Sedang Membaca
Jejak Tarekat dalam Mantra Osing
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Jejak Tarekat dalam Mantra Osing

Ayung Notonegoro

apa salah dan dosaku sayang/cinta suciku kau buang-buang/lihat jurus yang kan kuberikan/jaran goyang jaran goyang

Penggalan lagu bergenre dangdut koplo yang dipopulerkan oleh Via Valen tersebut menceritakan tentang sebuah mantra yang berkembang di Suku Osing, Kabupaten Banyuwangi. Mantra “jaran goyang” itu, adalah mantra yang digunakan untuk memikat cinta lawan jenis.

Dengan pembacaan mantra tersebut, disertai laku ritual tertentu, dipercaya bisa menaklukkan kekasih hati. Setaksuka dan sebenci apapun orang tersebut.

Selain “jaran goyang” sendiri, di komunitas Osing juga dikenal mantra-mantra lainnya. Dalam konteks percintaan misalnya, ada mantra “sabuk mangir”. Mantra yang berhubungan dengan “cinta kasih” ini, dalam kultur Osing dikenal dengan nama “santet”. Yaitu, sebuah akronim dari “mesisan kantet/ sekalian rekat” dan/atau “mesisan bantet/ sekalian pisah”.

Makna yang pertama, bertujuan menyatukan dua insan yang tak saling mencintai atau salah satu yang tak cinta. Sedangkan makna kedua, bertujuan untuk memisahkan dua orang yang saling mencintai. Biasanya, untuk konteks kedua ini, dilakukan oleh orang tua yang tak merestui percintaan anaknya atau dilakukan oleh seseorang yang patah hati.

Definisi santet yang demikian seringkali tumpang tindih dengan istilah “sihir”. Terutama, pasca kejadian tragedi pembantaian dukun santet di Banyuwangi pada dua dasawarsa silam (1998). Banyak yang salah memahami bahwa santet serupa dengan sihir yang bertujuan untuk membunuh seseorang. Padahal, dalam kultur Osing, keduanya merupakan hal yang berbeda. Santet merupakan magi berjenis putih (positif), sedangkan sihir bermagi hitam (negatif).

Mantra yang berkembang di tengah masyarakat Osing tersebut, dipercaya sejak Banyuwangi masih menjadi bagian utama dari Kerajaan Blambangan. Yaitu, kerajaan Hindu terakhir di tanah Jawa yang ditaklukan oleh Belanda usai perang Bayu (1771-1772). Namun, pendapat ini tak didukung dengan argumentasi yang memadai. Corak Hindu hampir tak ditemukan -untuk mengatakan tidak ada- dalam mantra. Baik secara struktural mantra maupun dalam ritusnya itu sendiri.

Jika diperhatikan lebih seksama, justru berbagai mantra tersebut sangat erat dengan nilai-nilai islami. Sila perhatikan beberapa teks mantra Jaran Goyang berikut ini:

Baca Juga:  Sabilus Salikin (59): Wirid Malam Tarekat Ghazaliyah

Bismillahirrahmanirrahim
Niat isun matek aji jaran goyang
Sun goyang ing tengah latar
Sun sabetaken gunung gugur
Sun sabetaken lemah bangka
Sun sabetaken segara asat
Sun sabetaken ombak sirep
Sun sabetaken atine jabang bayine …..
Kadung edan sing edan
Kadung gendheng sing gendheng
Kadung bunyeng sing bunyeng
Sih asih kersane Gusti Allah
Laa ilaaha illallah Muhammadur rasulullah

Perhatikan kalimat pembuka dan penutup dari teks mantra tersebut. Pengaruh keislaman begitu terasa kuat. Diawali dengan pembacaan basmalah, lalu dilanjutkan dengan ikrar “niat” serta ditutup dengan kepasrahan total pada “Gusti Allah” dan pembacaan syahadat.

Kuatnya pengaruh keislaman dalam teks mantra tersebut, bahkan membuat para pengkaji mantra tak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan. Heru S.P Saputra dalam bukunya “Memuja Mantra: Sabuk Mangir dan Jaran Goyang Masyarakat Suku Using Banyuwangi” (LKiS: 200] tanpa segan menuliskan kontradiksi tersebut.

“Penggunaan ucapan bismillahirrahmanirrahim sebagai unsur pembuka dalam mantra SM [sabuk mangir, pen] dan JG [jaran goyang, pen] mengindikasikan adanya pengaruh Islam. Akan tetapi, sulit untuk melacak secara pasti kapan pengaruh tersebut masuk ke dalam teks mantra.

Para dukun hanya menyebutkan bahwa ucapan bismillahirrahmanirrahim pada mantara SM dan JG sudah ada sejak mantra tersebut ada. Padahal, mantra jenis santet [termasuk mantra SM dan JG] diyakini oleh masyarakat Using muncul pada masa pascaperang Puputan Bayu [1771-1772].”

Kontradiksi yang belum mampu dijelaskan oleh akademisi dari Universitas Negeri Jember tersebut, menimbulkan hipotesa dibenak penulis.

Tradisi mantra tersebut, sejatinya muncul dari tradisi tarekat yang berkembang di dunia Islam. Di mana, pasca perang Bayu, secara gradual terdapat gelombang islamisasi di Blambangan. Dalam proses inilah, terdapat jejak-jejak para penganut tarekat yang turut membawa tradisi mantra dalam ajaran-ajarannya.

Persebaran tarekat di Banyuwangi sendiri masih belum diteliti secara komprehensif. Sama halnya dengan proses islamisasi di ujung timur pulau Jawa ini. Namun, bukan berarti tak ada informasi sama sekali tentang itu. Karel A. Steenbrink dalam bukunya “Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19” [Bulan Bintang: 1984] merekam hal tersebut.

Baca Juga:  Makrifat Realitas Diri atas Langit (3)

Pada 1866, Belanda menghukum kerja paksa seorang ulama bernama Kiai Nur Hakim ke Banyuwangi selama empat tahun lamanya. Hukuman tersebut, dikarenakan Belanda kuatir dengan pengaruhnya. Ia adalah seorang pengamal tarekat Rifaiyah dan mengembangkan tarekat Akmaliah.

Dalam laku tarekatnya, kiai asal Paserwetan, Banyumas tersebut mengajarkan tentang mantra-mantra kepada para santrinya. Sebagaimana terkumpul dalam sebuah primbon yang disebarkan dikalangan para pengikutnya.

Selain berisi ajaran-ajarannya, dalam primbon yang dianggit oleh Kiai Nur Hakim itu, juga terdapat mantra-mantra. Diantaranya sebagai berikut:

Mantra “sirep braja” yang berfungsi untuk membuat orang tak berdaya:

Bismillahirrahmanirrahim
Braja tutut braja irut
Braja padem braja sirep
Rep sirep, rep sirep, rep sirep

Adapula mantra untuk menangkal senjata api [bedil]:

Baca Juga

Lunga tuwan salaku datang tuwan Allah
Dudu gagawen ingsun
Gagawen tutungguna pande
Guna saguna guna yang wisesa
Banyu munah banyu kapunah
Allah nu munah

Memang tak ada catatan lebih lanjut bagaimana pengaruh ajaran Kiai Nur Hakim selama tinggal di Banyuwangi. Namun, besar kemungkinan, ia mengajarkan ilmunya tersebut kepada penduduk setempat. Baik orang suku Osing sendiri, maupun pendatang yang bertempat tinggal di Banyuwangi.

Penggunaan mantra di kalangan penganut tarekat di Banyuwangi juga ditemukan pada sebuah manuskrip primbon yang kini dikoleksi oleh Kiai Abdurrahman dari Pesanggaran, Banyuwangi. Manuskrip tersebut ditulis oleh kakek buyut dari Kiai Abdurrahman, H. Ya’qub yang berasal dari Tegaldlimo, Banyuwangi. Diperkirakan primbon tersebut ditulis pada 1870-an. H.

Ya’qub sendiri merupakan seorang santri dari Pesantren Tegalsari, Ponorogo asuhan dari Kiai Hasan Besari. Dari tempat asalnya tersebut, Ya’qub yang bernama asli Aspangi itu, lantas menetap di Banyuwangi. Ia merupakan seorang penganut Tarekat Naqsabandiyah Khalidiyah sekaligus seorang guru ngaji di tempat tinggalnya tersebut.

Baca Juga:  Wiridan Konsolidasi dan Ngaji Kontekstual ala Pesantren Sekarang

Dalam primbon yang berisi berbagai macam bab itu, juga terdapat tradisi mantra. Salah satu mantra yang tertulis dalam manuskirp tinggalannya tersebut adalah mantra untuk melewati tempat-tempat yang dianggap angker. Demikian tulisnya:

Bismillahirrahmanirrahim
Jalmo moro jalmo mati
Demit moro demit mati

Dari beberapa mantra yang berkembang di kalangan pengikut tarekat di Banyuwangi ini, terdapat beberapa kesamaan dengan tradisi mantra yang berkembang di kalangan masyarakat Osing. Penggunaan lafaz basmalah sebagai pembuka dan bahasa daerah sebagai media mantra menjadi ciri kuatnya.

Sejumlah indikasi keterakaitan antara tradisi mantra di kalangan tarekat dan masyarakat Osing tersebut, dikuatkan lagi oleh sebuah cerita tutur yang berkembang di sebagian kecil masyarakat Osing. Suhailik – salah seorang penggiat sejarah Banyuwangi – mendapat cerita bahwa penyebaran sihir dan santet di Banyuwangi diajarkan oleh Syekh Hasan.

Konon Syekh Hasan tersebut, berasal dari Banten. Ia datang ke Banyuwangi membantu Datuk Abdurrahman Bawazir untuk mendakwahkan Islam. Nama yang terakhir ini adalah seorang habaib yang berasal dari Yaman. Awalnya, ia berdakwah di Jembrana, Bali. Namun, sejak 1844, ia menetap di Banyuwangi dan menjadi juru dakwah. Apa yang diajarkan oleh Syekh Hasan tersebut tak lain bertujuan untuk membantu rakyat pribumi dalam menghadapi para kolonialis. Dimana para penjajah itu telah menggunakan persenjataan canggih yang sulit diimbangi oleh pribumi.

Memang sejumlah indikasi tersebut belum memberikan argumentasi yang kokoh. Masih perlu penelitian lebih lanjut. Setidaknya, hipotesa ini memberikan diskursus baru dalam menjawab kontradiksi sebagaimana yang diungkapkan oleh Heru Saputra dan sejumlah pengkaji mantra lainnya. Ajaran para penganut tarekat tersebut, bisa jadi terjejak dalam mantra-mantra yang berkembang di kalangan suku Osing tersebut.

Ilustrasi foto: Repro dari buku Johannes Muller Ueber Alterthuemer des Ostindischen Archipels (Berlin, 1859)

Lihat Komentar (0)

Komentari