Sedang Membaca
Nukatul Hamyan: Biografi Ulama Tunanetra

Mahasiswa di Universitas Sidi Mohammad Ben Abdillah Fes Maroko. Pecandu teh susu, tapi kalau adanya kopi susu ya diminum juga. Berusaha menjadi pembaca yang baik sekaligus ingin menjadi pendengar budiman. Semoga menjadi manusia yang dapat memanusiakan manusia .

Nukatul Hamyan: Biografi Ulama Tunanetra

Berawal ketika sedang asyik membaca biografi Imam As-Suhaili karangan Dr. Hassan Jallab, pakar sejarah Maroko dan biografer kontemporer ulama Barat Islam, mengantarkan saya pada satu referensi penting mengenai ulama tunanetra yang kehilangan penglihatannya. Imam As-Suhaili termasuk salah satunya.

Kitab unik ini berjudul Nukatul Hamyan fi Nukatil Umyan. Dikarang oleh Imam Sholahuddin Kholil bin Aibak As-Shofadi yang lahir pada 696 H dan wafat pada 764 H. Lahir dan besar dalam lingkungan keilmuan membuatnya terbiasa dalam hal literasi, membaca, dan menulis. Kecintaannya pada Bahasa dan Sastra Arab membuatnya lihai dalam membuat syair, puisi-puisi, surat menyurat dengan guru dan teman-temannya.

Kebesaran namanya sudah tak asing lagi di kalangan civitas academica, baik dari kalangan Muslim ataupun Barat. As-Shofadi berhasil menunjukkan kepiawaiannya dalam menulis kumpulan biografi ulama dalam 32 jilid. Kitab babon itu bernama Al-Wafi fil Wafayat. Bahkan, jika seluruh karangannya dikumpulkan, setara kurang lebih 12.000 halaman.

Dalam pengantarnya untuk kitab Nukatul Hamyan, ulama kelahiran Palestina ini menjelaskan bahwa penulisan bermula ketika ia berada dalam majelis mengkaji kitab Lamiyatul Ajam yang dihadiri oleh para alim ulama, sampai pada pembahasan tentang Asyroful Amyan (orang-orang mulia yang kehilangan penglihatannya). Salah satu hadirin mengangkat tangan dan bertanya:

“Tidakkah engkau sudi mengarang satu risalah khusus yang mengkaji Asyroful Amyan ini. Sungguh benar terdapat kebaikan dan kemanfaatan di dalamnya.”

Baca juga:  Gus Dur, Diana Sastra dan Tarling Remang-remang

Permintaan tersebut ternyata membuat hatinya tergerak. Hingga menggerakkan penanya untuk mengarang risalah ini.

Sebelumnya, As-Shofadi melakukan riset pada beberapa kitab yang nantinya menjadi sumber utama penulisan kitab ini. Terdapat 4 kitab:

Pertama: Kitab Al-Ma’arif karangan Ibnu Qutaibah (213-276 H). Dalam akhir kitabnya, beliau menambahkan satu bab khusus tentang Al-Makafif. Di dalamnya disebutkan beberapa nama seperti Abul Quhafah (Ayahanda sahabat Abu Bakar), Hassan bin Tsabit, Sa’ad bin Abi Waqqash (kehilangan penglihatannya di akhir hayatnya), Ali bin Zaid (mengidap tuna netra sejak dilahirkan).

Kedua: Kitab Talqihu Fuhumi Ahlil Atsar fi Uyunit Tarikhi was Siyar. Di dalamnya juga terdapat satu bab khusus berjudul tasmiyatul umyani al-asyrof. Berbeda dengan Ibnu Qutaibah, Ibnu Al Jauzi (508-597 H) mengelompokkan sesuai dengan kriteria. Mulai dari para Nabi; terdapat Nabi Ishaq, Ya’kub dan Syuaib.

Dari para keturunan nabi: Abdul Muttholib bin Hasyim, Umayyah bin Abdus Syams, Kilab bin Murroh. Dari kalangan sahabat: Al-Barra’ bin Azib, Abbas (paman Nabi), Kaab bin Malik. Dari kalangan tabi’in: Qatadah bin Daamah, Atho’ bin Abi Rabbah, Abu Bakar bin Abdirrohman.

Tak lupa As-Shofadi memberi komentar tentang dua kitab diatas. Bahwa Ibnu Qutaibah tidak menyebutkan nama-nama para nabi, juga tidak beraturan, berbeda dengan Ibnu Al Jauzi yang mengelompokkan dan sesuai dengan urutan mu’jamiyyah. Hal ini bisa dimaklumi, karena Ibnu Al Jauzi datang lebih akhir, sehingga dalam pengumpulan data dan metodologi yang digunakan lebih tajam dan lengkap.

Baca juga:  Melacak Akar Konflik Timur Tengah

Ketiga: Kitab karangan Abul Abbas Ahmad bin Ali Babah Al-Qosyi (560 H) yang berjudul Ra’su Malin Nadim. Kitab ini lebih dahulu dari pada kitab Ibnu Al-Jauzi.

Keempat: Kitab milik Khotib Al-Baghdadi. Tapi As-Shofadi tidak memberikan banyak keterangan. Karena belum menemukan bab yang dituju.

Selain itu, kitab ini berisi sepuluh mukadimah. Dari pendahuluan-pendahuluan inilah, kita bisa tahu betapa luasnya keilmuan dari As-Shofadi. Mulai dari asal kata, i’rob kalimat, definisi dari kata umya dan shomam dikupas secara mendalam. Ada satu hikmah, kenapa sama’ (pendengaran) lebih didahulukan dari pada bashor (penglihatan). Karena sama’ disini sebagai syarat sempurnanya akal, baik dari segi ilmu dan makrifat. Ia juga bisa digunakan di enam penjuru. Tidak dengan bashor, yang hanya terbatas dengan hal-hal yang bisa dilihat. Tak ayal jika sama’ menjadi syarat kenabian.

Pada mukadimah lainnya, As-Shodafi mengupas banyak masalah fikih dan tafsir. Seperti tafsir atas surat Abasa. Juga beberapa kasus fikih yang berhubungan dengan kasus tuna netra. Seperti, apakah boleh seorang yang buta menjadi hakim. Juga bagaimana hukum sembelihan tuna netra, apakah diterima atau tidak. Ditambah beberapa kisah-kisah yang jarang ditemukan mengenai para ulama tuna netra dan juga kisah humor. Ditambah satu bab khusus membahas syair-syair dari para penyair Muslim legendaris tentang buta.

Sebagai puncak tujuan dikarangnya kitab ini adalah merangkum biografi ulama dan para bijak bestari yang kehilangan penglihatan, baik sejak lahir ataupun setelah mengalami sakit saat dewasa. Untuk memudahkan para pembaca, maka disusun sesuai dengan huruf hija’iyyah.

Hilangnya penglihatan bukan menjadi kelemahan, tapi menjadi sebuah acuan untuk menghasilkan amal yang lebih dahsyat dari orang-orang normal. Karena yang lebih ditakutkan bukanlah hilangnya penglihatan, tapi matinya hati kita. Ada satu syair dari Al Jahidz yang dipersembahkan untuk Ibnu Abbas:

Baca juga:  Sabilus Salikin (68): Silsilah Tarekat Qadiriyah

 

إن يأخذ الله من عيني نورهما # ففي لساني وسمعي منهما نور

 

Jika Allah Swt mengambil cahaya dari kedua mataku. Maka keluarlah cahaya dari lisan dan pendengaranku.

Kita juga mempunyai seorang guru bangsa yang kehilangan penglihatannya ketika di penghujung usianya. Tapi tidak menghalangi kemanfaatan yang disebar melalui gagasan, konsep humanisme, kerukukunan antar umat beragama dan ajaran saling mengasihi sesama manusia. Siapa lagi kalau bukan Gus Dur. Beliau mengajarkan kita semua bahwa berbangsa dan menjadi manusia, tak hanya dibatasi oleh mata, tapi mata hatilah yang menuntun kita pada kebenaran sejati. Gitu aja kok repot!

 

Tabik!

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top