Sedang Membaca
Menjaga Iman di Tanah Seberang
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Menjaga Iman di Tanah Seberang

Iip D Yahya
Menjaga Iman di Tanah Seberang

Lain lubuk lain ikan, lain padang lain ilalang. Itulah peribahasa yang bermakna universal.

Setiap wilayah di dunia ini memiliki ciri mandiri, yang membuat para pendatang harus menyesuaikan diri, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Sekalipun demikian, para pendatang itu, terutama dari generasi pertama, tak bisa sepenuhnya membuang begitu saja adat istiadat leluhur yang sudah mendarah daging dalam jiwanya.

Kompromi antara pendatang dengan tanah dan negara baru itu akan berlangsung terus menerus sampai menemukan keseimbangan yang saling menguntungkan. Mereka diterima seutuhnya di tempat baru sementara akar dan jejak leluhur mereka juga tetap terpelihara.

Australia adalah tanah baru bagi lebih dari 200 suku bangsa dari seluruh dunia. Secara umum negeri Kangguru ini menerapkan sistem sekuler, mengikuti sistem Eropa sebagai pendatang terbanyak dan terkuat. Semakin sejahtera kondisi masyarakat di negeri ini, kian menjauh pula mereka dari kesibukan beragama.

Jaminan pendidikan, kesehatan dan hari tua, membuat mereka tak lagi “membutuhkan” agama sebagai sandaran hidup. Kenyataan itu ditegaskan oleh hasil riset sebagaimana dikutip oleh pegiat dialog antariman Nadirsyah Hosen di Australia,

“Semakin makmur sebuah negara maka kian jauh penduduknya dari agama.”

Namun, di tengah situasi demikian, pendatang Indonesia justru semakin terpacu untuk menemukan religiusitas mereka. Para pendatang yang Muslim berusaha keras agar di lokasi mereka tinggal dapat membangun masjid untuk jamaah Indonesia.

Di Victoria mereka berhimpun dalam IMCV (Indonesian Muslim Community of Victoria). Pendatang beragama Hindu yang kebanyakan datang dari Bali, juga tengah berproses agar dapat memiliki pura sendiri. Mereka terkumpul dalam MAHINDRA (Masyarakat Hindu Dharma).

Baca Juga

Bagi yang menganut Kristen dan Katolik, kondisinya lebih menguntungkan karena mereka bisa “memilih” gereja yang sangat banyak terdapat di seluruh wilayah Australia yang sesuai dengan kayakinannya. Mereka tinggal mengatur jadwal kebaktian atau misa yang dilaksanakan dalam bahasa Indonesia. Penganut Kristen yang terdiri dari lebih 20 gereja dan persekutuan, terhimpun dalam BKS (Badan Kerjasama umat Kristen). Sementara jemaat Katolik terkumpul dalam KKI (Keluarga Katolik Indonesia).

Mengapa mereka perlu membentuk kelompok ibadah sesama pendatang Indonesia dan tidak membaur saja dengan pendatang lain yang menganut keyakinan yang sama?

Soal ibadah adalah soal yang sangat pribadi, menyatu dalam jiwa dan rasa percaya. Di situlah akar etnisitas dan keyakinan mengambil tempat yang mencengkeram kuat. Beribadah memerlukan rasa nyaman dan aman. Tak ada yang bisa mengalahkan kebersamaan dengan orang sekampung halaman dan seiman.

Fakta membuktikan, berada jauh di tanah seberang, para pendatang Indonesia tetap berusaha kuat untuk menjaga iman, agar tidak larut dalam berbagai godaan. Sungguh, ini sesuatu yang layak disyukuri.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top