Sedang Membaca
Prof Ismail Yakub, Penerjemah Kitab Ihya Generasi Pertama
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Prof Ismail Yakub, Penerjemah Kitab Ihya Generasi Pertama

Zaim Ahya

Nama Prof Tk. H Ismail Yakub pertama kali penulis mengetahuinya dari status Facebook tokoh muda yang rajin menulis—bukan hanya rajin menulis status, tapi juga buku-buku tebal, Ahmad Baso. Apa yang dia tulis di dinding Facebook?

Menurut Ahmad Baso, Ismail Yakub menerjemah kitab Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali selama dua puluh tahun, yang dikerjakan dari tahun 1960-an. Aktivitas penerjemahan kitab Ihya dari bahasa Arab ke bahasa Indoensia tersebut mendapat dukungan moril dari Kiai Saifuddin Zuhri dan Buya Hamka. Ismail Yakub adalah seorang nasionalis yang takzim kepada ulama, tulis Baso.

Tidak seperti Ahmad Baso yang mendapatkan karya ini dari penjual buku loakan, penulis beberapa bulan lalu membeli karya ini dari salah satu penjual buku daring di Facebook. Salah satu alasan penulis membelinya, terprovokasi status status Ahmad Baso, yang tak jarang berisi “provokasi” itu. Sekaligus ingin melakukan verifikasi kebenaran provokasinya.

Karya terjemahan ini berjumlah delapan jilid. Dua kali lipat dari kitab aslinya, empat jilid. Jilid satu yang penulis beli adalah cetakan ke sebelas, tahun 1992 M oleh penerbit C.V Faizan Cilandak Jakarta Selatan. Adapun karya ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1964 M.

Terjemah Ihya cetakan kesebelas, memuat empat kata pengantar dari penerjemah. Kata pengantar cetakan pertama, ke dua, ke tiga dan ke lima. Tak tercantum pengantar cetakan ke empat. Membaca empat kata pengantar dan halaman pertama dari delapan jilid terjemah kitab Ihya, bisa diketahui delapan jilid terjemah Ihya ini tidak terbit sekaligus pada tahun pertama terbitnya. Delapan jilid karya ini baru terbit semuanya pada tahun 1979.

Dalam proses menerjemahkan karya monumental Imam al-Ghazali ini, banyak hal yang dilalui oleh Ismail Yakub, yang terekam dalam empat kata pengantar penerjemah, yang ia tulis.

Kesuksesan cetakan kedua jilid satu, menurut penerjemah, tidak lepas dari arahan Menteri Agama Prof KH Saifuddin Zuhri dan kesediaan percetakan Imballo.

Penerjemah juga berterima kasih kepada inisial R.A.M yang menulis resensi atas karyanya, yang terbit di majalah Gema Islam No. 65, 1 Desember 1964/26 Sya’ban 1384, yang penerjemah baca saat ke Jakarta menghadiri seminar Nasional Konperensi Islam Afrika Asia di Cibogo Bogor. Lantaran itu, penerjemah mengaku mendapat dorongan yang mengesankan dan bahan-bahan baru perihal usaha dan minat ulama-ulama kita terdahulu atas kitab karya “Hujjatul Islam” ini, serta usaha penerjemahannya.

Baca Juga:  Raden Saleh: Dicintai, Dihormati, tapi Dicurigai

Pertemuan Prof. Ismail Yakub dengan KH Ahmad Badawi Yogyakarta, menambah pula wawasannya atas riwayat penerjemahan kitab Ihya di Jawa dengan huruf Pegon oleh KH Soleh Darat Semarang. Dari Kiai Ahmad Badawi ini pula Ismail Yakub meriwayatkan wawasan tentang huruf Pegon, yakni huruf Arab dalam bahasa Jawa, yang menurut Kiai Badawi di susun oleh tiga ulama besar Pulau Jawa abad XVIII: Kiai Nawawi Serang, Kiai Soleh Semarang dan Kiai Chalil Madura.

Dengan huruf Pegon, pelajar dari Madura maupun Jawa bisa membaca dan memahami walaupun berbeda bahasa percakapan sehari-hari antar satu sama lain.

Di tengah kesibukan sebagai rektor
Pada kata pengantar cetakan ke lima, Ismail Yakub menceritakan, karena beberapa hal, penerbitan terjemah kitab Ihya ini terhenti sampai jilid tiga, di tahun 1968. Lantaran itu, banyak yang bertanya, sekaligus berharap terjemah kitab Ihya diterbitkan semuanya, delapan jilid sesuai yang dijanjikan.

Ketika ditanya secara langsung atau pun melalui surat, perihal penerbitan lanjutan terjemah kitab Ihya, Ismail Yakub menjawab “Insya Allah, jikalau hayat di kandung badan, akan kami teruskan, bila kesibukan-kesibukan karena tugas kami berkurang, baik selaku Rektor IAIN Sunan Ampel di Surabaya dahulu, sampai tahun 1972 dan sekarang Rektor IAIN Walisongo Jawa Tengah di Semarang, sejak 7 Oktober tahun 1972”.

Seperti yang ditulisnya di kata pengantar penerjemah cetakan ke tiga, penerjemah mengaku pindah ke Surabaya pada tanggal 5 Juli 1965, menjadi Rektor IAIN Surabaya. Jadi karya terjemahan kitab Ihya ini beliau kerjakan di tengah-tengah kesibukannya memimpin universitas. Pertama IAIN Surabaya, lalu berlanjut IAIN Walisongo Semarang.

Pada proses penerjemahan yang belum rampung itu, banyak usulan dari pembaca, seperti supaya ayat Alquran dan hadis ditulis dengan huruf Arab, serta huruf latin. Yang pertama memudahkan pembaca menghafal guna berdakwah, misalnya. Sedang usulan yang kedua, mereka yang tak bisa membaca teks Arab, tetap bisa membacanya melalui huruf latin. Semua usul di atas benar-benar direalisasikan, sebagaimana penulis dapati di cetakan ke sebelas.

Proses penerjemahan kitab Ihya yang sempat terhenti, dilanjutkan pasca Ismail Yakub menunaikan ibadah haji pada tahun 1975 M. Ismail Yakub sebelum pulang haji, pergi ke Kairo Mesir. Di sana, Ismail Yakub bertemu Syaikh al-Azhar al-Imam al-Akbar Dr. Abdul Halim Mahmud. Dalam pertemuan itu, Ustad Hamid Jami’ utusan al-Azhar yang pernah mengajar di IAIN Surabaya menyinggung perihal penerjemahan kitab Ihya yang belum selesai. Syaikh al-Azhar mengetahui itu meminta agar penerjemahannya diselesaikan, dan diterbitkan demi dakwah dan pembinaan akhlak umat.

Baca Juga:  Musdah Berjumpa Para Tokoh Lintas Agama di Wuppertal Jerman

Setelah kembali ke tanah air, Ismail Yakub selalu terbayang-bayang wajah Syaikh al-Azhar yang berwibawa dan ikhlas, begitu pula suara Syaikh al-Azhar selalu terngiang. Akhirnya, Ismail Yakub memutuskan melanjutkan penerjemahan kitab Ihya, dan bertekad menerbitkan ulang dari jilid pertama dengan berbagai perbaikan.

Restu dua ulama
Terjemah kitab Ihya karya laki-laki dari Aceh ini memiliki keistimewaan—selain karya pertama yang menerjemahkan kitab Ihya dari jilid satu sampai empat—yang jarang dimiliki oleh karya terjemah sesudahnya, yakni restu dari dua gembong ulama dari dua organisasi yang berbeda.

Dua ulama tersebut adalah Prof KH Saifuddin Zuhri dan al-Ustad al-Fadhil Dr. H.A Malik Karim Amrullah yang lebih kita kenal dengan nama Buya Hamka. Tokoh yang pertama, selain menjabat sebagai Menteri Agama waktu itu, juga termasuk orang penting di Nahdlatul Ulama (NU). Sedang yang tokoh kedua adalah ulama yang aktif di Muhammadiyah, dan juga penulis produktif.

Restu tersebut berbentuk kesediaan keduanya menulis kata pengantar dan sambutan. Dalam kata pengantarnya, KH Saifuddin Zuhri mengatakan, bahwa karya terjemah Ihya Ismail Yakub merupakan salah satu sumbangan positif yang amat bermanfaat, mengingat Indonesia dalam suasana revolusi multi-complex dan simultan, di mana bangsa Indonesia, tidak saja mencita-citakan kehidupan materi, namun juga sedang menegakkan nilai kekayaan rohani yang bersumber pada keimanan kepada Allah Swt. untuk mengagungkan asma Allah dimana-mana.

KH Saifuddin Zuhri juga menulis, umat Islam yang notabenenya mayoritas di negeri Indonesia, mempunyai tanggung jawab lebih besar, dalam menyukseskan revolusi dan nation building dengan cara menghiasi diri dengan amal terpuji.

Dalam Alquran, minimal ada empat program yang harus dijalankan oleh umat Islam: (1) menggandrungi kebahagiaan akhirat yang langgeng dengan amal saleh, (2) tidak melupakan urusan hidup di dunia, (3) berbuat sosial terhadap sesama, (4) tidak melakukan tindakan yang menimbulkan bencana, bagi dirinya maupun orang lain. Empat program tersebut termuat dalam kitab Ihya secara gamblang.

Sebelum menutup kata pengantarnya, KH Saifuddin Zuhri, selain mendoakan semoga karya terjemah ini mendapat sambutan baik dari masyarakat dan menjadi amal jariah penerjemah, juga mewanti-wanti agar tidak menghabiskan waktu secara sia-sia, demi mengejar ketertinggalan yang cukup lama.

Baca Juga:  Peter Carey: Perjalanan Mistis Mencari Pangeran Diponegoro

Sedang Buya Hamka, yang menulis sambutan terjemahan kitab Ihya, menceritakan latar belakang, atau konteks saat kitab Ihya ditulis oleh Imam al-Ghazali. Sesuai judulnya, yang berarti menghidupkan kembali pengetahuan agama, kata Buya Hamka, pemilihan judul tersebut dikarenakan waktu itu ilmu-ilmu Islam sudah hampir teledor, tergusur oleh ilmu-ilmu yang lain khususnya filsafat Aristoteles.

Menurut Buya Hamka, sebab Islam itu terbuka dengan pengetahuan-pengetahuan dan hikmah, dari mana pun asalnya, maka pada abad ke-2 dan ke-3 Hijriah khususnya saat Daulah Abasyiah, terjadi proses penyalinan buku-buku yang berisi pengetahuan bangsa lain ke bahasa Arab, dalam rangka melengkapi perpustakaan dan pengayaan buah pikiran Islam Arab.

Baca Juga

Kemajuan Islam dan daulah islamiah, baik dalam bidang politik maupun kebudayaan, tak akan bertahan lama bila pemikiran para sarjana Islam tidak luas dan mendalam, jelas Buya Hamka.

Saat itu, tulis Buya Hamka, kemajuan Islam pun meliputi beberapa bidang, seperti fikih, kalam, tasawuf dan filsafat. Namun, di sisi lain, kadang ilmu asli Islam tergerus dari perhatian oleh bidang yang terakhir di sebut, yakni filsafat.

Dalam konteks inilah Imam al-Ghazali tampil ke depan dengan Ihya-nya. Lebih jauh Buya Hamka mengatakan bahwa kitab Ihya adalah buah karya al-Ghazali yang positif, yang lahir pasca keraguan atau skeptis yang dialami al-Ghazali dalam pengembaraan intelektualnya dalam mengarungi berbagai bidang ilmu.

Menurut Buya Hamka, setelah pengembaraan yang mendalam itu, al-Ghazali berkesimpulan, bahwa filsafat itu berguna dalam melatih  berpikir, namun juga berbahaya kalau pikiran yang akan digunakan berfilsafat belum terlatih oleh tuntunan wahyu Ilahi dan tuntunan Nabi. Al-Ghazali pada akhirnya juga berkesimpulan, bukan dengan filsafat, limu kalam, ilmu fiqh, ilmu debat, namun yang menyampaikan kepada Allah adalah jalan yang ditempuh kaum shufi.

Al-Ghazali memandang, para fukaha waktu  itu terlalu  sibuk mengurus sah dan batal,  sehingga lupa  dengan  memperhalus perasaan. Walaupun begitu al-Ghazali juga mengkritik kaum shufi yang sibuk memperhalus perasaan,  namun teledor dari batasan-batasan syariat, dan kadang-kadang tidak mempedulikan mana amalan yang dan tidak  sesuai tuntunan Nabi. Ihya Ulmuddin ini, kata Buya Hamka, adalah usaha al Ghazali memadukan keduanya.  Begitu jelas Buya Hamka.

Buya Hamka juga tampak mengagumi Ihya Ulumuddin, bahkan dalam kata sambutannya,  beliau menyatakan  banyak mengambil sumber dari kitab Ihya untuk menulis bukunya, yang berjudul Tasawuf Modern.

Namun, Buya Hamka juga tetap menyatakan beberapa keberatannya atas Ihya Ulumuddin. Menurutnya, Imam al-Ghazali kadang karena terlalu asyik dalam memperingatkan kesucian hidup,  dan jatuh kepada pencelaan dunia  dengan sangat.

Sehingga orang yang terpengaruh dengan ajaran cacat dunia menurut al-Ghazali ini, akan mengutuk sekali dunia.  Akibatnya dunia akan lepas dari tangan kita, dan dipungut orang lain, sehingga negara-negara Islam tejajah.

Selain hal itu, Buya Hamka Juga menyinggung tentang beberapa hadis yang kutip dalam Ihya. Menurutnya, Imam al-Ghazali kurang memperhatikan ilmu sanad hadis. Namun beliau juga mengakui Imam al-Ghazali sebagai pemikir yang besar dan bebas. Al-Ghazali membebaskan pikirannya dari dari pengaruh penafsir-penafsir terdahulu.

Buya Hamka, sebagaimana juga KH Saifuddin Zuhri, mengapresiasi dan bergembira atas usaha Prof H Ismail Yakub dalam menerjemahkan kitab Ihya. Tampaknya, Ismail Yakub masih muda saat memulai usaha yang luar biasa ini, karena Buya Hamka dalam kata sambutannya, menyebut Ismail Yakub dengan “ulama muda dari Aceh”.

Belakangan penulis mengetahui, ternyata Prof Tk H Ismail Yakub tidak hanya menerjemah Ihya Ulumuddin karya al-Ghazali, namun juga menerjemah kitab al-Um karya Imam Asy-Syafi’i. Mengagumkan bukan?

Lihat Komentar (1)

Komentari