Sedang Membaca
Kitab Abwab al-Faraj dan Optimisme sebagai Hamba Allah

Khadim di Ma’had Aly Al Hasaniyyah, Senori, Tuban

Kitab Abwab al-Faraj dan Optimisme sebagai Hamba Allah

Screenshot 20210715 205005 Gallery

Saat ini kita benar-benar sedang diuji. Berita duka yang datang silih berganti karena virus Covid-19 yang belum juga menunjukkan tanda-tanda melandai. Saya ingin berbagi rasa optimistis melalui pembacaan kitab Abwab al-Faraj. 

Sebagaimana rilis Satuan Tugas Penanganan Covid-19, per 11 Juli 2021, jumlah masyarakat yang terkonfirmasi Covid-19 menyentuh angka 2.527.203 orang, naik kurang lebih sejumlah 35.094 dari hari sebelumnya.

Kondisi yang demikian, senyatanya berpengaruh pada kekuatan iman dan imun kita sebagai manusia. Iman atas ketetapan-Nya, pun kondisi fisik dan fikiran yang diliputi rasa sedih dan khawatir.

Jikalau setiap hari kita bersikeras menerapkan protokol kesehatan (prokes) dzahir dengan memakai masker, rajin cuci tangan, dan menjauhi kerumunan, alangkah eloknya ikhtiar tersebut juga dilengkapi dengan “prokes” yang bersifat batin.

Keberadaan “Prokes Batiniah” ini menjadi penting, untuk menjaga kesehatan ruhani kita sebagai bagian tidak terpisahkan dari unsur jasmani.

Di antara langkah menjaga kesehatan batiniah yang dimaksud, bisa diambil dari apa yang telah ditulis oleh Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitab Abwab al-Faraj (pintu-pintu solusi hidup).

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Sesuai dengan namanya, kitab ini menjadi “oasis” tatkala seseorang mengalami kesedihan. Setidaknya, hal tersebut tercermin dari suguhan tema-tema yang telah diberikan oleh ulama Tanah Haram ini.

Baca juga:  Sabilus Salikin (103): Macam-Macam Zikir Tarekat Histiyah (1)

Pada bagian awal, kita disadarkan bahwa Allah membuka pintu seluas-luasnya kepada para hamba-Nya untuk meminta.

Sebagaimana difirmankan dalam QS. al-A’raf: 55 yang kurang lebih bermakna: “berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut”.

Atau QS. Ghafir: 60 yang menyampaikan “Dan Tuhanmu berfirman, “berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan kepadamu”.

Di sisi lain, Allah juga mencela hamba-Nya yang meninggalkan berdoa, seperti dalam QS. Mu’minun: 76 “Dan sungguh Kami telah menimpakan siksaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mau tunduk kepada Tuhannya, dan juga tidak merendahkan diri”.

Sebagai ulama pakar hadis, Sayyid Muhammad memberikan hamparan kajian hadis yang lengkap dalam kitab Abwab al-Faraj ini.

Di antaranya beberapa riwayat ihwal pentingnya doa dalam kehidupan seorang mu’min. Sebagaimana hadits riwayat Hakim, Nabi Muhammad bersabda yang kurang lebih mempunyai arti “Doa adalah senjata seorang mu’min, tiang agama, dan menjadi cahaya langit dan bumi”.

Dalam riwayat lain, tepatnya Imam Turmudzi, Nabi menegaskan bahwa “tidak bisa menolak ketetapan Allah kecuali melalui doa seorang hamba”.

Dari rangkaian hadis yang telah dipaparkan, Sayyid Muhammad memberikan catatan bahwa hadits-hadits yang telah disampaikan menunjukkan bahwa doa seorang hamba menjadi faktor penting untuk menolak suatu hal yang menjadikan gelisah.

Baca juga:  Sabilus Salikin (71): Adab Murid Tarekat Qadiriyah

Pun mencegah turunnya marabahaya, menghilangkannya, atau menjadikan ringan tatlaka marabahaya telah menimpa (hal. 13).

Kekuatan kajian hadis juga mewujud pada penyampaian doa-doa yang ma’tsur, bersumber dari Nabi Muhammad.

Pada tema Tafrih al-Quluub wa Tafrij al-Kuruub (membahagiakan hati dan menghilangkan kesusahan), Sayyid Muhammad menyitir sebuah hadits dari Ibn Abbas, bahwa suatu kali Rasulullah bersabda barangsiapa membaca “Laa ilaha illa Allah qabla kulli sya’i, laa ilaha illa Allah ba’da kulli sya’i, wa laa ilaha illa Allah yabqa rabbuna wa yafna kullu sya’i” akan diselamatkan dari kegelisahan dan kesusahan (hal. 20).

Hadits yang tertera pada sub-tema “seorang yang sedang tertimpa kesusahan ini” sangat pas untuk diamalkan saat ini, di tengah kegelisahan yang datang silih berganti.      

Menyambung tema-tema sebelumnya dalam rangka mengurai kesedihan, Sayyid Muhammad juga menganjurkan seseorang untuk berbuat kebajikan, sebagai upaya mencegah terjadinya keburukan.

Satu kebajikan yang paling agung adalah melalui sedekah. Menyitir hadits riwayat Imam Thabrani, bahwa Nabi Muhammad bersabda “sesungguhnya sedekah akan menutup 70 pintu keburukan”.

Sayyid Muhammad menuliskan, jika perbuatan baik yang dilakukan seseorang akan menjaganya dari hal-hal buruk, dan menghalangi dari tertimpa marabahaya (hal. 336).

Sebentuk paduan yang pas untuk membangun optimisme di tengah keadaan yang kurang bersahabat. Bahwa kita sebagai seorang hamba perlu kembali kepada-Nya, senantiasa mendekat dengan sebisa mungkin mewujudkan “Prokes Batiniah”.

Baca juga:  Nazarat fi Kitabillah dan Zainab Al-Ghazali

Pada bagian akhir kitab ini, Sayyid Muhammad menuliskan ragam sholawat pilihan, seperti sholawat tadbir, sholawat munjiyat, sholawat nariyah, sholawat fatih, sholawat faraj, sholawat surur, sholawat anwar, sholawat hil al-iqd, dan sholawat syifa’.

Bacaan sholawat sendiri, sebagaimana dituturkan Sayyid Muhammad, termasuk bagian terbesar dari abwab al-faraj. Selain pula, sholawat juga mempunyai banyak faidah.

Beberapa di antaranya, sholawat menjadi faktor penyebab Allah mencukupi segala kebutuhan seorang hamba, sebab terealisasikannya segala kebutuhan, dan faktor penyebab memperoleh kasih sayang dari Allah.

Ala kulli haal, di tengah kondisi yang tidak menentu seperti hari ini, kita “ditantang” untuk senantiasa berprasangka baik (husnuddzon) kepada Allah.

Sikap prasangka baik ini, perlu diawali dengan ikhtiar mendekat kepada-Nya. Berkaca pada apa yang telah ditulis Sayyid Muhammad, sudah sepatutnya optimisme sebagai hamba Allah harus tersemai pada masing-masing diri kita.

Bahwa kasih sayang Allah, lebih besar dari serangkaian kesedihan yang menghinggapi kehidupan kita. Wallahu A’lam.

Katalog Buku Alif.ID
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top