Sedang Membaca
Abu Nawas: dari Penyair Istana hingga Manusia Rohani
Mukhammad Lutfi
Penulis Kolom

Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Abu Nawas: dari Penyair Istana hingga Manusia Rohani

Abu Ali Alhasan bin Hani, Mungkin sebagian dari kita asing akan nama itu. Tahukah Anda kalau nama itu ialah nama asli dari Abu Nawas –dalam beberapa literatur menyebutnya Abu Nuwas. Bagaimana kiprah dan seperti apa jejak hidupnya?

Di kalangan pecinta literatur Arab nama Abu Nawas sangatlah masyhur, namun tak sedikit pula kaum fundamentalis yang berpendapat jika Abu Nawas hanyalah tokoh fiktif yang sengaja dibuat oleh orientalis.

Mungkin mereka yang berpendapat Abu Nawas hanyalah sosok rekaan adalah mereka-mereka yang sekedar tahu kisah-kisah humornya, sehingga mereka kira itu hanya lelucon saja. Padahal kalau mereka mau membaca syi’ir I’tirafIlahilas– karya Abu Nuwas yang sarat dengan nuansa sufistik, pasti mereka akan termenung dan menangis tersedu-sedu.

Terlepas dari itu semua, Syekh Ahmad Al Iskandari dan Syekh Mustafa Anani dalam catatannya di kitab Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal kelas berat, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru.

Dia seorang persia. Diperkirakan, Abu Nuwas terlahir tahun 145 H / 762 M. Ada yang menyebut tanah kelahirannya di Damaskus, ada pula yang meyakini Abu Nuwas berasal dari daerah barat Bashrah.

Versi lainnya menyebutkan dia lahir di Ahwaz. Yang jelas, Ayahnya bernama Hani seorang anggota tentara Marwan bin Muhammad atau Marwan II- Khalifah terakhir bani Umayyah di Damaskus. Sedangkan ibunya bernama Golban atau Jelleban seorang penenun yang berasal dari Persia.

Masa muda yang penuh kontroversial membuat Abu Nawas muncul sebagai tokoh yang unik dan nyentrik dalam khazanah kesusastraan Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  “Wali Kiriman” hingga Toleransi antar Iman

Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah. Ia juga belajar Alquran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah.

Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.

Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja (madah) dan menjilat penguasa.

Pesan Kerudung Bergo

Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian khalifah Harun al-Rasyid. Abu Nawas akhirnya diangkat menjadi penyair istana (sya’irul bilad). Tugasnya utamanya menggubah puisi puji-pujian untuk khalifah. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi membuatnya menjadi seorang legenda.

Namanya juga beberapa tercantum dalam dongeng 1001 malam. Meski orangnya jenaka, ia adalah sosok yang jujur. Tak heran, bila dia disejajarkan dengan tokoh-tokoh penting dalam khazanah keilmuan Islam.

Kedekatannya dengan khalifah berakhir di penjara. Suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang membuat khalifah tersinggung dan murka. Ia lantas di penjara.

Baca juga:  Sabilus Salikin (39): Pendapat yang Menolak Adanya Karamah

Setelah bebas, ia hengkang dari Baghdad dan hijrah ke Mesir dan menjadi penyair istana gubernur Mesir. Ia menggubah puisi untuk gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Abu Nuwas akhirnya kembali lagi ke Baghdad, setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan al-Amin.

Meskipun sedari kecil Abu Nawas mendapat pendidikan agama yang baik, ternyata Abu Nawas tampil sebagai penyair yang hedon. Kehidupannya sebagai penyair istana menyeretnya menjadi suka foya-foya, mabuk-mabukan, dan maksiat. Bahkan menurut catatan Philip K Hitti dalam History of the Arabs, Abu Nawas juga menulis puisi-puisi tentang pujian terhadap arak (khamriyat), yang selalu memikat orang yang membaca dan meminumnya, memberikan penjelasan tentang gaya hidup kalangan bangsawan saat itu.

Hidup di penjara, telah menjadi titik balik kehidupannya. Selama mendekam di balik jeruji besi, syair-syair Abu Nawas berubah menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah, atau kalau dalam bahasanya Gus Ulil “menjadi manusia rohani”.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak taubatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan.

Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi, ia menemukan jalan terang, menjadi sufi.

Ada versi lain tentang asal muasal pertaubatan Abu Nawas. Pribadinya yang urakan, bandel, tidak bermoral, dan tidak taat pada perintah agama, menjadikan Abu Nawas diasingkan dari kalangan agamawan dan kaum beradab lainnya. Hal itu dilakukan sampai pada suatu malam ganjil atau malam Qadar di bulan Ramadan. Ketika masuk Ramadan di usianya yang tidak lagi muda, Abu Nawas seperti biasa minum-minuman keras.

Baca juga:  Bagaimana Ekspresi Ulama Sunda Mencintai Nabi?

Dalam kondisi mabuk berat itu tiba-tiba Abu Nawas didatangi seseorang yang tidak dikenalnya. Tanpa banyak bicara, seseorang itu langsung bertanya kepada Abu Nawas “Wahai Abu Ali, jika engkau tak mampu menjadi garam yang melezatkan hidangan, janganlah engkau menjadi lalat yang menjijikkan, yang merusak hidangan itu”.
Abu Nawas terhentak dan tersadar akan segala tingkah lakunya selama ini. Dia merasa hidupnya kelam dan dalam kubangan hitam dosa. Kesadaran akan arti hidup yang tidak memberikan manfaat bagi orang lain itu, menuntun Abu Nawas untuk mengakhiri kebiasaan lamanya.

Sejak perisiwa malam itu, Abu Nawas mengganti syair-syairnya dengan zikir dan perkataan baik. Dia mengubah segala kebiasaan buruknya menghabiskan malam di tempat mabuk-mabukan dengan beribadah ke masjid.

Terlepas dari versi penyebab pertaubatannya, setidaknya bait puisi I’tiraf yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya. Syi’ir/puisi I’tiraf seolah menjadi gambaran perjalanan hidup Abu Nawas dari manusia jasad yang angkuh dan pongah, menjadi manusia rohani yang tunduk dengan penghambaan total.

Di akhir hayatnya, ia menjalani hidup zuhud. Dalam catatan Syekh Ahmad Al Iskandari dan Syekh Mustafa Anani, Abu Nawas meninggal pada tahun 199 H / sekitar 813-814 M di di Syunizi, jantung Kota Baghdad.

Sumber:
-Philip K Hitti, 2006. History of the Arabs. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
-Syekh Ahmad Al Iskandari dan Syekh Mustafa Anani, 1916. Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi. Mesir: Darul Ma’arif.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
2
Terhibur
1
Terinspirasi
3
Terkejut
0
Scroll To Top