Sedang Membaca
Cara Memperoleh Ridha Allah di Bulan Ramadan, Begini Penjelasan Quraish Shihab

Mahasiswa sekaligus Santri Aktif Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo.

Cara Memperoleh Ridha Allah di Bulan Ramadan, Begini Penjelasan Quraish Shihab

Ramadan adalah bulan istimewa dimana pahala dilipatgandakan, sehingga umat muslim berlomba-lomba beribadah dan melakukan kebaikan di Ramadan. Tentunya, sebagai muslim yang paling diharapkan adalah diterimanya amal perbuatannya. Namun, alangkah lebih baik lagi jika mendapatkan pula ridha Allah Swt. Bagaimana cara untuk mendapat ridha Allah di Ramadan? Dan apa yang sebaiknya dilakukan di bulan ini?

Sebenarnya, puasa adalah upaya meneladani sifat-sifat Allah Swt. Kebutuhan manusia atau kebutuhan faali manusia adalah makan, minum dan hubungan suami istri. Dia masih punya kebutuhan-kebutuhan yang lain, tetapi kebutuhan akan makan dan minum itu bisa ditangguhkan sementara oleh manusia dalam beberapa waktu.

Berbeda halnya dengan kemampuan bernafas. Kita tidak mungkin bisa tahan tidak menghirup oksigen. Kebutuhan fa’ali manusia yang bisa dia tangguhkan dalam waktu tertentu adalah makan dan minum. Demikian juga dia dapat mengendalikan kebutuhan seksualnya. Allah Swt. tidak makan, minum dan tidak memiliki pasangan.

Inilah yang pertama diteladani oleh manusia dari sifat Allah Swt. sesuai dengan kemampuan manusia. Allah Swt. mengukur bahwa rata-rata manusia bisa tidak makan, minum dan tentu lebih bisa lagi tidak melakukan hubungan seks. Makan dan minum ditaksir normalnya sebutlah 12 jam.

Maka dengan demikian, Allah Swt. menetapkan bahwa puasa tidak makan, minum dan seterusnya dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Sekalipun masih bisa lebih dari itu. Buktinya, kata Quraish Shihab, ada orang di Eropa yang mungkin puasanya sampai 14 dan 15 jam.

Meneladani sifat-sifat Allah Swt

Bukan hanya ini yang mestinya diteladani dari segi syariat (hukum), tetapi dari segi substansi yang dikehendaki oleh agama adalah meneladani sifat-sifat Allah Swt. Meneladani bagaimana Dia Maha Pemaaf, Maha Mengetahui, Menahan amarah, Maha Dermawan, tak terkecuali Maha Kaya. Kayanya Allah bukan dalam arti memiliki materi yang banyak, tetapi kayanya Allah itu Dia tidak membutuhkan sesuatu apapun.

Baca juga:  Tafsir Surat Al-Maidah Ayat 44: Tidak Menjalankan Hukum Allah Otomatis Kafir, Benarkah?

Artinya, manusia mempunyai kebutuhan  dan Allah Swt. tidak butuh sesuatu apapun untuk wujud-Nya, serta tidak butuh sesuatu untuk kelanjutan wujud-Nya. Berbeda dengan manusia butuh Allah untuk mewujudkan kita, setelah diwujudkan kita masih memiliki kebutuhan untuk kelanjutan hidup.

Jadi, ghaniyy dalam bahasa agama bagi manusia adalah sedikit sekali kebutuhannya. Semakin sedikit kebutuhan Anda, maka semakin tidak butuh Anda. Semakin kaya Anda, maka semakin banyak harta Anda. Tetapi Anda masih merasa butuh. Itu sebabnya, kekayaan 360 derajat lingkaran. Lingkaran walaupun kecil itu 360 derajat, dan lingkaran walau besar tapi tidak melingkar itu tidak 360 derajat. Inilah sebenarnya yang mau kita teladani.

Sekarang banyak orang punya harta banyak tapi miskin. Tidak sedikit orang yang tidak punya harta tidak mau mengulurkan tangan. Dalam al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 273 dinyatakan:

لِلْفُقَرَاۤءِ الَّذِيْنَ اُحْصِرُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَا يَسْتَطِيْعُوْنَ ضَرْبًا فِى الْاَرْضِۖ يَحْسَبُهُمُ الْجَاهِلُ اَغْنِيَاۤءَ مِنَ التَّعَفُّفِۚ تَعْرِفُهُمْ بِسِيْمٰهُمْۚ لَا يَسْـَٔلُوْنَ النَّاسَ اِلْحَافًاۗ وَمَا تُنْفِقُوْا مِنْ خَيْرٍ فَاِنَّ اللّٰهَ بِهٖ عَلِيْمٌࣖ ۝٢٧٣

Artinya: “(Apa pun yang kamu infakkan) diperuntukkan bagi orang-orang fakir yang terhalang (usahanya karena jihad) di jalan Allah dan mereka tidak dapat berusaha di bumi. Orang yang tidak mengetahuinya mengira bahwa mereka adalah orang-orang kaya karena mereka memelihara diri dari mengemis. Engkau (Nabi Muhammad) mengenal mereka dari ciri-cirinya (karena) mereka tidak meminta secara paksa kepada orang lain. Kebaikan apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Mahatahu tentang itu. (QS. Al-Baqarah [2]: 273).

Nabi pernah bersabda sebelum masuknya bulan Ramadan “Sebentar lagi akan datang mengunjungimu bulan Ramadan, di sana ada satu malam yang lebih mulia dan lebih baik dari 1000 bulan, yaitu Lailatul Qadar. Dalam bulan ini hendaklah kalian melakukan empat hal. Dua dari yang empat itu kalau kamu lakukan Allah ridha dan senang pada kamu. Dan dua lagi jangan tidak kamu tidak meraihnya. Dua hal yang menjadikan Tuhan ridha kepada kamu adalah hendaklah kalian bersaksi bahwa tidak tidak ada Tuhan selain Allah dan memohon maghfirah-Nya. Dua lainnya yang jangan tidak kamu tidak meraihnya pada bulan ini adalah mohon agar kalian memperoleh surga dan terhindar dari neraka.”

Tak heran, jika orang-orang tua dahulu kala setelah menjelang buka puasa ia akan membaca:

Baca juga:  Pendidikan Al-Qur'an untuk Anak Usia Dini

أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ

Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan aku memohon ampunan pada Allah, aku meminta surga dan meminta perlindungan dari neraka.

Boleh jadi kita membacanya, akan tetapi ada banyak orang yang tidak tahu maksudnya. Jadi kita hanya membaca. Padahal, sebenarnya tidak semudah itu Allah Swt. ridha dan tidak semudah itu dapat surga hanya dengan doa “Ya Allah kasih saya surga”.

Jadi ada makna yang sangat dalam sekali. Ketika Rasulullah Saw. berucap dan bersyahadat. Nabi Saw. pernah bersabda:

وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا قَالَ أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Artinya: “Dan Rasulullah Saw. bersabda: Perbaharuilah iman kalian”, maka ditanyakan kepada beliau; Bagaimana kami memperbaharui iman kami wahai Rasulullah? Nabi bersabda: “Perbanyaklah mengucapkan, LAA ILAAHA ILLAALLAH.” (HR. Ahmad).

Ilaha adalah yang menguasai alam raya ini dan yang mengaturnya, menguasai hidup dan matinya manusia. Artinya, tidak ada yang menguasai dan mengatur alam raya ini kecuali Allah Swt. Kata Quraish Shihab, inilah yang harus ditanamkan di hati kita selama bulan Ramadan penuh bahwa, penguasa mutlak adalah Allah Swt.

Dalam hal ini bukan hanya sekedar tidak ada yang disembah selain Allah Swt. Hingga pada akhirnya dia akan mengalir di darah dan pikiran kita dan sampai pada puncaknya sebagaimana yang di alami oleh Rasulullah Saw.

Baca juga:  Tafsir Surah At-Takatsur (Bagian 1)

Suatu waktu Nabi sedang bersandar di bawah pohon dan pedangnya juga berada di situ. Rupanya beliau terlena dan pedangnya ada yang mengambil. Tiba-tiba saja yang mengambil bilang “Siapa yang bisa menyelamatkan kamu dari pedang ini?” Nabi menjawab “Allah Swt.” Akhirnya orang itu seketika gemetar dan pedangnya terjatuh. Nabi berkata “Sekarang siapa yang bisa?” Dia pun malu lalu meninggalkan Nabi.

Jelasnya, tidak ada sesuatu yang terjadi kecuali Allah Swt. menghendakinya. Karena itu, Nabi berpesan “Jika kamu meminta maka mintalah kepada Allah Swt., dan ketika memohon perlindungan maka mohonlah kepada Allah Swt.” Sekali lagi, tanamkan hal ini selama bulan Ramadan maka Allah Swt. akan ridha dan senang kepada kita. Jadi Allah Swt. puas.

Tentang Lailatul Qadar. Ia adalah tamu agung. Ia hanya akan datang berkunjung kepada orang yang ia anggap sudah siap menyambutnya. Kalau tidak siap maka ia tidak akan pernah datang. Dan tentu saja dalam menyambutnya bukan hanya satu malam apalagi satu jam. Tidak. Setidaknya, persiapan itu paling tidak sejak awal Ramadan. Misalnya dengan cara memperbanyak baca syahadat, istighfar dan tentunya juga memperbanyak amal-amal shaleh dalam segala hal.

Kenapa harus memperbanyak baca syahadat? Sebab, kepercayaan kita kepada Allah Swt. tidak sempurna. Seringkali dalam benak kita ada yang terlintas sesuatu yang mengurangi penghormatan kita kepada Allah Swt. Boleh jadi yang terlintas rasa-perasaan yang tidak sesuai dengan kebesaran Allah Swt.

Atau menggeruduk dan memprotes kenapa si A kaya dan saya tidak. Bahkan, menduga bahwa ada selain Tuhan yang berkuasa. Inilah yang mengurangi makna syahadat. Dan untuk membersihkannya maka harus memperbanyak baca syahadat. Demikian juga dengan istighfar. Di Ramadan inilah tempat kita untuk membersihkannya. Wallahu a’lam bisshawab.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top