Sedang Membaca
Bagaimana Menjadi Muslim Zaman “Now”?
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Bagaimana Menjadi Muslim Zaman “Now”?

Ren Muhammad
Harapan itu Bernama Iman 1

Jalan panjang yang telah ditempuh Islam memang sudah terentang hampir selama seribu empat ratusan tahun yang sarat romantika sejarah. Para orientalis barat mengenal Islam sebagai agama pedang. 

Pada saat yang sama, mereka sengaja melupakan riwayat Kristen dalam kejamnya Perang Salib, dan genosida di Afrika dan Timur Tengah—abad ini. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Penganut Buddha dan Hindu pun setali tiga uang. Atas nama kebenaran tunggal, darah manusia di luar agama mereka pun, bisa tumpah bersimbah. Umat Islam sendiri, menganggap agamanya sebagai tulang punggung peradaban kita. Rahmat bagi semesta raya.

Namun, jika kita mau lebih tekun menelisik ke dalam tubuh Muslim secara organik, nampaknya agama rahmat yang disematkan pada Islam, nyaris hanya isapan jempol belaka. Apa pasalnya?

Sudah sejak sepeninggal Rasulullah Muhammad Saw, wajah Islam seketika mengeras. Para penyintas yang murtad dan mereka yang enggan membayar zakat, harus berurusan dengan kematian.

Ingat, ini masih di zaman awal Islam berkembang. Padahal empat Sahabat utama Nabi Saw masih berkibaran namanya di Abad ke-7 M itu. Jadi tak usah heran bila sampai detik ini, para pemeluk Islam agak sulit menenggang beda. 

Masih gamang menerapkan laku hidup yang berbudi luhur. Meski kasus tersebut memang tak bisa dijadikan tolok ukur bahwa Islam gagal menjadi spirit peradaban manusia.

Masa yang merentang sepanjang itu, sesungguhnya belum tergarap dengan baik oleh umat Islam hari ini, terutama yang ada di Indonesia—negara dengan penganut Islam terbanyak dunia. 

Jika di Indonesia saja begini ceritanya, macam mana bila di negara yang penduduk Muslimnya minor? Di Indonesia yang sarjana Islamnya melimpah ruah, tetap saja tak menghasilkan khazanah pemahaman baru yang terbarukan. 

Dinamika yang berkembang masih melulu melanjutkan apa yang telah dikupas pada masa sebelum ini yang melulu bercorak ‘ubudiyah, fiqh, dan permukaan. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sejujurnya, Muslim kini berada dalam keadaan jalan di tempat. Kita belum lagi menggali harta karun apa yang tersembunyi dalam tubuh Islam.

Mari kita telusuri. Pada begitu banyak kesempatan, saya sering memilih posisi sebagai pendengar yang baik dari curahan hati saudara seiman yang jiwanya sedang gelisah dilamun gebalau perasaan. Lalu ia mencari tuhan lagi. Masuk masjid lagi. Salat lagi dengan penuh harap bisa beroleh ketenangan hati. 

Setelah ia puas menangisi hidupnya, saya ingatkan saudara seiman itu dengan sebaris ayat Al Quran yang berbunyi, “Inna s-shalâta tanhâ `ani l-fahsyâ’ i wa l-munkar (sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan munkar.” (QS Al Ankabut [29]: 45)

Baca juga:  Tahfidzul Quran Sebagai Tradisi Menjaga Keontetikan Alquran

Tak ada satu pun ayat yang menerangkan bahwa dengan salat, hati kita jadi tenteram. Kecuali bila dimaknai sebagai dzikir. Salat hanya perkara mengingat Allah. “Sesungguhnya Aku Allah, tiada Tuhan selain Aku, maka kalian sembahlah Aku, dan dirikanlah shalat dalam rangka berdzikir (mengingat) pada-Ku.” (QS. Thaha [20]: 14)

Kali berbeda, saya kembali memosisikan diri sebagai pendengar dari jeritan hati saudara Muslim yang lain, yang hidupnya babak bundas. Ia patah arang. Istrinya minggat dengan lelaki lain. Anak-anaknya tercerai berai. Usaha yang dirintisnya tumbang. Ia kehilangan arah. 

Tak pelak, ia menyalahkan dan menuding Tuhan. Seolah dia sungguh benar mengerti bagaimana yang dikehendaki Tuhan dalam hidupnya. Lalu dengan santai saya katakan padanya, bahwa kita manusia adalah tempatnya salah (khata’) dan lupa (nisyan).

Salah memahami tuhan dan lupa bersyukur telah diciptakan. Allah tak benar-benar menghukum kita. Sebab bagaimana Dia mau menghukum barang ciptaan yang sudah sedemikian lemah tak berdaya begini. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

“Bencana yang terjadi di bumi atau atas dirimu, telah tertulis dalam Kitab (Lauh l-Mahfudz) sebelum Kami melaksanakannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. (QS. Al Hadid [57]: 22).

“Katakan: tiada menimpa kami, kecuali apaapa yang telah ditetapkan Allah—atas kami. Dia lah pelindung kami. Dan kepada Allah jua lah hendaknya orangorang mukmin bertawakal.” (QS at Taubah [9]: 51) 

Banyak juga dari kita yang secara sadar melatih diri menjadi pendusta agama. Doa iftitah, bacaan awal shalat, yang artinya berbunyi, “Sesungguhnya salatku, dan ibadahku, dan hidupku, dan matiku, kuserahkan hanya kepada Tuhan semesta alam,” lantas menguap selepas salat.

Bacaan itu hanya berhenti di kerongkongan. Tuhan kerap diminta mewujudkan keinginan dari doa-doa kita. Padahal sebaliknya. Kita lah yang seharusnya mewujudkan apa yang dikehendaki tuhan dalam hidup ini. 

Kita tak pernah benar-benar belajar mengerti apa yang diinginkan Tuhan dari diri kita di dunia. Maka tak heran bila kita gagap menjawab, kenapa kita harus dilahirkan?

Seorang saudara seiman saya yang lain, meninggalkan kecintaannya pada musik dan mulai menonton video ceramah para ustad zaman now di kanal Youtube, dan mulai rajin mendatangi majelis pengajian saban malam Jumat di sebuah masjid, di bilangan Jakarta Pusat.

Pada saya ia mengaku telah terlampau jauh dari Tuhan. Telah begitu lama meninggalkan agama di belakang hidupnya. Sehingga keterampilan bermusik yang telah melambungkan namanya dalam jagat musik nasional, ia jadikan biang kerok—dan telah dicap haram oleh sebuah mazhab impor dari Saudi.

Baca juga:  Tafsir Surah Al-Maun (Bagian 4)

Padanya, saya hanya menyodorkan sebuah ayat berikut: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat daripada urat lehernya.” (QS. Qaf [50]: 16).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Tuhan tidak hanya bersemayam di ‘Arsy. Dia di mana-mana. Di mana-mana ada Dia. Tak di masjid, tak di diskotik. Tak di gedung pencakar langit, tak di gubuk si miskin. Tuhan menaungi kita. Meliputi alam raya.

Lebih dari itu, Dia teramat dekat dari dekat. Sejatinya, kita lebih sering mati rasa pada Tuhan tinimbang ke manusia. Tuhan yang sedemikian Maha Baik itu, hanya beroleh sedikit saja porsi perhatian dari kita. Hanya dalam lima waktu shalat, ditambah Jumatan sepekan sekali, serta shalat dalam dua lebaran Fitri dan Adha.

Laku keberagamaan kita ini, hanya mendudukkan Tuhan sebagai seonggok oknum yang jauh. Fungsional, dan gampang diatur seenak udel. 

Seorang kawan yang lain, sedang berada di ujung keputusasaan dengan kekayaan melimpah yang ia dapatkan. Ia merasakan kehampaan teramat sangat. Padahal segala yang ia butuhkan tercukupi.

Dari pengakuannya saya mengetahui, bahwa Islam yang ia anut hanya menempel di KTP saja. Semua rukun Islam dan Iman, tak pernah benar ia jalankan.

Maka demi membayar segala khilafnya di masa muda, ia getol berderma demi menghibur hati banyak orang susah—dan terutama, mengumpulkan pahala. Agar kelak nanti ia tak merugi dan kecemplung di neraka.

Pada kawan yang baik ini, saya sodorkan dua ayat saja. “Fa man ya’mal mitsqaala dzarratin khairan yarah, wa man ya’mal mitsqaala dzarratin syarran yarah (Sesiapa yang melakukan kebaikan sekecil biji dzarrah, maka ia akan melihat (balasan) kebaikanya, dan sesiapa yang melakukan keburukan sekecil biji dzarrah, niscaya juga akan melihat (balasan) buruknya.” (QS. Az Zalzalah [99]: 7-8). 

“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri, dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri…” (QS. Al Isra’ [17]: 7)

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Terkait rukun iman yang keenam pun kita masih belum fasih benar mengamalkannya. Kita memercayai bahwa Qadha dan Qadar, baik dan buruk datangnya dari Allah. Cetak miring itu dari saya sendiri. 

Sebagai bukti jika dalam hidup sehari-hari kita hanya mau menerima kebaikan saja, lantas segera menolak keburukan orang dengan hukuman berlabel dosa dan neraka.

Baca juga:  Perjalanan di antara Orang-Orang Mualaf: Memandang Kebudayaan Lain dengan “Mata Naipaul”

Allah yang adalah Sumber segalanya, Pemula dari semua yang berawal, dan Maha Tak Berbatas itu, seketika terpinggirkan di ruang sempit bernama surga-neraka. Sudah jelas ini bagiannya ushuluddin (tiang agama). Namun kita terlanjut terampil menjadi pemilik sah hidup, yang padahal tak pernah kita pahami sama sekali.   

Kerancuan lain yang juga kerap kita yakini adalah, kita terlatih menduakan Tuhan dalam banyak sendi kehidupan. Kita lupa diri. Mabuk berat pada ego pribadi. Tergila-gila pada diri sendiri.

Padahal Dia menitipkan Ruh-Nya di dalam diri kita. Namun, kenapa kita tak menyadarinya? Kenapa kita tak pernah bisa merasakan kehadiran-Nya?

Tuhan bukan hanya turun ke langit dunia. Melampaui itu, Dia hidup  dalam kesejatian kita. Sebagaimana termaktub dalam ayat ini, “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya (manusia), dan telah meniupkan ke dalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepada-Nya dengan bersujud.” (QS. Al Hijr [15]: 29). 

Ruh Allah berjalin kelindan dengan diri kita yang hina ini. Jadi bagaimana cara menghukumi salah-benar pada diri manusia yang di dalamnya Ruh Tuhan bersemayam?

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Bersujud yang dimaksud dalam ayat itu jelas bukan salat, tapi kesadaran meletakkan kepala kita serata tanah. Bahkan lebih rendah. Hal itu sama dengan ketundukkan hati. Tawadhu’. Keikhlasan dan kepasrahan total menerima kendali tuhan pada kita tanpa tedeng aling-aling. 

Apa yang kita lakukan selama ini, tak pernah berbanding lurus dengan hasilnya. Ada segelintir dari kita yang tekun bekerja keras dan kemudian menjadi kaya. Ada juga yang demikian, tapi sampai mati malah miskin papa. Malah ada juga yang tak sama sekali bekerja seperti awamnya manusia, ternyata kaya-raya juga. 

Andai agama, Islam dalam hal ini, tak tersusupi unsur politik, tak dibumbui mitos yang membodohi, tak dibiarkan terbenam dalam debu sejarah, niscaya kita masih akan terus menemukan begitu banyak jawaban atas segala pelik manusia zaman modern yang kita lintasi sekarang.

Alquran sebagai kitab suci, jangan hanya dijadikan mahar pernikahan dan setelah itu dibiarkan tak terbuka sampai kita tua. Sehingga agama dan harta benda, jadi sama nilainya. Warisan yang kelak sirna. Selamanya.

Hidup ini punya sistem operasi dan kendalinya sendiri. Sebelum kita terlampau jauh memikirkan akhirat yang entah bagaimana, ada baiknya kita selenggarakan kehidupan di dunia ini dengan sebaik mungkin. Semampu yang kita bisa.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top