Terbius Gus Mus

M Faizi

Membaca cerita-cerita pendek KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dihimpun dalam buku terbaru, Konvensi, mengingatkan kita kepada cerpen-cerpen beliau yang ditulis sebelumnya. Gus Mus selalu menulis dengan gaya realisme dan memilih tema keseharian-kekinian. Kalau ada amanat yang ingin didapatkan pembaca, biasanya ia tersirat, tidak tersurat.

Di luar soal karya, Gus Mus termasuk kiai yang serbabisa. Ceramah, iya, nulis, nerjemah juga, apalagi menggurit puisi, jagonya, bahkan sebagai cerpenis, Gus Mus itu dikenal belakangan saja (atau saya yang baru sadar? Entahlah). Beberapa cerpennya langsung jadi buah bibir pembaca, Gus Jakfar di antaranya.

 

Ada kalanya, cerita pendek Gus Mus itu sengaja “tidak diselesaikan”. Pakar menyebutnya sebagai “akhir menggantung”. Cara seperti ini bukan karena si penulis kehabisan ide, baik ide untuk memenangkan si tokoh baik (protagonis) atau lainnya, atau malah kepepet dan berlindung pada deus ex machina.

Ending seperti ini adalah pilihan, suatu ide, semacam cara agar “pembaca juga terlibat”, masuk ke dalam cerita. Seolah-olah, pembaca juga harus mau berpikir bagaiaman akhir cerita.

Tema umum adalah tema hidup sekitar, fenomena sosial, terutama menyangkut dunia pesantren. Namun demikian, Gus Mus tidak sekadar menyajikan cerita sebagai cerita. Sebagaimana ulama-ulama nahwu yang biasanya menyelipkan hikmah/tasawuf secara terselubung di dalam contoh gramatikanya, Gus Mus pun demikian.

Baca juga:  Nguwongke, Menggali Rasa yang Sehat lewat Seni

Lihat misalnya dalam cerpen “Rizal dan Mbah Hambali”. Gagasannya, sih, cerita biasa, tapi karena ada kutipan maxim ala Hikamiyat-nya Ibnu Athoillah, cerita ini harus dimamah lama untuk mendapatkan sensasinya meskipun tetap renyah kalau dibaca. Begitu pula dalam cerpen “Kang Maksum”. Secara tersirat, Gus Mus mendedahkan idiom-idiom kepesantrenan secara ensiklopedik tanpa menggurui pembaca.

Uniknya, Gus Mus punya cara sendiri dalam memilih tokohnya, misalnya dalam urusan sepele, seperti nama tokoh. Adanya nama Gus Maghrur (dalam cerpen “Konvensi”) dan Kiai Luqni (dalam cerpen Nasihat Kiai Luqni) mempunyai tendensi tertentu. Maghrur—dalam bahasa Arab—bermakna tertipu sedangkan Luqni berarti cerdas.

Tokoh Gus Maghrur memang benar ‘tertipu’ dalam cerita itu karena ia telah diperdaya oleh lawan demi kepentingan politik elektoral sesaat saja. Begitu pula cerita tentang sosok Kiai Luqni yang wafat seusai berceramah tentang kematian. Nama tokoh dalam cerpen ini agaknya diinspirasi oleh hadis Ibnu Umar yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bahwa Nabi pernah bersabda kalau orang yang paling cerdas itu adalah yang paling banyak mengingat kematian dan paling siap menghadapinya.

Cerpen-cerpen lainnya, seperti “Konvensi”, “Primadona”, “Jakarta”, dan “Mbah Mar” adalah cerpen-cerpen satire yang menyampaikan banyak ironi kehidupan manusia, mulai dari isu pemilu yang sulit diterka, ironisme dai seleb yang sibuk dengan orang lain tapi keluarganya terbengkalai, hingga rasionalis yang berubah menjadi ‘sarkub’.

Baca Juga

Yang tak kalah khas dari cerpen Gus Mus ini adalah kesengajaannya untuk menulis “ending menggantung”, seperti pada cerpen “Wabah”.

Hanya ada satu cerpen yang ditulis bergaya surealis. Judulnya adalah “Hilangnya Perangkat Desa” serta “Gadis Kecil Beralis Tebal Bermata Cemerlang” yang mengangat ide deja vu. Sementara cerpen “Suami” dan “Nyai Sobir” bertema ‘kebaperan’ seorang istri. Ini menarik karena yang menulisnya adalah seorang kiai (dan laki-laki).

Buku ini memuat 15 cerita pendek, tidak tebal, sih. Tapi, untuk ukuran buku (cerpen) sudah cukuplah. Buku tampak tebal meskipun hanya 131 halaman saja karena karena kertasnya lebih tebal daripada kertas buku pada umumnya. Saya menuntaskan pembacaan buku ini dalam perjalanan naik kereta api KA Penataran Dhoho 341 dari Malang ke Tulungagung. Buku sudah habis dibaca sebelum saya mengakhirinya di stasiun tujuan.

 

Lihat Komentar (1)

Komentari