Sedang Membaca
Berislam sebagai Pelajar Minoritas di Negeri Kincir Angin
Hasna Azmi Fadhilah
Penulis Kolom

Peneliti dan pemerhati politik yang tinggal di Jatinangor Sumedang. Bisa dijumpai di akun Twitter @sidhila

Berislam sebagai Pelajar Minoritas di Negeri Kincir Angin

Whatsapp Image 2023 12 23 At 19.58.50

“Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana’, ‘sampeyan’ jadi ‘antum’, ‘sedulur’ jadi ‘akhi’… Kita harus serap ajarannya, tapi bukan budaya Arabnya.”

(KH. Abdurrahman Wahid)

Nasihat Gus Dur tadi terngiang di kepala saya ketika menginjakkan kaki pertama di kampus Universiteit van Amsterdam di jantung ibu kota Belanda. Ketika sedang mencari tempat salat, saya bertemu dengan Muslim dari berbagai kalangan dengan gaya pakaian mereka yang beraneka rupa. Saat berbincang dengan mereka, semakin nyatalah bagaimana perbedaan budaya membuat praktik berislam antara satu negara dengan negara lain bisa tak sama.

Seorang kawan dari Nigeria bahkan sempat menanyakan mukena yang saya pakai. Sebelumnya, ia mengamati bagaimana saya memakai terusan panjang itu sebelum bergegas mengikuti gerakan imam. Baginya, mukena yang saya kenakan modelnya menarik dan indah. Seraya memegang lembut kain atasan mukena, saya coba jelaskan bahwa mayoritas perempuan Indonesia memakainya ketika salat. Modelnya pun tak hanya satu, ada banyak jenis gaya dan warna yang dikreasikan. Ia lantas kian takjub. Wajahnya yang berbinar membuat saya kian menyadari betapa heterogennya praktik berislam umat Nabi Muhammad di dunia.

Mengakomodasi Kepentingan Kelompok Minoritas

Selain berjumpa kawan dari Afrika, saya turut menyapa teman dari berbagai negara lain ketika berada di tempat salat. Muslim dari Turki, Malaysia, hingga Suriname yang terletak nun jauh di benua Amerika sana. Di banyak kampus Eropa dan Amerika, ruang salat biasanya digunakan bersama dengan umat beragama lain. Di kampus saya, disebutnya “contemplation room” atau ruang kontemplasi. Di kampus lain ada yang disebut “multi-faith room”.

Tidak tersedianya musala layaknya di negara mayoritas Muslim jangan asal dipahami sebagai Islamophobia. Hal ini dikarenakan oleh sedikitnya jumlah individu yang mempraktikkan agama, dan masalah keterbatasan ruang. Bahkan yang saya dengar, sebelum memiliki ruangan permanen, contemplation room ini beberapa kali pindah tempat karena renovasi, perubahan kebijakan kampus, hingga terbatasnya jumlah pemakai.

Baca juga:  Mengunjungi Penerbit Mustafa al-Babi al-Halabi yang Hampir Mati (?)

Meski begitu usai dipercantik, kini ruangan salat kian ramai disinggahi oleh para pelajar Muslim. Tidak hanya sebagai ruang beribadah, tetapi juga sebagai meeting point untuk sekadar bertukar sapa dan berbagi cerita. Yang menarik, semua Muslim apapun latar belakangnya tak pernah dibeda-bedakan di sini. Sesekali saya lihat teman syiah datang dan ikut salat. Ia tampak tak canggung berbagi ruang dengan para penganut sunni yang mayoritas. Beberapa kali saya bisa melihat mereka nyaman-nyaman saja bercengkrama tak mempermasalahkan perbedaan praktik dalam bersujud kepada-Nya.

Selain sikap terbuka dalam menyikapi perbedaan, tak pernah satu pun saya dengar kesan menggurui satu sama lain, ataupun merasa superior hanya karena lebih paham ilmu agama. Tak jarang saya lihat Muslimah bercadar santai saja berbincang dengan yang rambutnya terurai lebar. Tak ada namanya menasihati tanpa diminta, apalagi berkata lembut, “mohon maaf hanya mengingatkan.. “

Whatsapp Image 2023 12 23 At 19.57.15
Dokumentasi training P3K

Alhasil, komunitas pelajar menjadi jauh lebih cair dan terbuka. Semua yang tergabung memiliki keterikatan sebagai Muslim. Titik. Tanpa perlu membawa embel-embel organisasi, mazhab, dan lainnya. Acara komunitas pun tak selalu berupa kajian keilmuan. Kadang kala diiringi workshop henna, menonton film berjamaah, futsal bersama hingga pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). sehingga, bisa dikatakan banyak pelajar Muslim beragama secara suka cita.

Baca juga:  Catatan Perjalanan Menemani Habib Hilal al-Aidid, Waketum PBNU di Mesir

Aspirasi Mahasiswa sebagai Fondasi Kebijakan

Di International Institute of Social Studies (ISS), Den Haag, pengalaman menarik sebagai Muslim juga dirasakan oleh Tia Istianah, mahasiswi S2 yang mengambil jurusan development studies ini menceritakan betapa bahagianya ia ketika kelompok mahasiswa masuk sebagai salah satu unsur pembuat kebijakan di kampus, hal yang teramat kontras di mayoritas perguruan tinggi di tanah air. Tak peduli latar belakangnya, concern mahasiswa diberikan ruang untuk terinternalisasi dalam langkah kampus ke depan.

Meski terkadang, isu yang disuarakan tidak langsung berkaitan dengan ranah akademik dan bahkan terdengar sepele, seperti proposal instalasi bidet di toilet dengan landasan kultural, kebersihan, dan kesehatan. Namun masukan tersebut tetap ditanggapi oleh pihak kampus secara serius. Mereka mempertimbangkan argumentasinya dan bila dirasa akan membantu meningkatkan kenyamanan para pelajar, mereka akan berusaha untuk mewujudkan itu.

Internalisasi saran dari mahasiswa bukan satu-satunya praktik demokrasi langsung dalam perguruan tinggi di sini. Untuk terus meningkatkan kualitas SDM, kampus juga tak segan-segan menyediakan layanan di bidang psikologis, spiritual, hingga finansial. Sehingga, bila ada mahasiswa yang mengalami problem terkait, mereka bisa meminta waktu konsultasi secara gratis. Cara menghubungi tim layanan pun terhitung mudah, tinggal dikontak saja melalui aplikasi WhatsApp, mereka akan dengan sangat terbuka membantu meringankan permasalahan yang sedang mahasiswa hadapi.

Baca juga:  Kota Islam (21): Yazd; Kota Gurun yang Menjadi Warisan Dunia

Hal lain yang membuat banyak mahasiswa Muslim berdatangan ke Belanda adalah ketersediaan layanan untuk pelaporan rasisme dan pelecehan seksual. Di sini, sebagian besar kampus memulai orientasinya tidak hanya dengan memperkenalkan profil kampus secara umum, tapi juga mengenalkan isu-isu pelecehan seksual, bias, dan rasisme. Mereka tak segan-segan membagikan fakta kekerasan seksual yang terjadi, langkah tindakan yang diambil kampus, dan opsi preventif ke depannya. Tak ada kata segan hingga malu mengakui bila terjadi kasus pelecehan. Justru dengan adanya kasus tersebut, mereka berupaya keras untuk menghindari terulangnya kejadian sejenis. Hal yang sama juga mereka uraikan berkenaan dengan bias dan rasisme.

Pihak kampus menyadari bahwa kebijakan-kebijakan tadi akan membantu mengatasi problem kesenjangan dan diskriminasi. Dengan diaplikasikannya hal tersebut, secara tidak langsung akan memberikan perlindungan dan dukungan bagi kelompok yang mengalami perlakuan tidak adil. Ke depannya mereka berharap bila diimplementasikan secara efektif dan efisien, dampak positifnya ialah kampus akhirnya mampu menciptakan kondisi ideal yang merangsang inovasi dan kreativitas. Berbagai latar belakang serta perspektif para mahasiswa yang merasa aman dan nyaman di bangku kuliah dapat menghasilkan ide-ide yang inovatif dan solusi yang lebih baik untuk menghadapi tantangan global yang kian kompleks.

 

 

 

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top