ruwah menurut sistem perhitungan kalender Jawa. Acara ini berbeda dengan acara tradisi lain yang kerap kali diadakan oleh masyarakat Jawa dalam bulan ruwah pada umumnya.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Jika upacara ruwahan pada umumnya dilakukan untuk mengirim doa kepada sanak keluarga yang telah meninggal dunia atau di tempat-tempat yang dianggap sebagai tempat sumarenya para leluhur seperti pemakaman atau punden-punden desa. Tradisi Dawuhan ini justru dilakukan di tempat-tempat yang terdapat sumber mata airnya.

Baca juga:

Sebagaimana upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pada umumnya, upacara dawuhan ini juga ditemui beragam jenis sesaji. Adapun sesaji yang digunakan dalam upacara ini antara lain adalah beragam macam bunga, kemenyan, dan nasi golong atau nasi berkat.

Bunga dan nasi golong ini dibawa oleh setiap warga yang menggelar acara tersebut. Tujuan penggelaran acara tradisi ini selain untuk mengucapkan rasa syukur atas karunia berupa sumber air yang melimpah juga digunakan sebagai ajang untuk memperat persaudaraan masyarakat sekitar.

Baca juga:  Rumi Masih Menari di Yogyakarta

Untuk masyarakat Nglurah sendiri upacara Dawuhan ini digelar di sebuah aliran sungai yang bernama sungai uli-uli.

Sungai yang aliran airnya berada di lereng gunung Lawu ini oleh masyarakat sejak dahulu telah digunakan untuk berbagai keperluan. Maka dari itu lewat upacara Dawuhan ini selain untuk mengucapkan rasa syukur, masyarakat yang menggelar acara tersebut juga turut menjaga kelestarian dari sungai uli-uli ini.

Menurut keyakinan warga setempat tradisi Dawuhan ini merupakan upacara yang diturunkan oleh leluhurmereka yang bertujuan untuk menjaga dan melestarikan sumber mata air.

Di sisi lain tradisi ini juga dgelar sebagai bentuk ucapan rasa terima kasih kepada Tuhan. Dan yang tidak kalah pentingnya melalui tradisi ini masyarakat Nglurah bisa saling bekerjasama untuk merawat kelestarian sumber mata air tersebut serta menjaga keharmonisan hidup bertetangga.

Biasanya tradisi ini mulai diglar sekitar pukul sepuluh pagi. Pada saat itu warga sekitar sungai uli-uli dengan membawa berbagai piranti yang dibutuhkan akan berduyun-duyun ke tepian sungai Uli-uli. Begitu sampai di tepi sungai tersebut sesaji segera di taruh dan kemudian di do’akan oleh sesepuh desa setempat.

Tentang doa yang dipanjatkan selain ucapan terima kasih juga permohonan agar masyarakat desa tansah mendapat keberkahan sekaligus perlindungan dari segala hal yang tidak baik.

Baca juga:  Warisan Kuliner Istana Prawoto: Membaca Berita dalam Serat Centhini

Dalam kesempatan itu turut pula di tawasulkan doa kepada Kanjeng Sunan Kalijaga dan para leluhur yang telah terlebih dahulu berada di alam keabadian.

Setelah selesai di do’akan nasi berkat yang dibawa oleh masyarakat tadi lantas dibagi-bagikan kepada mereka yang hadir pagi itu. Uniknya dalam pembagian nasi berkat ini mereka tidak akan membawa berkat yang mereka bawa tadi. Berkat dari setiap yang datang dalam upacara ini akan ditukar dengan warga lain.

Selain itu salah seorang sesepuh desa juga akan membagi-bagikan ayam yang dimasak dengan cara direbus kepada mereka yang hadir pada hari tersebut. Daging ayam yang digunakan dalam acara ini dimasak dengan menggunakan dua cara yakni dimasak dengan cara dipanggang dan ada ayam lain yang dimasak dengan cara direbus dengan menggunakan bumbu-bumbu khusus.

Setelah acara selesai sejumlah berkat akan dimakan bersama di lokasi. Sedangkan sebagian lagi akan dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Cara ini ditempuh bertujuan untuk mengguggah kesadaran manusia agar tidak hanya mencintai alam saja, tetapi juga mengandung pesan agar sebagai manusia mau kita harus mau berbagi dengan sesama secara ikhlas.

Mengenai kemenyan yang digunakan dalam prosesi jalannya acara ini merupakan sebuah simbolisasi bahwa sesuatu yang kurang baik harus diredam. Sehingga sesuatu yang baik bisa terbuka. Kemenyan secara alami memiliki kemampuan untuk menyerap aroma yang kurang baik dan menggantinya dengan aroma yang baik.

Sebagaimana dengan sifat alami yang ada dalam kemenyan ini, setidaknya kita bisa mengambil sebuah nilai bahwa sebagai manusia kita harus mampu mengikat semua yang kurang baik dan menggantinya dengan kebaikan-kebaikan dengan adanya kemampuan yang seperti ini, niscaya kehidupan akan menjadi lebih baik.

Baca juga:  Sekedup, Budaya Haji yang Dianggap Bid'ah
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top