Sedang Membaca
Ahmad Tohari: Siapa akan Masuk Surga?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Ahmad Tohari: Siapa akan Masuk Surga?

Hamzah Sahal

Ini kisah Ahmad Tohari, novelis terkemuka negeri ini, mengenal kitab Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Ihya Ulumiddin adalah kitab besar di bidang tasawuf, yang ditulis sekitar tahun 500-an Hijriah atau  1100-an dalam penanggalan Masehi.

Dia mengisahkan perkenalannya dengan buku –orang pesantren menyebutnya dengan kitab, artinya sama saja, buku—dalam acara Kopdar Ngaji Ihya yang berlangsung di Purwokerto, Sabtu malam, 9 September. Sementara saya menyaksikannya secara daring lewat akun Facebook pribadi Ulil Abshar Abdalla.

“Di perpustakaan saya memang ada Ihya Ulumiddin tapi edisi bahasa Indonesia,” Ahmad Tohari memulai kisahnya.

Para peserta pengajian, termasuk pembicara utama Ulil Abshar, menyambut perkenalan Ahmad Tohari dengan tertawa. Sudah maklum, di kalangan pesantren, membaca literatur keislaman dengan menggunakan karya terjemahan memang semacam keganjilan, bahkan mungkin ‘aib’, tetapi Ahmad Tohari menyampaikan ‘rahasia’ itu secara terbuka. Jadi ketika Ahmad Tohari mengungkapkan bahwa dirinya tidak membaca al-Ihya dari literatur aslinya, merupakan sebuah keberanian, mengingat dirinya besar di lingkungan pesantren, dan tidak jarang orang memanggilnya ‘kiai’.

Mungkin karena tidak begitu akrab dengan teks-teks berbahasa Arab itulah, Ahmad tohari selalu menolak panggilan mulia itu.

“Jangan panggil ‘kiai’. ‘Kang’ saja,” seru Tohari saat moderator menyebutnya kiai. Mungkin karena itu pula, dirinya merasa menjadi ironi berada dalam majlis pembacaan kitab Ihya Ulumiddin.

“Sebetulnya malam ini telah terjadi ironi besar. Kang Ahmad Tohari kok bisa di mimbar pengajian Ihya itu bagaimana? Bagaimana bisa begitu? Padahal kiai ronggeng, bagaimana?”

Baca juga:  Sabilus Salikin (43): Bab III Macam-macam Tarekat: Tarekat Uwaisiyah

Meskipun demikian, Ahmad Tohari tidak merasa jauh-jauh amat dari kitab Ihya. Sedari kecil sudah diperkenalkan kitab tersebut oleh pamannya yang bernama Slamet, atau Kiai Toha. Bahkan kini dia sedang mengedit satu bab dari kitab tersebut.

“Saat ini di meja kerja saya ada bagian kitab al-Ihya bab Taubah yang diterjemahkan oleh almarhum Kiai Hasbullah Badawi dari Pesantren Ihya Ulumuddin, Cilacap, Jawa Tengah. Saya disuruh mengedit bab Taubah. Ya ampun, ini tidak level. Saya ngedit ronggeng oke. mengedit bab Taubah dari al-Ihya bagaimana saya bisa? Tapi kok saya gak menolak lo.”

Pada kesempatan itu Ahmad Tohari mengenang bagaimana pamannya menyampakan satu kisah dari Imam al-Ghazali.

“Paman saya cerita bahwa ada seorang ulama besar yang menulis kitab sangat besar, tapi mengaku masuk surga bukan karena kitab besar itu yang ilmunya luar biasa yang sedang kita bahas sekarang ini, melainkan karena ada tinta masih basah di kitab itu yang kemudian dicecap oleh lalat. Karena si ulama itu membiarkan lalat mencecap air di kitab itu, maka itulah yang menyebabkan masuk surga,”

“Saya percaya sepenuhnya lo, padahal saya tidak tahu apa ini karangan paman saya atau… Tapi paman saya mengatakan itu kitab al-Ihya dan ulama itu al-Ghazali. Saya percaya sekali,” lanjut Ahmad Tohari. Ulil yang duduk di sampingnya membenarkan cerita tersebut.

Baca juga:  Pudarnya Pesona Harun Yahya

Penulis novel Ronggeng Dukuh Paruk itu lalu memberi contoh temannya yang bernama Abbas Mu’in, yang juga hadir di acara itu. Sambil bergurau, dia mengatakan, ”Jadi saya ingatkan kepada teman saya itu, Abbas Mu’in. Kitabnya sekamar yang dibawa dari Irak itu, kalau nanti Pak Abbas masuk surga, insya Allah masuk surga, itu bukan karena kitab lo. Bukan karena ilmunya yang di sini, yang hafal sekian ribu hadis. Bukan. Tetapi karena mungkin Mas Abbas membantu para petani, bagaimana bertani yang benar.”

Tidak lupa pula, Tohari menyentil pembicara utama, sang pembaca kitab atau buku Ihya.

“Ini teman muda saya tapi ilmunya lebih tua. Dia bukan karena JIL-nya masuk surga. Tapi mungkin tadi pagi dia membayar parkir lima ribu rupiah, dia tidak minta kembali,” mendengar sentilan itu semuanya tertawa.

Baca Juga

Ahmad Tohari mengaku bahwa dari al-Ghazalilah dirinya mendapat ilmu pengetahuan yang penting.

“Lo, ilmu itu, sebanyak apapun, belum memberikan manfaat sebelum jadi amal. Betul tidak? Mari kita pahami tadi, yang diuraikan kiai kita itu. Tolong nanti dijadikan amalan, sekecil apapun amal itu. Saya nanti akan membantu almarhum mengedit bab Taubah itu, tapi bukan karena itu saya masuk surga.”

Lalu dia juga menyampaikan sebuah riwayat berisi kisah seorang perempuan tidak baik dalam keadaan lapar, air yang dimilikinya malah dikasihkan pada anjing. “Kanjeng Nabi mengatakan perempuan ini masuk surga. Ngeri saya mendengar riwayat ini. Sahih tidak hadis ini?” ujar Tohari. Ulil menyahut bahwa riwayat tersebut sahih.

Baca juga:  Terbius Gus Mus

“Mengerikan kan, memberikan air kan sama sekali perbuatan dunia itu? Tapi kok ya itu menentukan masuk surga?”

Ahmad Tohari di akhir-akhir uraiannya meminta pengajian al-Ihya dikembangkan. Dia mengaku mendapatkan banyak ilmu dari acara tersebut.

“Mari kita cari ilmu sebanyak-banyaknya. Tapi jangan lupa, walapun sebanyak apapun, kalau belum menjadi amal itu belum bisa bermanfaat, belum mencapai maknanya, itu baru mencapai wilayah simbol saja. Jadi mari kita amalkan.”

Uraian Ahmad Tohari tentang ilmu dan amal begitu kuat, karena memang keduanya berkelindan.

Dalam bahasa Arab, ilmu (‘ilmun) dan amal (‘amalun) ini dua kata yang berbeda, tapi keduanya menggunakan huruf yang sama, ain, mim, dan lam. Mereka ganti posisi ain dan lam saja. Jika ‘ilmun, lam-nya di tengah dan mim-nya di belakang. Sementara amalunmim-nya di tengah dan lam-nya di belakang. Alquran saja kerap sekali menyandingkan keduanya. Karena memang, seperti diuraikan lelaki yang pada bulan Juni tahun 2018 nanti berusia 70 tahun itu, keduanya menentukan posisi kita di hari akhir kelak.

Lihat Komentar (0)

Komentari