Sedang Membaca
Anjing dan Maqam Spiritual
Penulis Kolom

Penulis buku Puncak Makrifat Jawa.

Anjing dan Maqam Spiritual

Muslimah Dan Anjing

Karena anjing adalah binatang pembawa najis mughaladlah (najis dalam kategori paling berat) dalam syari’ah agama Islam, maka secara tidak langsung “kejijikan” terhadap anjing sudah tertanam semenjak anak-anak muslim mempelajari syari’ah. Namun di sisi lain, anjing juga merupakan salah satu binatang yang ditegaskan oleh al-Quran pasti masuk surga, yaitu anjing yang setia menemani Ashabul Kahfi.

Memahami mengapa ada seekor anjing yang mendapat jaminan masuk surga, sepertinya memang tidak mudah. Karena dalam surah al-A’raf, al-Quran menjadikan anjing sebagai perumpamaan terhadap orang-orang yang telah mendapatkan ayat-ayat Allah tetapi mereka berpaling dan kemudian didukung oleh setan.

Sekiranya Aku berkehendak, Aku bisa saja mengangkatnya, tetapi ia lebih condong pada kehidupan dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Bagaikan seekor anjing, yang ketika kamu serang akan terengah-engah dengan lidah terjulur, namun saat kamu biarkan, anjing itu pun tetap berlaku demikian. (QS. 7:176)

Beruntung, penulis pernah dibimbing oleh seorang Kyai Kampung dalam mendalami surah al-Kahfi, yang penggalan ayat ke-17-nya menegaskan, “Barangsiapa yang Allah pimpin, dialah yang mendapat petunjuk. Dan siapa yang dibiarkan tersesat oleh Allah, tidak seorang pemimpin pun yang dapat memberikan petunjuk.” (QS. 18:17).

Dalam surah ini, selain dikisahkan tentang Ashabul Kahfi yang semuanya mendapatkan jaminan surga termasuk anjingnya, juga menceritakan pertemuan antara Nabi Musa dan Nabi Khidlir yang sangat spiritualistik itu. Yaitu ketika Nabi Musa “dipaksa” oleh Nabi Khidlir untuk bersabar dalam mengatasi rasa penasarannya; tidak boleh bertanya sebelum mendapatkan penjelasan yang tepat dari yang berkompeten.

Baca juga:  Berburu Sekolah Tahfidz

Kembali tentang anjing dalam pembahasan ini, dalam kisah pewayangan Jawa yang kaya akan simbol-simbol dan metafora, yang merupakan saduran dari epos Mahabarata juga diceritakan bahwa Prabu Yudhistira memilih selamanya berada di luar surga jika anjingnya tidak diperkenankan masuk bersamanya.

Syahdan, di masa tuanya, semua tokoh Pandawa juga Drupadi meninggalkan istana. Mereka pergi berkhalwat di suatu tempat. Drupadi, Sadewa, Nakula, Arjuna, dan Bima satu persatu meninggal dunia, hingga yang tersisa hanyalah Yudhistira dengan ditemani seekor anjing hitamnya yang setia.

Dalam kesendiriannya itu, sampailah Yudhistira di gerbang surga. Namun, Bathara Endra yang menjemputnya di depan pintu, melarang Yudhistira untuk membawa serta anjingnya ke dalam. “Silakan masuk, Yudhistira, kami semua telah menunggumu. Tapi, biarkan peliharaanmu itu tetap berada di luar gerbang karena surga bukanlah tempat bagi seekor anjing.”

Spontan, Yudhistira menghentikan langkahnya dan berkata, “Biarlah selamanya hamba tidak pernah memasuki surga, Paduka Endra. Bagi hamba, tak ada gunanya surga yang penuh keadilan namun tak menyisakan ruang bagi seekor anjing. Anjing ini telah setia menemani hamba selama bertahun-tahun hingga hari ini, hamba tidak akan meninggalkannya, Paduka!”

Selesai menegaskan sikapnya di hadapan Bathara Endra, anjing yang setia itu pun berubah wujud. Ternyata anjing yang selama ini setia menemani Yudhistira adalah penjelmaan dari Bathara Dharma. Maka, Yudhistira pun melewati pintu gerbang surga tanpa pernah berurusan dengan Dewa Kematian sambil diiringi oleh junjungannya, Bathara Dharma.

Baca juga:  Ngaji Rawaiul Bayan: Legalitas Perang dalam Islam

Yang paling gamblang dari kesemuanya itu, menurut saya adalah apa yang dijelaskan oleh Ki Ageng Suryomentaram dalam buku Kawruh Bab Kawruh halaman 54. Dalam wejangannya tersebut, Ki Ageng menjelaskan bahwa boleh saja orang mengalami berbagai peristiwa yang hebat, namun jika kesemuanya itu berada di luar kesadarannya, ia tidak akan pernah bisa merasakan apa-apa.

Sebaliknya, meskipun hanya orang yang biasa-biasa saja, namun mampu menghidupkan kesadarannya di setiap saat, justru dengan mudah dapat menggapai pengetahuan tertinggi.

Sampai sini, Ki Ageng pun memberikan contoh simbolik yang khas, “Upami tiyang semerep segawon ingkang dipun gebag, lajeng kaing-kaing, tiyang punika mboten ndadak ngentosi yen awakipun sampun dados segawon anggenipun saged kraos lan ngertos yen segawon wau sakit.” (Jika ada orang yang menyaksikan seekor anjing yang dipukul lantas anjing tersebut menjerit kesakitan, orang tidak harus menunggu dirinya untuk menjadi anjing lantas dipukuli, baru bisa merasakan sakitnya anjing tersebut).

Begitulah…

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top