Sedang Membaca
Pentingnya Literasi Bencana dan Kearifan Lokal

Pentingnya Literasi Bencana dan Kearifan Lokal

Afifah Nurul Izzah

Pengantar: Mulai tanggal 21 Januari 2019, kami menurunkan 20 esai terbaik Sayembara Esai Tingkat SMA/Sederajat 2018. Setelah pemuatan lima besar, 15 tulisan setelahnya kami muat berdasarkan nama sesuai abjad, dimulai dari Afifah Nurul Izzah. Yuk kita baca tulisannya.

___________

Andai Anda tahu apa yang terlontar dari lisan saya kala mendengar berita dini hari di antara kesibukan menanak nasi di rumah saudara saya, Sidoarjo. Mbak reporter dengan dendang seriusnya mengabarkan ‘Tsunami Selat Sunda’ dilatari kericuhan masyarakat dan lingkungannya. Si Lisan pun spontan berkata, “Wew, akhirnya tsunami juga”.

Kalimat Si Lisan tidak salah. Ia mengingatkan saya ketika empat tahun lalu kami mengunjungi Ibu Kota dalam sebuah study tour. Entah mendapat bisikan dari mana, yang terwirid dalam hati selama menginjak daratan di Barat Jawa adalah “semoga nggak tsunami ketika disana”. Syukurlah, memang tidak kejadian.

Spontanitas dramatik Si Lisan menyadarkan saya pada satu fakta, dahulu ada sumber yang meyakinkan saya bahwa akan terjadi tsunami di Selat Sunda. Pun lepas tragedi usai terjadi, suatu broadcast bersumber kumparan.com mengabarkan ramalan ilmiah dari Dr. Widjo Kongko yang sempat viral pada April 2018 lalu.

Prediksi terburuk beliau adalah dugaan bahwa Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten, akan menjadi wilayah dengan ancaman tsunami terbesar. Jika terjadi tsunami di Pandeglang, ombaknya diperkirakan setinggi 57 meter dan sampai ke daratan dengan waktu setidaknya enam menit. Ternyata bencana di Pandeglang tidak separah itu, meski ya tetap parah.

Dengan fakta geografis Indonesia sebagai negara kepulauan, dilewati jalur ring of fire, terletak diantara lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Filipina, serta sebagai titik persilangan dua benua dan dua samudra, kita seharusnya mampu membangunkan kewaspadaan. Telah berderet ramalan ilmiah dari para cendekia. Namun rupanya kalah eksis dengan ramalan receh, dan justru dianggap meresahkan masyarakat. Tidak heran masyarakat resah, mereka tidak terbiasa.

Baca juga:  Ketika Sastra Alpa dari Bangku Sekolah

Jejak bencana masa lalu seolah sekedar jadi cerita. Sebagian akan merasa takjub dan berempati selepas bencana menimpa, meski ada yang membuat saya bingung, yakni orang yang merekam kejadian. Sempat-sempatnya ada yang merekam, seolah mereka telah aman. Jumlah korban yang terlampau banyak untuk gelombang tsunami Selat Sunda yang tidak sebesar prediksi, menunjukkan kebingungan masyarakat terhadap kemalangan yang menjadi nyata dalam hidupnya.

Bencana baru yang dirasakan pun seolah mampu mengikis rasa kemanusiaan. Perampasan supermarket di Palu selama masa pemulihan pasca bencana mentamsilkan kebingungan masyarakat, melupakan kegotong-royongannya.

Literasi Bencana

Saya pun teringat perjalanan study tour enam tahun lalu. Taman Pintar di Yogyakarta menjadi destinasi menarik bagi anak SD seperti saya. Tempat itu dengan gedung-gedung dan wahananya benar-benar mampu menambah kepintaran. Hari itu saya berkesempatan merasakan kepanikan dan kemalangan korban bencana lewat wahana simulasi, tentu dengan panduan menyelamatkan diri. Andai seluruh rakyat Indonesia study tour ke Taman Pintar, he-he-he.

Ide humoris aneh yang mustahil. Maka benarlah tajuk Republika pada 28 Desember 2018 bahwa literasi bencana sangat dibutuhkan. Melalui pendidikan yang tersebar di seantero Nusantara, memasyarakatkan mitigasi bencana bukanlah hal mustahil. Sebagaimana langkah unik Jepang dan Korea Selatan, mereka bergerilya dengan komik edukatif bertahan hidup, sains, dan pengetahuan lain, bacaan favorit saya sejak kecil hingga sekarang. Sayang, tidak semua orang membacanya.

Pramuka kebanggaan bangsa yang menjadi kewajiban pelaku pendidikan pun dapat menjadi wadah. Sosialisasi mitigasi bencana mampu menjadi kesibukan baru, sehingga meredam isu panyalahgunaan senioritas di dalamnya. Menciptakan ekosistem edukatif dan senantiasa dinanti. Tidak ada lagi pembolosan dan pertayaan ‘kuliah masih ada pramuka?’

Baca juga:  Tubuh Indah yang Terjajah

Kesadaran beragama pun harus senantiasa dipupuk. Sebagaimana yang termaktub dalam Alquran, bencana datangnya dari dosa, baik dosa Si Jahat maupun Si Baik. Maka manusia perlu ilmu tentang bagaimana mereka bersikap untuk mencegah bencana. Pendidikan adalah jalan raya dalam menempuh ilmu tersebut, karena ia adalah rutinitas pelakunya.

Cabang-cabangnya pun turut berperan penting seperti TPA dan majelis ilmu yang pembicaranya senantiasa didengar, kesempatan tersebut mampu mendukung literasi bencana. Memang upaya literasi senantiasa terkesan lambat. Namun sebanding dengan kondisi masyarakat yang lama terlena meski dikelilingi potensi bencana.

Kearifan Lokal

Masyarakat tradisional sebenarnya mempunyai kearifan dalam mitigasi bencana. Sebagaimana dikutip dari Kompas.com pada 7 Oktober 2018, rumah-rumah tradisional Sulawesi Tengah di Jalur Trans Sulawesi arah Kecamatan Banawa, masih tegak berdiri, meskipun bangunan-bangunan di kiri dan kanannya rusak, dan rata dengan tanah.

Baca Juga

Selain gelombang tsunami, rumah tradisional juga aman terhadap gempa dengan skala tertentu. Ini karena material yang digunakan umumnya merupakan bahan-bahan alami. Sayangnya milenial mulai membangun dengan bata dan mulai jauh dari alam. Insting masyarakat terhadap alam seharusnya dijalin kembali, terutama terhadap anak cucunya yang mungkin tidak pernah mencuci piring sendiri.

Pembelajaran mitigasi bencana pun mampu didapat dari negara tetangga, Jepang. Telah tersohor kesigapan negara ini dalam mengatasi bencana. Mulai dari bangunan tahan gempa, peringatan bencana melalui ponsel, ransel darurat di tiap keluarga, simulasi tanggap bencana di sekolah, hingga terowongan penampung air tsunami. Hal terpenting adalah ketulusan dan kesungguhan Jepang dengan kearifan lokal mereka dalam melakukan pelayanan.

Upaya dari sisi sosial psikologi tidak akan berarti bila instrumen fisik tidak melindungi. Semuanya pun menuntut peran pemerintah, terutama dalam hal ini. Maka, media telah menggaung-gaungkan pengandaiannya, andai buoy (alat pendeteksi tsunami) tidak hilang, andai bangunan-bangunan dirancang tahan gempa, andai BMKG, BNPB, BPBD lebih gesit.

Baca juga:  Tafsir Surah Al-Kautsar (Bagian 1)

Jangan terlalu lama berangan dan menyalahkan, pasti pelajaran akan diambil dan upaya perbaikan harus didukung. Oleh karena itu masyarakat harus siap dan memahami. Birokrasi memang rumit dan membingungkan, saya tidak nafsu membahasnya.

Setiap tahun Indonesia biasa kedatangan bencana, maka masyarakatnya harus berusaha biasa menghadapi bencana. Andai ramalan cendekiawan diindahkan, setiap kalangan meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan bahwa mereka hidup bersama ancaman, tentu negeri ini lebih cepat bangkit meski diporak-porandakan alam.

Seandainya masyarakat telah siap, telah berada di zona aman, telah memahami langkah menghadapi kehendak alam, tentu akan nampak keren jika mereka menonton dan mengabadikan tragedi dari balik kaca pelindung, layaknya seorang peneliti mengamati simulasi robot terbarunya, lantas berkata “Seperti inilah penampakan dan cara kerjanya.”, atau minimal mereka berkata “Syukurlah kami lebih siap sedia”.

Indonesia mungkin akan ramai sebagai pelesir bagi ilmuwan pelbagai ilmu dari seluruh dunia, potensi bencananya sangat menarik untuk diramalkan. Poin jackpot-nya menjamurlah cendekiawan dalam negeri, berguguran para pengangguran, terkikislah kerugian jiwa dan harta, serta meningkatnya kesejahteraan karena upaya perbaikan ini pasti menuntut kecerdasan dan tenaga yang luar biasa yang mentamsilkan ketulusan pelakunya.

Bahkan akan tampak lebih keren lagi bila kearifan tradisional turut berperan besar. Andai rumah adat tahan bencana membumi di Nusantara, Indonesia pasti terkenal dengan tradisinya yang canggih cendekia. Budaya Indonesia dikenal dunia.
Sudahlah, jangan terus berandai. Mereka bilang angan dan sesal datangnya dari setan. Maka yang harus kita lakukan adalah menjadikannya cita-cita dan berusaha mewujudkannya untuk Indonesia.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top