Sedang Membaca
Hakan Calhanoglu: Dipanggil Kebab hingga Raih Scudetto untuk Inter Milan
Hasna Azmi Fadhilah
Penulis Kolom

Peneliti dan pemerhati politik yang tinggal di Jatinangor Sumedang. Bisa dijumpai di akun Twitter @sidhila

Hakan Calhanoglu: Dipanggil Kebab hingga Raih Scudetto untuk Inter Milan

Hakan

“Inter is everything, it’s raised my level, I owe everything to this club.” Begitulah jawaban Hakan Çalhanoğlu dengan berbinar saat ditanya jurnalis lokal Italia usai membantu Inter Milan memenangi laga lawan Torino.

Di dunia kulit bundar, meski namanya tidak semasyhur Sadio Mane, Moh Salah atau Hakimi, nama Hakan kian moncer dalam setahun terakhir. Sebagai pemegang ban kapten tim nasional Turki, ia terkenal akan tendangan bebasnya yang magis dan kerap bermain efektif di segala lini. Ia bahkan beberapa kali dibandingkan dengan Mesut Ozil sebagai bintang baru pemain sepak bola keturunan Turki yang lahir di tanah Bavaria.

Çalhanoğlu memulai karirnya di klub divisi kedua Jerman, Karlsruher SC pada tahun 2010 dan pindah ke klub kasta atas Hamburger SV dua tahun kemudian. Performanya yang apik di musim Bundesliga pertamanya membuat Hakan diganjar nilai transfer senilai €14,5 juta ke Bayer Leverkusen pada tahun 2014.

Hakan, yang lahir 8 Februari 1994, bermain selama tiga musim di sana, mencetak total 28 gol dalam 115 penampilan resmi.

Pada tahun 2017, Çalhanoğlu menandatangani kontrak untuk Milan dengan biaya awal €20 juta, sebelum bergabung dengan rival kota Inter dengan status transfer gratis pada musim panas 2021. Keputusan Hakan untuk hengkang sontak menuai pro kontra, sebab ia sempat mendapat tawaran kontrak baru dari AC Milan, namun ia malah menolak.

Baca juga:  Bung Karno dan Gus Dur sebagai Penulis Esai

Hakan, pria berkebangsaan Turki itu tak ragu bahwa Inter Milan adalah klub sepak bola yang membangkitkan semangatnya untuk terus berkembang. Meski, ia menyadari apa yang ia dapat hari ini bukan melewati proses yang lancar. Ketika memutuskan untuk pindah ke Inter Milan, dari rival sekotanya, AC Milan dengan status bebas transfer, Hakan banyak mendapat cacian.

Yang menarik, justru usai ditinggalkan Hakan, AC Milan meraih juara dan raihan itu kian menyudutkan Hakan yang dicap sebagai pemain pengkhianat. Akibat dari keputusan Hakan yang membelot ke klub tetangga, ia berulang kali menerima cibiran, sejumlah suporter AC Milan enggan menyebut namanya dan memanggilnya kebab sebagai bahan ejekan. Perundungan yang dialami Hakan tidak berhenti sampai di situ. Ia bercerita bahwa anggota keluarganya juga sempat mengalami hal yang sama.

Dalam beberapa kesempatan, sejumlah suporter AC Milan mengungkapkan pada media bahwa pengakuan buruk yang dialami oleh Hakan, mereka anggap sebagai hal yang berlebihan. Justru fans AC Milan melihat Hakan terlalu baper, dan harusnya ia bersikap lebih dewasa dalam menghadapi kultur sepak bola Italia yang terkenal ‘kejam’.

Tak hanya fans AC Milan yang gusar akan kepindahan Hakan ke Inter, Zlatan Ibrahimovic juga turut kesal. Dalam parade juara AC Milan di tahun 2022 lalu, Zlatan, di tengah lautan Rossoneri berteriak kencang, “tolong kirim pesan kepada Hakan.”

Baca juga:  Benarkah Ibnu Sina Bermazhab Syiah?

Kalimat pendek Zlatan tadi sontak menggiring Hakan menjadi bahan olok-olok di sela-sela perayaan kemenangan AC Milan sebagai juara liga. Banyak fans bersorak-sorai merundungnya dan menganggapnya tak loyal.

Walau pengalaman tak menyenangkan yang Hakan alami dianggap tak penting, Hakan tak diam begitu saja.

Dalam wawancara terakhir dan bahkan melalui beberapa postingan di media sosial, ia terus mengungkit bahwa salah satu motivasinya menjadi juara bersama Inter Milan adalah perlakuan buruk suporter AC Milan. Dari sana, ia kian giat berlatih dan selalu menampilkan performa terbaik yang berujung diraihnya juara liga oleh Nerazzuri.

Membincangkan soal rasisme, Hakan bukan satu-satunya korban. Diskriminasi dan perundungan kepada pemain asing, terutama yang berasal dari kelompok kulit hitam dan negara berkembang masih kerap terjadi. Selain Hakan, eks permain Inter Milan lain, Lukaku juga mengeluhkan hal yang sama. Pemain Itali sendiri, seperti Mario Balotelli, pun mengalami hal yang sama karena ia tidak berkulit putih seperti mayoritas warga Italia lainnya.

Kutur rasisme dan diskriminasi yang masih mengakar tersebut tak membuat Hakan goyah. Justru itu menjadi pelecutnya untuk ‘membalaskan dendam’. Kritik sejumlah pihak yang menilai kecepatannya tak memadai untuk seorang winger juga ia catat. Ia evaluasi hal tersebut untuk kian mengoles kembali performanya.

Baca juga:  Ekologi dalam Islam (2): Peran Sentral Pesantren Bagi Lingkungan

Kini, usai membawa Inter Milan meraih scudetto ke-20, kakak dari pesepak bola Muhammed Calhanoglu tersebut seakan sudah tuntas menjawab cacian pendukung AC Milan. Dalam wawancaranya dengan “Football Italia”, Hakan mengungkapkan bahwa selama ini ia selalu bekerja dalam diam meski hal itu penuh derita. Tetapi, usai sukses merebut title juara serie A, ia dengan sesumbar mengatakan bahwa jaminan raihan gelar lewat derbi adalah kepuasan besar baginya. Ia menilai bahwa prestasinya tersebut adalah jawaban dari Tuhan atas apa yang selama ini ia alami, “Tuhan menginginkannya karena Tuhan tahu saya pantas mendapatkannya.”

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top