Sedang Membaca
Kisah-Kisah Spiritual: Pertemuan Para Burung

Kisah-Kisah Spiritual: Pertemuan Para Burung

Setyaningsih

Usaha, penerimaan, dan keinsafan manusia atas dunia ini diibaratkan hidup laba-laba. Dengan tekun dan menakjubkan, laba-laba menggarap rumahnya dengan jaring-jaring yang kuat. Jika seekor lalat terjebak, laba-laba segera menyergap dan menjadikannya makanan. Laba-laba mungkin sadar hidup serta rumahnya akan selesai begitu penghuni rumah menyapu semuanya.

“Jaring laba-laba itu melambangkan dunia: lalat itu rizki yang telah diberikan Tuhan di sana bagi makhluk-Nya. Andaikan seluruh dunia sekalipun jatuh ke tanganmu, kau dapat kehilangan semua itu dalam sekejap saja,” itulah salah satu bunyi puisi religius sufi dari Persia, Fariduddin Attar, yang ditulis sekitar abad ke-12.

Diterjemahkan oleh Hartojo Andangdjaja, kita bisa menyimak kembali larik mistik religius Musyawarah Burung (2018) sebagai pertemuan dan perbincangan ke jalan rohani.

Para lakonnya adalah burung-burung yang tengah berkumpul demi melakukan perjalanan menuju Simurgh sang raja burung di Pegunungan Kaukasus yang bulu-bulunya memiliki daya magis. Simurgh merupakan lambang Tuhan sekaligus pelindung para pahlawan.

Perjalanan ragawi para burung di luar arti harfiahnya melambangkan daya menghadapi segala godaan (harta) keduniawian, keinginan, kelemahan, kesombongan, ketakutan. Selang-seling, pembaca turut mendapat cerita-cerita sufistik para orang suci, nabi, maha penggila (Tuhan), pengemis, penguasa, dan para binatang lain.

Di dalam kitab suci, para binatang memiliki kedudukan bernas. Attar merujuk pada kedudukan ini untuk binatang sebagai juru bicara atas keimanan. Burung Hudhud, pengawal bala pasukan Nabi Sulaiman dan pembaca pesan, didaulat menjadi pemimpin kawanan perjalanan sekaligus pemantik pertanyaan yang menginsafkan keluhan para burung.

Baca juga:  Melacak Akar Konflik Timur Tengah

Laba-laba sebagai penganalog dunia pernah menyelamatkan Nabi Muhammad dari kejaran musuh. Binatang sekecil nyamuk pun mampu mengalahkan Raja Nimrod yang memerangi Ibrahim.

Attar pun menghadirkan burung feniks atau phoenix, burung legendaris dalam dongeng, sering menjadi lambang keberanian dan kebenaran. Namun, raga kelahiran dan kematian feniks lebih mewartakan keberserahan di kesendiriannya. Feniks selalu tahu kapan akan mati. Dia mengumpulkan daun-daun dan menggemakan jeritan nan sayu.

Dari keberserahan atas maut, muncul kelahiran yang baru, “Api itu menjalar ke daun-daun palma, dan segera daun-daun dan burung itu pun menjadi bara yang hidup dan kemudian menjadi abu. Tetapi ketika bunga-api penghabisan telah padam, seekor feniks kecil yang baru timbul dari abu itu.”

Di cerita “Syaikh Abu Bakar dari Nisyapur”, ada keinsafan jenaka dipantik oleh suara kentut khimar (keledai) tunggangan seorang syaikh. Diceritakan syaikh sedang keluar diiringi para pengikutnya yang sangat banyak. Tiba-tiba, khimar syaikh kentut dengan keras.

Tenyata, ketika menunggang khimar dan diiringi begitu banyak pengikut, syaik membayangkan kelak “pasti akan berkendara dengan kemegahan dan kehormatan di padang mahsyar.” Suara kentut khimar itu jadi pembayaran dari fantasi kesombongan nan saleh syaik. Suara kentut yang sepele atau bahkan sering disepelekan secara telak menegur pemujaan berlebih pada kesalehan diri.

Judul : Musyawarah Burung

Penulis : Fariduddin Attar

Penerjemah : Hartojo Andangdjaja

Penerbit : Kakatua

Cetak : Pertama, November 2018

Tebal : viii+188 halaman

ISBN : 978-602-50848-8-1

Baca Juga
Status Facebook Pertama Ayahku

Kekayaan
Larik-larik Attar lahir dari latar tradisional sufistik, sebelum rasio dan kebendaan menjadi patokan. Maka, kita pasti akan menemukan penutupan cerita berpetuah atau berhikmah. Hikmah itu berpusat pada daya diri untuk tidak terikat pada benda-benda duniawi melenakan. Dalam larik Attar, keduniawian ini diwakili oleh emas, perak, uang, istana bersepuh emas, dan jubah kebesaran. Kita secara imajiner dibawa kembali pada kenihilan tanpan atribut dunia modern. Ketelanjangan adalah mutlak cara menyatu dengan Tuhan.

Di “Dalih Burung Ketujuh” kita menyimak seekor burung mengeluh kepada Hudhud, “Aku cinta akan emas; bagiku ia seperti buah badam dalam kulitnya yang keras itu. Bila aku tak punya emas, terikat rasanya tangan dan kakiku.

Cinta akan keduniawian dan cinta akan emas telah mengisi diriku dengan keinginan-keinginan tak berarti, yang membutakan diriku akan perkara-perkara keruhanian.” Keluhan harta duniawi inilah yang cukup sering disinggung sebegai hal yang melenakan.

Baca juga:  Warisan Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Para Santrinya

Baca juga:

Namun, Hudhud yang bijaksana tetap memberi jawaban yang egaliter, “…kau tak usah menggunakan benda-benda duniawi sama sekali, tetapi hendaknya kaupergunakan apa yang kaumiliki itu secara luas. Nasib baik hanya akan datang padamu apabila kau memberi. Jika kau tak dapat meninggalkan hidup sama sekali, setidak-tidaknya kau dapat membebaskan dirimu dari cinta akan kekayaan dan kehormatan.”

Bandingkan dengan “Mahmud dan Si Gila Tuhan” yang untuk kesekian kali menyinggung harta dan kedudukan yang tidak memiliki arti di hadapan kesedihan. Si fakir menegur kesementaraan diciptakan oleh kekayaan. Yang kaya harta justru fakir iman. Diceritakan seorang fakir sedang sedih karena duka dan menghardik Sultan Mahmud agar pergi.

Mahmud tentu ingin diperlakukan selayaknya sultan diperlakukan. Si fakir malah berkata, “Jika kau tahu, o si bodoh, bagaimana kamu terjungkir-balik, kerajaan dan kekayaan pun tak ada artinya; kau akan meratap tiada hentinya dan membakar kepalamu.”

Berabad-abad usia Musyarawah Burung, masih mendapatkan para pembaca di abad ke-21. Dialog ruhani para burung, kisah fantastis para orang suci, cerita kefakiran nan dramatis, dan penyerahan diri ke Tuhan di luar nalar, seperti terlalu jauh dijangkau apalagi (berani) diteladani. Kita mungkin masih tetap merasakan kedekatan secara spiritual sebagai sesama umat beragama. Namun, ada yang tetap tidak terjangkau dari cara hidup yang sedemikian berserah demi mencapai ketinggian rohani.

Baca juga:  Peter Carey: Perjalanan Mistis Mencari Pangeran Diponegoro

Memang terasa sulit terbayangkan efek buku ini bagi para pembacaan mutakhir. Kaum saleh modern kita jelas bukan orang-orang yang mengharamkan kekayaan dan harta benda. Tidak ada yang salah atau dosa untuk menjadi kaya, bahkan malah dianjurkan. Kesalehan modernitas mutakhir semacam memberikan dalih lebih baik kaya, tapi dermawan. Kekayaan harus diselingi dengan kebaikan dan dipergunakan di jalan yang direstui Tuhan.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top