Sedang Membaca
Filosofi Bunga Kamboja: Kembang Kuburan

Mahasiswa Fakultas Ushuluddin di Universitas Islam Negeri Salatiga (UIN Salatiga), tinggal di kota Susu New Zealand van Java, Boyolali.

Filosofi Bunga Kamboja: Kembang Kuburan

Bunga Kamboja

Mendengar kata bunga pasti yang terlintas dalam pikiran kita adalah sesuatu yang mewakili hal-hal romantis atau sesuatu yang indah namun akan berbeda cerita bila kata bunga tersebut disandingkan dengan sesuatu yang menyeramkan seperti kuburan pertanda makhluk halus dan hal-hal yang berbau klenik pasti akan berbalik  dan berbeda ceritanya

Seiring berjalannya waktu kepercayaan akan hal tersebut masih dapat ditemui di tengah masyarakat walaupun tak sedikit pula sebagian orang yang menyangkal Dan menganggap bahwa hal itu hanyalah takhayul Semata yang selama ini hidup ditengah masyarakat, dengan dalih hal tersebut tidak dapat dibuktikan secara logika dan sains.

Salah satu bunga yang sering dianggap bersinggungan dengan dunia mistis adalah bunga kamboja. Tumbuhan bernama latin Plumiera acuminata ini pada awalnya adalah spesies tumbuhan yang berasal dari  benua Amerika tropik yang kini persebarannya hampir di seluruh dunia termasuk Indonesia.

Bunga Kamboja asli Indonesia memiliki ciri khas berupa dominasi warna putih dengan sedikit warna kuning didalamnya dan kelopaknya yang tertutup, bunga seperti ini sering digunakan oleh masyarakat Bali sebagai perlengkapan ibadah. Selain itu bunga Kamboja di pulau jawa sering ditemukan di area pekuburan.sehingga bunga ini mendapatkan julukan sebagai kembang kuburan.

Penanaman bunga ini di pekuburan ternyata bagi orang Jawa adalah simbol yang memiliki makna tersendiri, simbol merupakan suatu bentuk komunikasi yang tidak langsung. Artinya komunikasi tersebut terdapat pesan-pesan tersembunyi, sehingga makna simbol sangat bergantung pada interpretasi individu titik. Selain itu dapat juga berfungsi sebagai pedoman sosial dan sebagai alat untuk melakukan hegemoni budaya.

Baca juga:  "Slow Food, Slow Living, Slow Sex.... Selow Wae..."

Mayoritas orang jawa memiliki kecenderungan sifat semu atau terselubung, penuh simbol, dan suka menyampaikan sesuatu secara tersirat dengan menggunakan benda-benda tertentu atau memadatkan kata suatu benda yang pada awalnya adalah nama benda menjadi sebuah petuah atau nasehat, sebagaimana ungkapan jawa yang berbunyi “Wong Jowo panggone semu, sinamun ing samudana, sasodone ingadu manis”. Hal ini merupakan hasil olah krida, cipta, rasa, dan karsa masyarakat Jawa.

Penanaman bunga Kamboja di pemakaman ternyata memiliki maksud yang bermuatan petuah yang sangat luhur, dan fakta sebenarnya sangat bertolak belakang dan jauh dari kesan-kesan takhayul seperti anggapan yang mengatakan bahwa bunga Kamboja adalah tanaman yang disukai oleh makhluk halus dan pohonnya adalah tempat tinggal bagi lelembut.

Anggapan itu sangat bertolak belakang dengan fakta sebenarnya. Keberadaan pohon Kamboja yang ditempatkan di pemakaman ternyata memberikan pesan kepada siapapun agar tidak lupa mendoakan kebaikan dan memohonkan ampun untuk si mayat yang telah meninggal dunia, karena yang mereka nanti nantikan tidak lain hanyalah doa dari mereka yang masih hidup yang disimbolkan dengan indahnya bunga Kamboja.

Penggunaan pohon Kamboja sebagai simbol perintah untuk berdoa dikarenakan bentuk dahannya mirip dengan posisi tangan menengadah ketika seseorang tengah memanjatkan doa kepada tuhan. Maksudnya siapapun yang singgah di tempat pohon tersebut tumbuh diharapkan ia akan meluangkan waktunya sejenak untuk mendoakan kebaikan dan memohonkan ampun untuk si mayat.

Baca juga:  Tradisi Al-Azhar: Muazin Harus Tunanetra

Dalam islam mendoakan dan memintakan ampun untuk orang yang sudah meninggal dunia adalah hal yang sangat dianjurkan. Bahkan merupakan salah satu rukun dalam khutbah sholat jum’at. Sehingga kurang tepat jika pohon Kamboja yang biasa ditemukan di pemakaman dihubung-hubungkan dengan hal-hal takhayul karena penanamannya memiliki maksud yang bermuatan petuah luhur.

 

Sumber referensi

Haryanto, sidung .2013. Dunia simbol orang jawa. Kepel Press

Sholikin, Mohammad. 2013. Ritual dan Tradisi islam jawa. Yogyakarta. Penerbit Narasi

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
3
Senang
2
Terhibur
0
Terinspirasi
1
Terkejut
0
Scroll To Top