Sedang Membaca
Perempuan Sunda yang Pertama Kali Pidato di Muktamar NU
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Perempuan Sunda yang Pertama Kali Pidato di Muktamar NU

Abdullah Alawi

“Saya, atas nama Muslimatun Bandung turut menggembirakan adanya Kongres NU di Menes ini. Mudah-mudahan segala keputusan-keputusan yang diambil olehnya ini akan dapatlah kiranya menambahkan pesat dan beresnya hal-hal atau keadaan-keadaan yang ada di dalam kalangan muslimin umumnya.”

Begitulah pernyataan Nyai Hj. Djuaesih yang saya kutip dari buku “Verslag (laporan) Kongres Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, 1938″

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Verslag itu mengomentari pidato Ny. Djuaesih begini:

“Mendengar dan melihat pidato beliau yang amat hebat itu, kaum-kaum ibu yang sama mendengarkan yang jumlahnya beberapa ribu itu memanggut-manggutkan dagunya (entah karena heran mereka, entah karena mengertinya).”

Di dalam sejarah NU, dia merupakan perempuan pertama yang tampil di hadapan para kiai. Waktu itu, pidatonya disaksikan Kiai Wahab, Kiai Bisri, Kiai Asnawi Kudus, Syekh Kasyful Anwar Kalimantan, KH Abdurrahman Menes, Habib Gathmayr dari Palembang, KH Abdul Latif Cibeber dan ratusan kiai lain.

Perempuan lain, di kongres yang sama, tampil juga Siti Syarah, tokoh perempuan NU dari Menes.

Baca juga:  Islam adalah Kasih Sayang
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top