Sedang Membaca
Benarkah Kita Sudah Memohon Maaf?
Penulis Kolom

Penggiat isu-isu kedamaian dan sosial di Kindai Institute Banjarmasin

Benarkah Kita Sudah Memohon Maaf?

maaf

Syawal sudah akan berakhir. Kemarin, saya masih mendapatkan pesan ucapan dan permohonan maaf lewat Whatsapp, ketika berkomunikasi dengan seorang teman. Menariknya, sebagaimana pesan-pesan saat Idul Fitri kemarin, ucapan selamat dan permohonan maaf format digital makin populer dalam perayaan lebaran dalam beberapa tahun terakhir ini.

Kita mungkin tidak sempat menghitung berapa pesan bergambar atau meme yang hinggap di akun media sosial atau aplikasi berbagi pesan. Rasanya sudah tidak zamannya lagi mengirimkan kartu ucapan Idulfitri kepada sanak keluarga, teman, hingga handai taulan.

Dengan alasan bisa dibubuhi gambar dan dihias dengan sesuai keinginan si pembuat sepertinya menjadikan pesan bergambar atau meme jadi populer di masyarakat, khususnya pengguna aktif internet, sebagai pengganti kartu ucapan Idulfitri.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tentu kita semua tahu tradisi berkirim ucapan selamat Idulfitri/Lebaran atau permohonan maaf di perayaan hari raya umat Islam, bukan hal baru di Indonesia.

Tradisi Kartu Idulfitri

Hendri F. Isnaeni pernah menuliskan laporan tentang dinamika kartu ucapan Idul Fitri di Indonesia. Dalam laporannya di Historia.id, Isnaeni mengatakan bahwa kebiasaan berkirim kartu ucapan tak bisa dilepaskan dari perkembangan kartu pos dan kemudian menyebar ke seluruh dunia.

Namun, dia sulit menentukan kapan umat Islam Indonesia mulai menggunakan kartu lebaran, terlebih sebagai medium ucapan dan permohonan maaf. Selain itu, kartu ucapan lebaran sempat mendapatkan penolakan di kalangan umat Islam karna dianggap meniru tradisi agama lain.

Baca juga:  Kidung Jawa: Catatan Santri Tahun 1809

Sebaliknya, kala kartu tergantikan dengan berbagai model ucapan selamat Idulfitri yang dikirim lewat  ponsel dan internet, sebagian besar umat Islam malah tidak mempermasalahkannya.

Bahkan, bejibun ucapan ditulis dan dikirim lewat pesan singkat atau memasang status di media sosial.

Arkian, makna ucapan perayaan Idul Fitri semakin kompleks karna mendapat sentuhan digital, dimana dapat menjadi nuansa baru pada Islam di Indonesia. Namun kita perlu mengulik bagaimana dinamika perjumpaan, resistensi, pergeseran, dan pergulatan antara agama, tradisi masyarakat, dan teknologi, yang terekam dalam sebuah ucapan di meme atau kata-kata sebuah pesan singkat sebagai bagian dari perayaan Idulfitri di masyarakat.

Mohon Maaf Secara Daring

Jika dulu lebaran dimaknai sebagai momen untuk saling mengunjungi dan meminta maaf kepada siapapun. Oleh sebab itu, sejak dulu kita terbiasa berbagi ucapan maaf atau selamat lebaran dengan saling berkunjung ke rumah-rumah di wilayah pemukiman tempat tinggal.

Sekarang karena semakin luasnya pergaulan dan perjumpaan antar masyarakat (plus faktor pandemi), maka penggunaan ponsel atau internet adalah pilihan paling logis untuk saling terhubung dan berbagi ucapan dan kata maaf.

Jika sebelum ini kita terbiasa mengirimkan sebuah pesan singkat ke seluruh kontak yang tertera di telepon genggam, sekarang kita mulai aktif membuat sebuah ucapan yang berisi kata-kata, gambar, hingga video untuk diunggah di akun media sosial.

Dalam pergeseran ke ranah digital tersebut, saya melihat terdapat minimal dua perbedaan mencolok antara ucapan yang disampaikan lewat lisan dengan yang diproduksi bantuan teknologi.

Baca juga:  Denys Lombard ke Makam Kiai Telingsing: Ziarah dalam Sepi (3, Bagian Akhir)

Pertama, perbedaan rima, lirik dan diksi yang dipakai. Kebanyakan ucapan selamat lebaran dan permohonan maaf yang dikirimkan disusun dengan kata-kata yang sengaja memiliki rima atau lirik puitis.

Kedua, ucapan didesain penuh warna dan tidak sedikit juga dibubuhi foto pengirim sambil bersedekap. Biasanya dengan bantuan aplikasi yang familiar di kalangan warganet, foto dan format ucapan yang semakin berwarna dan unik menjadi semakin mudah dibuat.

Maaf Secara Lisan

Ucapan Idulfitri dan permohonan maaf yang disampaikan lewat lisan di masyarakat biasanya lebih sederhana dan sukarela. Bahkan, dalam momentum antar manusia tersebut biasanya terbangun kehangatan dan ketulusan. Hal ini mungkin jarang sekali atau susah bisa kita jumpai di ranah digital atau internet.

Seorang penulis asal Amerika Serikat, Nicholas Carr, dalam epilog bukunya menegaskan bahwa unsur manusiawi dalam diri kita sedikit banyak telah mulai dikikis dengan kehadiran internet dan komputer.

Menurutnya, manusia pada akhirnya akan tergoda untuk mempercayai komputer melakukan apa yang disebutnya dengan “berbagai tugas yang menuntut kebijaksanaan (baca: unsur-unsur manusiawi)”.

Dalam hal ini, tradisi bermaafan dan mengirimkan ucapan yang menghadirkan kehangatan dan ketulusan sebagai unsur manusiawi, malah mulai kita percayakan pada komputer atau teknologi digital. Akibatnya, proses memohon maaf dan ucapan Idulfitri rentan kehilangan kedua unsur manusiawinya.

Baca juga:  Kenusantaraan yang Bagai Semar Sang Pakubumi

Kesadaran Semu Akan Realitas di Tengah Momen Idulfitri

Jika kegelisahan Carr di atas disandarkan pada terkikisnya unsur manusiawi dalam perjumpaan manusia dengan internet. Slavoj Zizek, filsuf dari Slovenia, malah menghadirkan kegelisahan yang lebih jauh dari Carr. Zizek mempermasalahkan realitas manusia yang diganggu akibat perjumpaan dengan internet.

Zizek mempermasalahkan kemampuan internet dalam menghadirkan kesadaran akan realitas virtual yang masuk ke otak tanpa melewati organ perasa kita. Zizek menyebut fenomena ini dengan istilah “Pecangkokan Otak”.

Sebagaimana situs web yang dapat membuat kita “berkeliaran bebas ke mana-mana” dengan memilih situs dengan pikiran dan kemudian masuk ke dunia di sana, tanpa ada organ perasa kita yang merasakannya.

Kita, menurut Zizek, malah bisa berlompatan dari satu realitas ke realitas lain hanya dengan kekuatan pikiran, di mana tubuh kita minim merasakan perubahan tersebut. Berangkat dari titik ini, pertanyaan apakah kita benar-benar meminta maaf atau memberi ucapan ketika melayangkannya lewat media sosial, menjadi relevan sebagai renungan kita.

Sebab, jika realitas yang dihadirkan dalam internet hanyalah sesuatu yang kita persepsikan atau tidak benar-benar kita rasakan secara fisik, apakah kita patut mempertanyakan ucapan selamat Idulfitri atau permohonan maaf yang diunggah di internet.

Jangan-jangan kita tidak benar-benar meminta maaf atau mengucapkan selamat Idulfitri kepada siapapun.

 

Fatahallahu alaihi futuh al-arifin

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top