Sedang Membaca
Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an: Membangun Pondasi Keislaman, Mendidik Tanpa Pamrih
Dani Ismantoko
Penulis Kolom

Guru dan tinggal di Panjangrejo, Pundong, Bantul.

Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an: Membangun Pondasi Keislaman, Mendidik Tanpa Pamrih

Tpa Q

Banyak orang mengira mengajar santri TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) itu mudah: dianggap sekadar kumpul-kumpul dengan anak-anak, menyanyi, main game, ngaji alif, ba’, ta’. Oleh karenanya TPA seringkali disepelekan, dianggap tak penting-penting amat.

Padahal TPA adalah lembaga pendidikan—kendati tak formal—yang siap menerima siapa saja, umur berapa saja untuk menjadi santri tanpa syarat. Tidak jarang anak-anak yang belum PAUD dan TK pun diterima. Hal yang tak mungkin terjadi di lembaga pendidikan formal. Di lembaga pendidikan formal tertentu kadang-kadang hanya menerima murid yang pandai saja. Selain itu, kalau umur si anak kurang 2 bulan saja tidak diterima.

Karena biasanya sebelum PAUD anak-anak sudah belajar di TPA, anak-anak lebih dulu tahu huruf hijaiyah, doa-doa sehari-hari, hafalan surat pendek alih-alih huruf latin, Matematika, IPA, IPS. Bukankah dalam agama Islam justru hal tersebutlah yang menjadi pondasi bagi keislamannya di masa depan? Artinya sebenarnya bagi orang Islam, setelah pendidikan keluarga, pendidikan yang diselenggarakan masyarakat, khususnya TPA, bisa dikatakan cukup penting, utamanya untuk memperkenalkan keislaman bagi anak.

Guru TPA punya beban cukup berat. Apa yang dilakukan guru TPA sangat menentukan apakah si santri ini mau lanjut belajar membaca Al-Qur’an atau tidak. Kalau mau lanjut belajar membaca Al-Qur’an, tentu saja itu menjadi pintu masuk bagi santri tersebut untuk belajar agama Islam secara lebih luas dan dalam. Kalau tidak lanjut, yang terjadi bisa sebaliknya.

Baca juga:  Kisah Hikmah Luqmanul Hakim dalam Al-Qur'an dan Tips Sukses Dunia Akhirat

Mengapa bisa seperti itu? Di TPA, ketika mengaji iqro’ atau Al-Qur’an itu ada kartu kendalinya yang tujuannya untuk mencatat sejauh mana si santri mengaji. Momen setelah disimak membaca Iqro’ atau Al-Qur’an oleh Guru TPA adalah momen yang dinantikan santri karena itu menentukan lanjut atau tidaknya santri di halaman berikutnya. Kalau lanjut terus akan cepat naik tingkat. Kalau sering ulang maka naik tingkatnya lambat.

Nah, untuk menentukan lanjut atau ulang guru TPA bukan melulu mempertimbangkan dari bisa atau tidaknya si santri. Tetapi seringkali melalui pertimbangan psikologis. Guru TPA harus paham karakter santri dan kondisi psikis santri di hari tersebut. Kalau salah keputusan, bisa mengakibatkan santri akan terhambat belajarnya atau malah putus asa.

Santri yang seharusnya ulang, memang harus ditulis ulang di kartu kendali, tetapi dilihat dari kondisi psikisnya. Kalau secara psikis tidak apa-apa lebih baik ulang karena itu bisa membantu memperbaiki bacaan iqo’ atau al-qur’annya yang salah-salah. Tetapi kalau secara psikis tidak memungkinkan, tidak boleh ditulis ulang, karena akan membuat santri tersebut putus asa. Lebih baik santri senang berangkat TPA walaupun secara kemampuan membaca iqro’ atau al-qur’an berkembangnya lama, dari pada santri putus asa dan tidak berangkat TPA lagi.

Baca juga:  Penulis Satu-Satunya Tafsir Isyari Nusantara: Kiai Sholeh Darat Semarang (c. 1820-1903)

Banyak terjadi di berbagai tempat. Ketika seorang anak sudah SMP atau SMA tidak bisa membaca Al-Qur’an karena di masa kecilnya tidak belajar membaca Al-Qur’an. Putus asa tidak pernah naik tingkat. Sebab di buku prestasi sering ditulis ulang oleh ustadz/ustadzahnya. Bukankah untuk menjalani itu semua butuh ilmu pendidikan, psikologi perkembangan, psikologi pendidikan serta ilmu-ilmu lain yang saling beririsan yang jika belajar di bangku kuliah harus membayar biaya mahal?

Selain itu, santri-santri TPA itu tidak jarang dari keluarga yang kurang peduli dengan perkembangan anaknya. Tetapi ia mau berangkat TPA karena banyak temannya berangkat TPA. Dalam kondisi seperti itu, guru TPA punya beban moral tersendiri. Guru TPA biasanya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat anak-anak seperti itu betah untuk terus berangkat TPA. Karena bagaimana pun anak tersebut bagian dari masyarakat di mana ia tinggal. Dan membantu mendidik masyarakat adalah panggilan hati dari guru TPA itu sendiri.

Dengan kompetensi serta situasi dan kondisi yang cukup kompleks tersebut, bukanlah sesuatu yang sia-sia apabila guru TPA lebih dihargai di masyarakat. Walaupun saya yakin guru TPA tak berharap mendapat pamrih apa-apa. Sayangnya, seringkali orang tua lebih menghargai guru les mata pelajaran sekolah karena membantu anaknya lulus sekolah dengan nilai yang tinggi alih-alih menghargai guru TPA yang memberikan pondasi keislaman yang menjadi modal si anak untuk menjalani kehidupan sepanjang hayat.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top