Sedang Membaca
Masjid Mantingan, Warisan Pejuangan Perempuan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Masjid Mantingan, Warisan Pejuangan Perempuan

Nur Khalik Ridwan
  • Di bawah kekuasanan Ratu Kalinyamat yang menggantikan kepahlawanan Pati Unus yang terkenal itu, Jepara terlibat dalam penyerangan terhadap Portugis di Malaka, sampai tiga kali, yaitu pada tahun 1512-1513, 1551 dan 1574.

Masjid Mantingan letaknya 5 KM ke arah selatan dari kota Jepara, terletak di desa Mantingan, Kecamatan Tahunan Kabupaten Jepara. Masjid ini didirikan tahun 1481 Saka atau tahun 1559 M atau 966 H. Tahun tersebut berdasarkan petunjuk dari condro sengkolo yang terukir pada mihrab Masjid Mantingan berbunyi rupo brahmana wanasari.

Menurut HJ Degraaf dan TH Pigeaud tahun 1559 adalah periode setelah meninggalnya Pangeran Prawata dan Ki Kalinyamat (Sunan Mantingan), termasuk periode kekuasaan Ratu Kalinyamat di Jepara. Pangeran Hadirin atau Ki Kalinyamat ini meninggal tahun 1549.

Masjid ini memiliki fungsi untuk menyebarkan Islam dan pertahanan spiritual rakyat kraton Jepara yang diperintah Ratu Kalinyamat, untuk memperkokoh kraton Jepara saat itu.

Dari Mantingan ini pula, pusat ukir-ukiran mula-mula diajarkan yang sekarang menjadi tradisi ukir di Jepara, dengan pengajarnya patih Jepara sendiri, seorang China dengan gelar Patih Sungging Bandar Duwung.

Sejarahnya bermula saat kraton Jepara yang dipimpin oleh Ratu Kalinyamat dan Pangeran Hadirin,  mengangkat patih Jepara dari China, yang bernama Tjie Hwio Gwan bergelar Patih Sungging Bandar Duwung, seorang ahli ukir.

Versi tutur, orang ini adalah ayah angkat Pangeran Hadirin ketika ia mukim di Cina. Sebelum ke China Pangeran Hadirin sendiri bernama R. Thoyib, anak dari Sultan Mughayat Syah Aceh (1514-1528 M). Ketika berkelana ke China, R. Thoyib diangkat anak oleh Tjie Hwio Gwan, dan namanya berganti Win-Tang (ejaan Jawa untuk Tjie Bin Thang). Ketika melakukan perjalanan dagang dan dakwah, dia terdampar di Jepara karena kecelakaan laut.

Di Jepara dia mengabdi pada Kraton Jepara dan sampai diambil suami oleh Ratu Kalinyamat. Sementara versi HJ de Graaf, hanya menyebutkan dia sebagai keturunan Cina bernama Win Tang, tanpa menyebut hubungan dengan Aceh.

Setelah Pangeran Hadirin meninggal tahun 1549 M karena dibunuh oleh orang-orang Arya Penangsang, Ratu Kalinyamat melakukan topo broto dengan gentur. Orang-orang terdekat dan para kestaria yang masih berhubungan dengan Demak dari trah Sultan Trenggono, termasuk Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir yang menjadi adik ipar Ratu Kalinyamat) dari Pengging berinisiatif membantu.

Joko Tingkir dibantu Ki Penjawi, Ki Gede Pemanahan, Ki Juru Martani dan Sutawijaya/Senopati (anak Ki Gede Pemanahan), sehingga berhasil menyingkirkan Arya Penangsang (adipati Jipang), yang merupakan murid Sunan Kudus itu. Karena keberhasilannya, Ki Gede Pemanahan diberi bumi Mentaok di Kotagede; dan Ki Penjawi diberi tanah Pati.

Setelah kematian Pangeran Hadirin itu, sembari memangku sebagai penguasa Jepara, Ratu Kalinyamat gentur bertapa dan zikir. Tepat 10 tahun setelah meninggalnya sang suami, Ratu Kalinyamat bertekad membangun masjid, yang menjadi pusat penyebaran Islam di bagian pesisir Jawa Tengah.

Dinding dipenuhi relief menambah wibawa

Posisi masjid (dan pemakaman) ada di atas bukit dengan dihiasi ornamen ukiran Jepara, yang terbuat dari batu putih, diperindah dinding berrelief bundar bujur sangkar, dengan motif ukiran bunga teratai dan hewan yang disamarkan. Atapnya model tumpang, seperti dalam bangunan sebelum Islam.

Dilengkapi dengan bedug lama dan kendi berisi air di depan masjid, warga sekitar dan pengunjung mempercayai air tersebut mengandung berkah apabila diminum. Gerbang masuk ke area ini, menggunaka model gerbang candi zaman sebelum Islam, dengan tulisan syahadat.

Ratu Kalinyamat ini adalah anak Sultan Trenggono dari Demak dengan nama Retno Kencana. Silsilah yang dicantumkan di Pemakaman Mantingan, menyebutkan bahwa saudara-saudaranya adalah Sunan Prawata (ayah Arya Pangiri), putri istri adipati  Madura, Ratu Kalinyamat, putri istri Pangeran Hasanudin Banten, putri istri Joko Tingkir yang kemudian melahirkan Pangeran Benawa, dan seorang putri istri adipati Madiun.

Baca Juga

Ratu Kalinyamat ini menjadi tokoh penting di kekuasaan laut Pantai Utara Jawa Tengah dan Jawa Barat pada abad XVII. Dia dikenal bukan hanya karena menjadi sesepuh keluarga ksatria Demak setelah meninggalnya Sultan Trenggono dan Sunan Prawata (anak laki-laki Sultan Trenggono).

Sebutan Kalinyamat merujuk pada ibukota Pelabuhan Jepara, yang juga terdapat kratonnya, yang dulu dikendalikan oleh penguasanya yang terkenal bernama Pati Unus yang menyerang Portugis di Malaka.

Di bawah kekuasanan Ratu Kalinyamat yang menggantikan kepahlawanan Pati Unus yang terkenal itu, Jepara terlibat dalam penyerangan terhadap Portugis di Malaka, sampai tiga kali, yaitu pada tahun 1512-1513, 1551 dan 1574. Meski serangan itu mengalami kekalahan sebagaimana juga Pati Unus yang menyerang Portugis, tapi kepahlawanan Ratu Kalinyamat ini dikenal dan dihormati para penguasa di daerah-daerah pada saat itu.

Setelah kematiannya pada sekitar 1579 dan dimakamkan di Mantingan dekat suaminya, Jepara diperintah oleh Pangeran Jepara, anak angkatnya anak dari putra Ratu Ayu Kirana (adik Sultan Trenggana), dan Ayah Pangeran Arya Jepara ini adalah Maulana Hasanuddin (Raja Banten).

Saat ini masjid peninggalan Ratu Kalinyamat ini masih terlihat klasik dan hanya sedikit dilakukan pelebaran di bagian utara masjid pada tahun 2005 karena banyaknya jumlah pengunjung. Di sisi masjid adalah pemakaman Mantingan, yang banyak diziarahi orang, di antaranya yang dimakamkan adalah Sunan Mantingan Pangeran Hadirin, Ratu Kalinyamat, dan para orang terdekat Ratu Kalinyamat.

Museum kecil dengan ukiran marmer putih seperti yang ada di dinding masjid, menambah keindahan dan kenangan sejarah tentang eksistensi masjid Mantingan sebagai pusat dakwah Islam di Jepara saat itu.

Masjid Mantingan tidak terlalu jauh dari laut Jawa
Lihat Komentar (0)

Komentari