Sedang Membaca
Kota Islam (18): Jejak Komunitas Kristen Armenia di Hamedan
Ulummudin
Penulis Kolom

Mahasiswa Studi al-Qur'an dan Hadis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Kota Islam (18): Jejak Komunitas Kristen Armenia di Hamedan

Img 20200701 Wa0010

Hamedan, kota tempat Ibnu Sina dikebumikan, tampak cerah siang hari ini. Dari bukit tempat saya berdiri terlihat jelas gunung-gunung yang masih berselimut salju. Angin yang menembus badan masih terasa dingin. Wajar saja karena Hamedan termasuk kota yang berada di dataran tinggi dan musim dingin belum sepenuhnya pergi.  

Kemudian, pandangan saya tertuju kepada dua gereja eksotik di atas bukit. Gereja ini merupakan peninggalan orang-orang Armenia. Jejak tersebut sekaligus menjadi bukti bahwa orang-orang Armenia pernah hidup berdampingan dengan orang Persia di Hamedan. 

Sejarah orang Armenia di Iran tidak terlepas dari dinasti Safawi yang menguasai daratan Persia pada abad ke-16 Masehi. Sebagian wilayah negara Armenia sekarang ini berada di bawah kekuasaan dinasti tersebut. Demi kepentingan kerajaan, ada banyak orang Armenia yang memasuki wilayah Persia. Yang paling terkenal tentu saja komunitas Armenia yang terletak di Isfahan dengan gereja Vanknya yang terkenal.

Komunitas Armenia di Iran mayoritas adalah penganut Kristen. Mereka sekarang menjadi kelompok minoritas yang dapat ditemukan di tiga kota besar yaitu Isfahan, Tabriz, dan Tehran. Walaupun demikian, mereka mempunyai kebebasan untuk menjalankan ibadah dengan tenang. Bahkan, mereka juga memiliki perwakilan di parlemen untuk menyuarakan aspirasinya. 

Sementara itu, dua gereja di atas bukit ini menjadi saksi bahwa komunitas Armenia pernah menempati wilayah ini. Gereja tersebut disebut dengan gereja Stephanus Gregorian dan gereja Evangelical. Posisi gereja ini berdampingan satu sama lain. Namun, tampaknya gereja ini sudah tidak digunakan lagi seiring kepindahan komunitas Armenia dari Hamedan. Saat ini, gereja-gereja ini hanya difungsikan sebagai museum dan situs bersejarah.    

Bentuk kedua gereja ini sangat berbeda. Gereja Evangelical menyerupai sebuah rumah yang terdiri dari dua lantai. Di dalamnya dihiasi oleh ornamen-ornamen dan terdapat jendela warna-warni khas Persia yang jika jendela itu tersorot matahari, maka akan memantulkan cahaya seperti pelangi ke dalam ruangan. 

Adapun gereja Stephanus Gregorian memiliki bentuk persegi panjang dan pada bagian depannya terdapat menara yang menyerupai kerucut. Di bagian luar tampak batu bata dengan warna kecoklatan sebagai bahan utama bangunannya. Sementara, di bagian dalamnya terdapat kursi untuk para jemaat, patung Yesus dan  Bunda Maria  yang masih tertata rapi.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Kedua gereja ini sudah berumur ratusan tahun. Gereja Evangelical dibangun pada tahun 1885 M. Berdirinya gereja ini diinisiasi oleh tiga asosiasi anggota Evangelical. Mereka adalah Michel Mordichian, Hakop Zakarian, dan Karapet Der Hovhanessian yang mendapatkan izin pendirian dari Nasiruddin Shah yang saat itu menjadi penguasa Hamedan. Gereja ini resmi dibuka pada tahun 1886. Setelah kurang lebih 100 tahun dijadikan tempat ibadah oleh komunitas Kristen Armenia, sekarang telah berubah fungsi menjadi museum migrasi orang Armenia. 

Sementara, gereja Stephanus Gregorian berumur lebih tua karena dibangun pada tahun 1676 M. Setelah 225 tahun bertahan, gereja ini sempat rusak. Kemudian, atas bantuan komunitas Armenia yang berada di Isfahan, gereja ini dibangun kembali dengan ukuran yang lebih besar dan indah. Gereja yang baru selesai dibangun pada tahun 1936. Informasi tersebut dapat diperoleh di bagian depan gereja. 

Pemandangan dari kedua gereja ini begitu memukau. Karena letaknya di bukit, kita dapat melihat langsung pegunungan bertudung salju tanpa terhalang oleh rumah atau bangunan lainnya. Di sekeliling gereja terhampar rumput yang baru bangun setelah membeku di musim dingin. Selain memandang gunung, kita juga dapat melihat keindahan kota Hamedan dari ketinggian. 

Yang menarik dari kedua gereja tersebut adalah sejarahnya. Penguasa setempat memberikan izin untuk pembangunan tempat ibadah komunitas Kristen Armenia. Padahal, mereka orang asing dan minoritas di wilayah tersebut. Perizinan ini membawa pesan yang luar biasa bahwa hak-hak minoritas dalam beribadah harus difasilitasi.   

Namun, dewasa ini minoritas terkadang kesulitan untuk mendapatkan izin pendirian rumah ibadah. Mayoritas merasa terancam jika mereka memberikan izin. Mereka seperti ketakutan dan menolak hal yang berbeda di luar dirinya. Sikap tersebut menunjukkan ketidakdewasaan dalam beragama karena mereka memandang perbedaan sebagai ancaman. Kita perlu belajar dari sejarah bahwa keharmonisan dalam perbedaan itu sangatlah indah. 

Baca juga:  Beragama, Bersiap untuk Berbeda
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top