Sedang Membaca
Sultan-Galievisme: Muslim-Komunis-Nasionalis Satu Paket
Riza Bahtiar
Penulis Kolom

Peneliti Kindai Institute Banjarmasin

Sultan-Galievisme: Muslim-Komunis-Nasionalis Satu Paket

Sultan Galiev (1892-1940) disebut-sebut sebagai Bapak Revolusi Dunia Ketiga. Alexandre Bennigsen dan Chantal Lemercier-Quelquejay mengangkat titel ini dalam bukunya Sultan Galiev le père de la révolution tiers-mondiste (1986). Dengan titel itu, Sultan Galiev rupanya menggabungkan banyak kepribadian.

Tapi, Uni Soviet—Union of Soviet Socialist Republic (USSR), Federasi Rusia sekarang—memandangnya sebagai tokoh yang buruk. Dia dilihat sebagai pengkhianat utama, borjuis kontra-revolusioner, agen imperialisme, pelaku manuver machiavellis, penyelusup sukses di dalam Partai Bolshevik dan pendiri gerakan penyimpangan yang kesemuanya di bawah naungan namanya sendiri: Sultan-Galievisme. Meski pernah menjadi tokoh papan atas di dalam lingkaran-dalam Partai Bolshevik, namun Galiev, sang putra Tatar ini, dihabisi oleh rezim komunis di bawah Stalin, tokoh yang pernah menjadi atasan Galiev sendiri. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Secara garis besar, pemikiran Galiev bisa dibagi dua fase. Fase pertama (1914-1923): fase pra dan di dalam Partai Bolshevik. Pada fase ini Galiev menganjurkan pendirian Tentara Merah Muslim sekaligus pinggiran Rusia sebagai sentral perjuangan proletar dengan nasionalisme sebagai jangkar komunisme menuju revolusi internasionalisme komunis. Fase kedua (1923-1940): fase penjara dan di luar penjara. Fase ini ditandai dengan radikalisasi Galiev yang menghantam fase negara industri baik Barat Eropa kapitalis maupun komunis Soviet sendiri yang dianggapnya termasuk juga sebagai imperialisme yang harus dilawan. 

Apa saja gagasan Sultan-Galievisme? Tulisan Matthieu Renault di Viewpoint Magazine bertitimangsa 23 Maret 2015 yang berjudul “The Idea of Muslim National Communism: On Mirsaid Sultan Galiev” bisa memberikan gambaran ringkas. Renault menegaskan bahwa Galiev adalah tokoh utama yang membangun Komunisme Nasional Muslim Rusia. Saat dia belum dikeluarkan dari Partai Bolshevik, khususnya ketika masih mendampingi Lenin dan Stalin, tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai usaha penerbitan bisa diperas dalam tiga orientasi strategis.

Pertama, konsern pada pembentukan “Tentara Merah Muslim”, atau dalam bahasa Galiev sendiri “Tentara Merah Proletarian Timur” (Oriental Proletarian Red Army). Sultan Galiev bertahun-tahun sebelum Mao menganggitkan tentara sebagai “’Kelas sosial’ yang sangat terorganisir, hierarkis dan sangat terpolitisasi mampu menggantikan proletariat pribumi yang hilang sebagai penggerak kekuatan revolusioner.”

Kedua, pembangungan Partai Komunis Muslim Rusia yang mampu mencadangkan otonomi gerakan revolusioner Muslim yang akan dalam bahaya jika dibadankan dalam organisasi yang dipimpin Rusia lebih-lebih karena tradisi panjang chauvinisme Rusia.

Ketiga, orientasi strategis yang ketiga ini berakar jauh lebih dalam tinimbang Revolusi Soviet. Ia mengupayakan penciptaan Republik Tatar-Bashkir yang besar di dalam batas-batas Rusia Soviet. 

Dalam periode yang sama itu pula Sultan Galiev meletakkan fondasi teoritis dan ideologis komunisme Muslim. Gagasan-gagasannya ini bisa disintesiskan dalam sejumlah poin:

Pertama, relasi antara kelas-kelas sosial, dan yang berhubungan, antara revolusi sosial dan revolusi nasional. Sultan-Galiev menegaskan tentang homogenitas struktur sosial muslim dan absennya proletariat Tatar. Dia menyatakan bahwa selama tahap pertama revolusi kepemimpinan gerakan seyogianya diasumsikan  dilakukan oleh revolusioner berlatarbelakang borjuis kecil. Dengan merombak oposisi ala Lenin tentang bangsa penindas dan tertindas, Galiev menyerukan “balas dendam kaum tertindas atas kaum penindas” dan menegaskan bahwa “seluruh rakyat Muslim terjajah adalah rakyat proletarian”.

Kedua, poin kedua mengacu pada relasi antara revolusi sosialis dan Islam. Sultan-Galiev menyatakan bahwa “seperti seluruh agama lain di dunia”, Islam “mengalami petaka dihilangkan”. Namun dia juga menambahkan bahwa “di antara seluruh ‘agama-agama besar’ dunia lainnya, [Islam] adalah paling muda sehingga menjadi paling tangguh dan paling kuat dalam hal pengaruh yang dilancarkan.” Galiev menandaskan bahwa hukum Islam mengandung sejumlah ketentuan yang “positif” seperti “sifat mandatory pendidikan … kewajiban bekerja dan berdagang,” dan “tiadanya hak-hak kepemilikan pribadi atas tanah, air dan hutan.” Sebagai tambahan, keanehan Islam bersandar pada fakta bahwa “selama abad terakhir, seluruh dunia Muslim dieksploitasi oleh imperialism Barat Eropa.” Islam telah dan masih “sebuah agama kaum tertindas yang dipaksa menjadi defensive.” Penindasan permanen itu adalah sumber “perasaan solidaritas” mendalam di antara Muslim sekaligus hasrat yang kokoh demi emansipasi. Menurut Sultan-Galiev, kaum Komunis seharusnya tidak berupaya menghapuskan Islam, tetapi mengerjakan de-spiritualisasinya, yakni “Marxisasi”-nya.

Ketiga, Galiev konsern pada ekspor Revolusi Bolshevik, atau dalam istilahnya sendiri, transportasi “energy revolusi” melewati batas-batas Rusia. Menurutnya, revolusi “harus meluas dan menjadi lebih dalam, baik dalam muatan internal maupun manifestasi eksternalnya.” Tapi pertanyaannya, ke arah mana revolusi ini menuju? Seperti Marxis non-Eropa lainnya, semisal M.N. Roy (1887-1954), seorang revolusioner, aktivis radikal dan pencetus teori politik dari India, Galiev merekomendasikan pembalikan tatanan prioritas revolusioner dan mengutamakan revolusi di Asia sebagai yang pertama. Bukan hanya fakta bahwa revolusi Asia ini dikondisikan kesuksesan sebelumnya revolusi di Barat, ia mungkin juga untuk mengatasi menurunnya energi revolusi di Barat Eropa. Menurut Galiev, revolusi kolonial di Timur harus dikonsepsikan sebagai prakondisi revolusi Eropa dan dunia, bukan sebaliknya: “Menyingkirkan Timur dan memotong diri dari India, Afghanistan, Persia, dan koloni-koloni Asia dan Afrika lainnya, maka imperialism Barat akan layu dan mati alamiah.” Kecerkasan Galiev memasukkan juga penegasan bahwa Muslim Komunis Rusia adalah paling memenuhi syarat untuk menyebarluaskan revolusi Soviet di Timur. Dia menegaskan inisiatif revolusi yang tak memusat (decentering) dan mendorong para pemimpin Bolshevik untuk menguatkan pinggiran-pinggiran Rusia sebagai sumber sentral revolusi di Timur. Dengan kata lain, bagi Sultan-Galiev, nasionalisme di pinggiran kekaisaran tak berarti apa-apa kecuali syarat kemungkinan yang dibutuhkan untuk pembaharuan internasionalisme pada skala global. 

Pandangan Galiev tentang mutlaknya nasionalisme bagi tegaknya komunisme membikin pusing kalangan lingkaran dalam Partai Bolshevik. Pandangan ini jelas berseberangan dengan premis dasar Komunisme Internasional bahwa nasionalisme adalah gagasan borjuasi demokratik yang tentu saja haram. Lebih memusingkan lagi, Galiev terlibat aktif dalam gerakan-gerakan bawah tanah di Asia Tengah, wilayah yang nyatanya sukar bagi Rusia untuk menaklukannya secara total. Alasan utama kampanye Galiev mengusung nasionalisme muslim komunis adalah kemuakan dan ketidakpercayaannya atas chauvinisme Rusia yang akut. Chauvinisme yang bukannya berkurang, namun makin menguat di masa-masa hidup Galiev. 

Arkian, sejarah Sultan-Galiev adalah sejarah yang kurang banyak diketahui. Ia merupakan perwujudan percobaan teoritis, ideologis, dan praksis yang berani dari figur yang berasal dari wilayah yang kurang jadi perhatian dalam sejarah dunia, termasuk juga dunia Islam: Asia Tengah.

Baca juga:  Bung Karno dan Pancasila: Adanya Kementerian Agama Mulanya Konsesi Politik
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top