Hikayat Abdullah: Alquran, Kertas, dan Pengajaran

M. Fauzi Sukri

Demi kalam dan apa-apa yang mereka tulis dan sesungguhnya bagi engkau pahala yang tidak putus-putus (QS. 68: 1-2)

Inilah kisah remaja pertama kali belajar membaca dan menulis Alquran dalam Hikayat Abdullah, memoar (autobiografi) pertama (1849 M) dalam bahasa Melayu (Amin Sweeney, 2008: 253):

“Kalakian maka duduklah aku belajar dengan usaha. Maka dengan tolong Allah, serta pula ada janjiku hendak mendapat itu, maka dapatkah aku mengaji dan menulis sendiri. Akan bacaannku [terhadap Al-Quran], bukannya seperti kanak2 yang lain itu dituliskannya oleh guru akan lohnya, karena pada zaman itu, orang tiada pedulikan menulis, melainkan jikalau boleh membaca Qu’ran sahaja, jadilah. Maka oleh tiada dibiasakannya menulis daripada kecil itu, kemudian sampai tua, baharulah hendak menulis; di manakan boleh betul adanya?”

Dari cuplikan Hikayat Abdullah yang dicetak secara litografi (cap batu) oleh Abdullah sendiri pada 1849, ada dua hal menarik: guru yang mengajar menggunakan loh dan pementingan (tradisi) pengajaran membaca daripada menulis Alquran. Kita bisa sedikit membayangkan bahwa sang guru dan para muridnya tampak tidak mempunyai cukup mushaf Alquran yang bisa dipegang dan dibaca oleh tiap murid.

Sang guru menuliskan (huruf-huruf atau ayat-ayat) Alquran di (papan) loh. Konsekuensinya, sang guru tentu lebih mudah mengajarkan membaca daripada menulis atau bahkan pasti sangat susah mengajarkan menulis bagi sedemikian banyak muridnya di papan loh.

Tentu, kita bisa membayangkan, bahwa tiap orang merasa cukup berani menulis Alquran untuk dirinya sendiri apalagi sebagai kitab pelajaran. Toh membaca Alquran sudah bisa mendapatkan pahala. Menulis Alquran tidak mendapat pahala?

Abdullah memang tidak menceritakan dari mana awalnya dia bisa mendapatkan kitab Alquran waktu belajar membacanya pertama kali. Kita bisa membayangkan bahwa, pada zamannya itu, sangat mungkin bahwa orang yang mempunyai Alquran sangat sedikit. Mengingat satu hal: belum ada teknologi/mesin pengganda, dan kertas masih tergolong benda berharga yang hanya ada di lingkungan istana, lingkungan pusat-pusat perniagaan, dan pusat pendidikan di kota.

Tentu saja, Abdullah (1796-1854) yang hidup dan tinggal di Singapura cukup beruntung mengingat kota ini adalah sudah cukup maju sebagai pusat niaga, termasuk sebagai pusat perjualan buku internasional pada zamannya.

Pada masa kecil Abdullah, Alquran semuanya serba ditulis dengan tangan manusia. Untuk menulis satu mushaf Alquran, sudah pasti membutuhkan waktu berbulan-bulan dan biasanya membutuhkan pengesahkan dari seorang yang dianggap alim Alquran sebelum bisa dijadikan materi pengajaran.

Baca juga:  Mengenal Tahar Haddad, Ulama Tunisa yang Dibuang Jauh

Dan secara ekonomi, Alquran jelas mahal dan hanya terjangkau oleh yang cukup mampu. Abdullah adalah salah satu murid/remaja yang beruntung pada masanya karena dilahirkan dari keluarga pedagang berada dan kelas elite budaya.

Namun, dia tetap diajarkan menulis oleh ayahnya yang pernah menjadi juru tulis Melayu yang terhormat. Ayahnya juga pernah diminta Pemerintah Belanda menjelajah negeri-negeri Melayu untuk mencari dan mengumpulkan manuskrip.

“Sebermula, maka pada suatu hari kata bapaku: “Sekarang jangan engkau berjalan ke mana2 cuma2. Ada aku belikan kertas, duduklah engkau menulis Qur’an di rumah.” Maka diunjukkannya bagaimana mengikut papan mistar. Maka setelah itu, duduklah aku menulis. Maka dalam itu pun beberapa hadiah dan puji2an dan bahu2an. Adapun hadiahnya itu rotan dan puji2annya itu maki dan bahu2nya itu muka masam dan sungut pada tiap hari. Adalah kira2 enam tujuh bulan duduk demikian, yang mana salah ditunjukkannya, maka bolehlah sudah menulis Qur’an atau kitab dengan betulnya,” kata Abdullah.

Dalam kisah ini, selain kisah kerasnya sistem pengajaran ayah Abdullah, kita menyaksikan bahwa bapaknya membelikan Abdullah kertas untuk belajar menulis Alquran, satu peristiwa yang sungguh sudah tidak pernah kita saksikan lagi di taman pendidikan Alquran selama, setidaknya, setengah abad lebih.

Baca juga:  Sabilus Salikin (25): Islam, Iman, dan Ihsan

Yang sebenarnya sangat penting diusut adalah perniagaan kertas, sang teknologi sekaligus bahan utama pengajaran-pendidikan di seluruh dunia sampai sekarang, terutama dalam tradisi khazanah Islam.

Sangat sayang sekali, sejarah kertas di Nusantara masih belum ada penelitian yang cukup komprehensif (Russell Jones, 1993). Menurut penelusuran Jones terhadap kertas dalam manuskrip-manuskrip di Nusantara, sebagian besar kertasnya diimpor dari Eropa. Teknologi cetak tipografi Gutenberg sejak abad ke-16 memaksa Eropa memperbaiki kualitas kertasnya.

Lalu, sejak Revolusi Industri pada pertengahan abad ke-19, kertas Eropa diimpor ke berbagai negeri termasuk ke Nusantara.

Akibatnya, seperti dikatakan Jones, kertas Eropa yang berkualitas lebih baik membunuh pabrik kertas pribumi. Indonesia baru mempunyai pabrik kertas modern sendiri pada 1923 akibat Perang Dunia I yang memutus jalur transportasi kertas.

Selain itu, yang sangat menentukan ketersedian Alquran adalah diperkenalkannya teknologi cetak litografi di Indonesia. Abdullah termasuk manusia pertama menyaksikan kehadiran teknologi cetak litografi (cap batu) dan tipogragi di Nusantara yang didatangkan dari Eropa.

Baca Juga
Pujian Kepada Nabi Menempel di Stempel Orientalis Inggris 1

“Kalakian, dalam bulan itulah juga datanglah perkakasa cap dan apitannya dan tukang capnya…Maka huruf Melayu [Jawi/pegon] pun adalah bersama-sama datang. Maka adalah se’umurku hidup baharulah aku melihat rupa huruf cap dan perkakasanya dan apitannya,” kata Abdullah.

Mushaf cetakan penerbit Maarif Bandung

Tidak hanya menyaksikan, Abdullah adalah manusia paling canggih untuk dua teknologi cetak itu, selain orang Eropa. Tuan Milne menyuruh Abdullah belajar membuat satuan huruf cetak tipografis dan litografis. Kata Abdullah:

“Kemudian disuruhnya membuatkan macam bagaimana rupa hendak membuat kotak2 tempat huruf itu. Maka sepandai2 kutuliskanlah macamnya kepada tukang Cina. Setelah itu maka pada mula2nya Tuan Medburstlah mengajar akan daku bagaimana mengaturkan huruf itu dan bagaimana memegang tempat mengatur huruf itu dan bagaimana mengatur di atas batu supaya sudah dicapkan, boleh dilipat kertas itu dengan tiada bersalahan menjadi betul habis satu2. Maka adalah tiga empat bulan lamanya aku belajar akan segala pekerjaan itu bolehlah aku membuat sendiriku dengan tiada ditolongnya lagi.”

Baca juga:  Beragama: Menjadi Umat Pembaca

Hasil karya yang dicetak oleh Abdullah, untuk ukuran zamannya, termasuk karya yang sangat berkualitas tinggi yang diakui para ahli percetakan. Karya-karyanya, terutama Hikayat Abdullah, masih bertahan sampai sekarang.

Abdullah Munsyi, melalui murid yang diajari, juga berperan penting dalam mencetak Alquran pertama secara litografis di Indonesia pada 21 Ramadan 1264 (21 Agustus 1848) (Proudfoot, 1995). Abdullah Munsyi memang pantas didaulat sebagai Bapak Percertakan Melayu (Annabel Teh Aallop, 1990).

Sejak percetakan pertama Alquran itu, perlahan dan pasti, bocah-bocah muslim tidak perlu lagi menulis ayat-ayat Alquran. Sejak pertengahan abad ke-20, dengan ketersediaan kertas yang cukup melimpah dan mesin cetak yang semakin banyak, lahirlah penerbit-penerbit kitab-kitab keislaman, termasuk yang mencetak dan menerbitkan Alquran.

Pengajaran di taman pendidikan Alquran sudah tidak pernah lagi mengajarkan menulis Alquran. Hanya membaca atau menghafalkannya.

Sekarang, di abad ke-21, di masa percetakan semakin canggih dengan teknologi komputer dan software desain grafis, Alquran hadir dengan tampilan yang sangat beragam. Mulai dari yang berkesan klasik sampai yang berwarna pink, mulai dari yang hanya teks Alquran saja, disertasi terjemahan bahasa Indonesia, yang dibarengi dengan tajwid, sampai dengan Alquran elektronik.

Semua itu sungguh tak terbayangkan pada zaman Nabi Muhammad saw. Semua bocah muslim bisa mempunyai kitab suci berisi kata-kata berusia 1400 tahun lebih!

Lihat Komentar (0)

Komentari