Sedang Membaca
Kyai Joyo: dari Pejuang Kemerdekaan, Hingga Menjadi Aktivis NU
Ferdiansah Jy
Penulis Kolom

Peneliti muda di Institute of South East Asian Islam (ISAIs) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kyai Joyo: dari Pejuang Kemerdekaan, Hingga Menjadi Aktivis NU

Screenshot 20200704 055935 Whatsappbusiness

Saya pribadi sebagai bagian dari komponen masyarakat muslim pedesaan yang sedari kecil ditempa ilmu agama Islam di langgar-langgar kecil, memiliki beban moral untuk menuliskan biografi guru agama yang sudah mengajarkan cara baca Al-Quran dan dasar hukum-hukum Islam. Karena saya meyakini tanpa perannya, saya hanyalah butiran debu yang berterbangan di udara.

Dalam kesempatan ini, saya ingin menuliskan catatan sejarah seorang tokoh/Kyai lokal Nadhlatul Ulama (NU) kharismatik dari desa Karang Kedawung, Mumbulsari, Jember bernama KH. Ahmad Djauhari. Tetapi ia lebih akrab “Kyai Joyo” oleh masyarakat sekitar. Karena setelah ia menikah dengan istrinya, ia mendapatkan Jejuluk (Julukan), yakni Joyo Saputro. Akhirnya kemudian nama lengkapnya menjadi KH. Ahmad Djauhari Joyo Saputro. Ia merupakan sosok kyai langgar (surau) yang memiliki perjalanan sejarah penting untuk diketahui publik, dalam hal ini ketika saya kecil ialah yang mengajari saya tentang Al-Qur’an.

Berdasarkan wawancara dengan salah satu keturunannya; bernama Imam Fauzi, diceritakan bahwa kyai Joyo lahir pada tahun 1926, bersamaan dengan lahirnya organisasi masyarakat Islam terbesar di dunia, yakni NU. Tak ayal, jika kemudian ia menjadi aktivis yang sangat berkhikmat di NU. Dalam setiap agenda-agenda NU, mulai dari tingkat Ranting, Wakil Cabang, bahkan Cabang NU di Jember, selalu menyertakan diri untuk bisa berperan dalam berhikmat di Jami’iyah NU.

Bukan sembarangan, ia merupakan putra dari kyai Rifa’i, seorang santri asal Karanganyar, Probolinggo yang pernah nyantri di Mekkah pada tahun 1920-an. Kyai Rifa’i adalah putra dari saudagar kaya Bindhoro pada masanya, yang juga berasal dari Probolinggo. Konon, kyai Joyo muda pernah nyantri di Pondok Pesantren Sumber Wringin (sebutan lain dari Pesantren Raudlatul Ulum), Sukowono Jember. Pesantren yang diasuh oleh kyai Umar, ayahanda dari kyai Khotib Umar yang akrab di telinga kalangan nahdliyyin Jember.

Baca juga:  Kisah Guru Murid: Kiai Idris Kamali dan Kiai Tholchah Hasan

Menolak menjadi Veteran

Ia juga merupakan seorang pejuang pra-kemerdekaan dan turut berjuang bersama dengan Letkol Moch. Sroedji di Karang Kedawung berperang melawan belanda. Meskipun akhinya Letkol Moch. Sroedji ditembak mati oleh Belanda ketika agresi Militer belanda II pada tahun 1949 di wilayah yang sama.

“Salah satu motivasi yang semakin kuat Kyai Joyo untuk berperang melawan Belanda, karena di tahun yang sama dengan meninggalnya Letkol Moch. Sroedji, adiknya yang bernama Djuahir ditembak mati saat tidak sengaja berjalan dengannya melewati gerombolan pasukan Belanda. Tetapi, ia sendiri berhasil selamat dari kejaran tentara Belanda,” ucap Imam Fauzi, anak kedua kyai Joyo.

Ketika agresi militer belanda masih berlangsung, ia mengabdikan diri menjadi dalam bahasa saya, “tentara kultural”. Karena ia sama sekali tidak pernah ikut pendidikan militer, tetapi ikut perang bersama tentara Pembela Tanah Air (PETA), yang melakukan penyerangan ke pusat militer Belanda di Jember (saat ini menjadi Batalyon Artileri Medan 8/Uddata Yudha yang merupakan salah satu satuan jajaran Kodam V/Brawijaya). Ia menjadi otak dari keberhasilan dalam memukul mundur Belanda dari tempat tersebut, dan berhasil merampas alat-alat persenjataan yang ada di sana.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Berangkat dari peristiwa tersebut, kemudian ia dipercaya menjadi ketua komando perjuangan dalam melawan militer Belanda. Pasca keberhasilan mengusir belanda dari seluruh wilayah Jember, ia kemudian ditawari sebagai veteran oleh pemerintah, tetapi ia dengan tegas menolaknya dan sempat beberapa kali ditawari pula oleh para anak buahnya yang sudah mendaftarkan diri menjadi veteran. Tetapi ia teguh pendirian, menurutnya, “Perjuangan saya akan sia-sia, jika saya mengambil ngaji dengan menjadi veteran.” Perjuangannya telah diniatkan karena Allah Swt serta demi bangsa dan Negara.

Baca juga:  Didi Kempot: "The Unlikely Man"

Aktivis NU Tulen

Kyai Joyo dikenal sebagai tokoh NU Jember. Perhatiannya terhadap dakwah NU di masyarakat sungguh luar biasa. Konon, sekitar tahun 1966 ia menjadi Wakil Ketua MWC NU, Mumbulsari sekaligus ketua Ranting NU Karang Kedawung. Dalam perjalananya, di tahun yang sama ia pula yang membentuk Gerakan Pemuda Anshor Mumbulsari dan menghidupkannya sebagai basis kekuatan NU di masyarakat.

Dalam pengabdiannya di NU, ia akrab dengan KH. Abdul Halim Siddiq, ayah dari KH. Saiful Rizal (Gus Sep) pengasuh pondok pesantren Ash-Siddiqi Putra (Asrha, Kaliwates) dan KH. Ahmad Mursyid, yang saat itu menjadi ketua NU Cabang Jember. Mereka bersama-sama berkhikmat di NU sesuai peran-perannya masing-masing. Hal ini senada dengan pernyataan Gus Dur, bahwa Pesantren itu merupakan NU kecil, sedangkan NU sendiri adalah pesantren besar.

Pada tahun 1971, setelah 4 tahun Orde Baru (Orba) yang berkuasa melaksanakan Pemilu pertama. Di tahun tersebut pula, kyai Joyo diwacanakan akan dibunuh oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Karena ia sebagai lawan utama Partai NU di Mumbulsari melawan partai Golkar milik Orba. Akhirnya, ia berbulan-bulan tinggal di kantor Cabang NU Jember untuk sembunyi dan menghindari dari kejaran ABRI di rumahnya (Karang Kedawung). Sedangkan istri dan anak-anaknya ia titipkan ke rumah mertuanya, di desa Karangharjo, Silo.

Baca juga:  TGH. Hasanain Djuaini, Ulama Pelopor Reboisasi

Secara historis, mengutip pernyataan Anhar Gonggong (2014), Golkar padahal ketika itu merupakan partai baru dan sudah diperkirakan akan menang secara merata, meski baru kali pertama ikut pemilu. ABRI dengan seluruh jaringannya, pegawai negeri sipil (PNS), Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), serta birokrasi di semua tingkat menjadi alat untuk memobilisasi rakyat dari pusat sampai ke desa-desa agar memilih Golkar.

Dalam perjalanannya, kyai Joyo juga menjadi saksi sejarah muktamar NU di Situbondo tahun 1984, yang melahirkan kesepakatan NU untuk kembali ke Khittah. Dalam ranah politik, ia berkepentingan untuk menguatkan basis perjuangan NU. Jalan panjangnya di politik mulai dari Partai NU, PPP hingga kemudian Partai PKB yang diinisiasi oleh Gus Dur. Karena baginya orang-orang NU harus juga masuk di ranah politik, sebagai alat perjuangan untuk kemaslahatan umat. Ia rajin berkampanye dalam setiap momen politik NU hingga ke tingkat Cabang Jember.

Akhirnya, pada tanggal 7 bulan Saffar 1428 H atau 26 Maret 2007. Ia wafat pada usia 81 tahun. Sebagai cucu termuda kyai Joyo, saya meyakini kakek telah berkontribusi besar dalam merawat NU di desanya, khususnya di kabupaten Jember. Semoga amalnya dalam memperjuangkan organisasi yang diiniasi oleh para wali Nusantara menjadi amal jariahnya di akhirat. Saya sebagai cucu merasa bangga, dialiri “darah perjuangan” kakek yang memiliki kecintaan terhadap agama dan Negara seperti yang telah dilakukannya di masa hidupnya. Ia adalah aktivis dan pahlawan sejati, semoga berkahnya mengalir kepada kami; para dzurriyahnya. Amien ya rabbal ‘alamin.

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top