Sedang Membaca
Menjadikan Sedekah Jenazah Sebagai Sedekah Terakhir Manusia

Menjadikan Sedekah Jenazah Sebagai Sedekah Terakhir Manusia

Gambar Ilustrasi Sedekah Jenazah

“Jika anak cucu Adam mati maka semua amal perbuatannya terputus, kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim (w. 261 H.) di atas, sedekah jariyah menempati urutan pertama yang disebutkan oleh ingkang jumeneng (Kanjeng) Nabi Muhammad saw. dari tiga amal perbuatan anak cucu Adam yang tidak akan terputus walau telah meninggal dunia.

Hadis ini menarik, dengan menempatkan sedekah jariyah pada urutan pertama yang didawuhkan oleh ingkang jumeneng Nabi Muhammad saw. maka hal tersebut juga bisa diartikan bahwa manusia hendaknya mengutamakan sedekah terlebih dahulu dari pada ilmu yang bermanfaat, dan mewujudkan anak shaleh yang kelak akan mendoakannya. Baik itu sedekah kepada sesama umat manusia, kepada hewan, tumbuhan, dan juga mahluk Allah lainnya yang sifatnya ghaib.

Walaupun menempati urutan pertama, namun ini bukan berarti menegasikan bahwa ilmu yang bermanfaat, dan mewujudkan anak yang saleh yang kelak akan mendoakannya itu tidak penting. Kedua amal tersebut sama-sama penting sebagai formasi lengkap tiga serangkai amal manusia yang tidak terputus sebagai pondasi manusia untuk menuju alam ahirat, sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh ingkang jumeneng Nabi Muhammad saw. di atas.

Namun demikian, jika dikaitkan dengan hadis ingkang jumeneng Nabi Muhammad saw. yang lain perihal tanggung jawab amal manusia selama hidupnya di hadapan Allah SWT. sebagaimana yang diriwayakan oleh Imam Tarmidzi yang artinya:

“Tidak akan bergeser dua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggung jawaban) tentang umurnya ke mana dihabiskan, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya; dari mana diperolehnya, dan ke mana dibelanjakannya, serta tentang tubuhnya untuk apa digunakan.” (HR: Tarmidzi).

Maka unsur pertanggungjawaban individu manusia itu sendiri begitu sangat kuat di hadapan Allah SWT., bukan person yang lainnya, termasuk anaknya yang saleh yang senantiasa mendoakannya. Anak-anaknya tentu juga akan dimintai pertanggungjawaban atas amal ibadahnya sendiri di hadapanNya. Di satu sisi juga, tidak semua manusia dapat memperoleh pendidikan yang baik selama hidupnya sehingga memiliki ilmu yang bermanfaat yang dapat diwariskan kepada masyarakat, serta tidak semua juga manusia itu terlahir, dan semasa hidupnya itu diberikan keturunan (anak) yang kelak mendoakan orang tuanya tersebut. Jika pun diberikan keturunan belum tentu juga mampu menciptakan generasi anak yang saleh dan salehah yang kelak senantiasa mendoakannya.

Baca juga:  Sabilus Salikin (133): Silsilah dan Perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah

Maka menjadi wajar jika amal perbuatan (sedekah jariyah) menempati posisi pertama dalam tangga klasifika amal manusia yang tidak akan terputus yang juga menguatkan hipotesa bahwa; manusia hendaknya mengutamakan (memperbanyak) amal sedekah jariyah selama hidupnya. Baik itu sedekah kepada sesama umat manusia, kepada hewan, tumbuhan, dan juga mahluk Allah yang menempati alam metafisika.

Mengamalkan sedekah mulai dari buaian hingga liang lahat

“Amalkanlah sedekah mulai dari buaian hingga liang lahat.” (Bukan Hadis).

Layaknya mencari ilmu yang di-“hadis”-kan dengan apik oleh ingkang jumeneng Nabi Muhammad saw. yang begitu masyhur, dan menjadi salah satu pondasi umat Islam dalam mencari ilmu, yang artinya:

“Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat.”

Maka sedekah pun bisa ditamsilkan serupa dengan proses  menuntut ilmu yang juga dapat diamalkan dari buaian hingga liang lahat. Jika proses menuntut ilmu sampai liang lahat itu diimplementasikan dengan proses pembacaan talqin mayit pada saat jenazah dikebumikan, maka sedekah jariyah sampai liang lahat dapat diimplementasikan dengan sedekah jenazah.

Menyedekahkan jenazah, why not? Iya, seperti yang  pernah disinggung oleh Rhoma Irama dalam lagunya yang berjudul Sebujur Bangkai yang masuk dalam album Soneta Volume 12- Renungan Dalam Nada (1981):

Badan pun tak berharga sesaat ditinggal nyawa

Anak isteri tak sudi lagi bersama

Secepatnya jasad dipendam

Secepatnya jasad dipendam

Karena tak lagi dibutuhkan

Diri yang semula dipuja

Kini bangkai tak berguna

Di mata manusia sudah barang tentu jasad atau badan wadat kita yang sudah berpisah dari nyawa kita merupakan bangkai yang tidak berguna, bahkan harus segera disumarekan di “kampung pesarean” —diksi “kampung pesarean” ini saya pinjam dari Muhammad Yaser Arafat (MYA) yang termaktub dalam kitab Nisan Hanyakrakusuman— sebagai bagian dari “rukun” fardhu kifayah terhadap jenazah sesama kaum muslim —selain memandikan, menshalati, serta mengkafani.

Baca juga:  Perbedaan Wacana Sufisme di Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Namun demikian, lain manusia lain organisme. Bagi sekumpulan organisme yang mempunyai ekosistem di dalam tanah (baca: liang lahat) jenazah kita begitu sangat berguna bagi mereka. Di sinilah implementasi dari sedekah jenazah. Badan wadat  kita yang sudah terpisah dengan nyawanya yang telah disumarekan di “kampung pesarean” sepenuh-seutuhnya disedekahkan kepada organisme yang hidup di dalam tanah, mulai dari cacing tanah, belalang, rayap serta organisme yang lainnya.

Sebagaimana laku sedekah manusia selama hidupnya di dunia, yaitu bersedekah kepada para binatang —selain bersedekah kepada manusia, tumbuhan dan makhluk metafisika—, maka laku sedekah jenazah juga bisa masuk dalam kategori sedekah kepada para binatang, sebagaimana yang sudah disinggung di atas, —yang kemudian pada saat proses penguraian, jenazah akan melepaskan karbon dioksida (CO2) lalu diserap oleh tumbuhan untuk membantu proses fotointesis yang menghasilkan oksigen (O2) yang kemudian berguna juga dalam proses pernafasan manusia.

Proses penguraian jenazah yang diurai lewat kaki-tangan organisme yang hidup dalam liang lahat tentu memakan waktu yang sangat lama, bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga jenazah hanya menyisakan tulang-belulang saja. Terlebih jika jenazah tersebut mendapat proteksi yang ketat dari peti mati, tentu akan memakan waktu yang lebih lama lagi dari pada jenazah yang hanya diproteksi dengan kain kafan.

Maka dalam laku sedekah jenazah akan sangat elok sekali jika jenazah kita ketika dimasukan ke dalam liang lahat hendaknya tidak diberi proteksi yang ketat berupa peti mati, cukup kain kafan saja yang menjadi starter pack jenazah kita. Hal ini dimaksudkan agar para mustahiq sedekah jenazah —dalam hal ini mahluk hidup yang berupa organisme yang hidup dalam tanah atau liang lahat, mulai dari cacing, belalang hingga rayap— tidak mengalami kesulitan dalam menerima-menikmati sedekah jenazah kita.

Tentu dengan melapangkan jalan para mustahiq sedekah jenazah yang berupa cacing wa akhowatuha dalam menerima-menikmati badan wadat kita yang sudah mujur ngalor dan dengan muka menghadap kiblat yang disangga gelu —dalam terminlogi Jawa gelu merupakan tanah galian dari liang lahat yang dibentuk bulat sebesar bola tenis (kadang juga lebih besar), yang difungsikan sebagai penyangga jenazah ketika dimiringkan dan dihadapkan ke arah kiblat. Istilah gelu juga merupakan bentuk akronim dari “tugel telu”   yang menjadi isyarat terputusnya semua amal manusia  ketika meninggal kecuali tiga perkara, sebagaiamana telah diuraikan di awal tulisan— ini menjadi sebuah do’a tersendiri agar kubur kita dilapangkan juga, sebagaimana kita melapangkan jalan para mustahiq sedekah jenazah di atas.

Baca juga:  Riwayat Asmara (1): Senarai Konsepsi yang Tak Pernah Ingin Diketahui Orang

Lebih jauh lagi, sedekah sebagaimana salah satu fungsinya yang sudah masyhur yaitu sebagai penolak bala, maka sedekah jenazah bisa dijadikan sebagai do’a terahir kita agar kita terhindar dari bala (adzab/siksa), mulai dari siksa alam kubur hingga siksa alam ahirat.

 

Maka menjadi sangat elok sekali jika mulai detik ini kita niatkan —kelak— jika kita wafat maka jenazah kita diniatkan untuk disedekahkan kepada para mustahiq sedekah jenazah yang berupa cacing wa akowatuha.

 

Niat di atas menjadi penting, karena bagaimanapun juga segala produk amal perbuatan manusia itu tergantung pada niatnya. Sebagaimana yang telah disabdakan dengan apik oleh mbahnya Imam Hasan dan Imam Husein radiyallalhuanhuma yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim yang artinya:

“Sesungguhnya segala perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkan,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitupun juga dengan jenazah kita, selain diniatkan untuk disedekahkan kepada cacing wa akhwatuha, hendaknya diniat-wasiatkan juga agar jenazah kita tidak diproteksi dengan peti mati, cukup kain kafan saja yang menjadi starter pack,  agar jalan para mustahiq sedekah jenazah dalam menerima-menikmati jenazah kita tersebut menjadi mudah dan lapang. Hal ini juga sebagai tamsil dari harapan terahir kita, agar perjalanan kita dalam menapaki shiratal mustaqim menjadi mudah dan lapang juga.

“Jadikanlah jenazahmu sebagai sedekah terakhirmu, boleh jadi sedekah jenazah tersebut menjadi satu-satunya amal jariyah yang diterima oleh Allah SWT yang menjadikan kita selamat dari siksa kubur serta siksa neraka.”

 

 

Apa Reaksi Anda?
Bangga
1
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top