Sedang Membaca
Menjumpai Buku sebagai Kawan
Alif.ID

Berkeislaman dalam Kebudayaan

Pendaftaran Workshop Menulis

Menjumpai Buku sebagai Kawan

Rizka Nur Laily Muallifa

Di antara riuh tuntutan lekas lulus, jadi sarjana, memperoleh kerja, godaan bermain aplikasi dating, mendapat pasangan, punya banyak teman, dan bersenang-senang dengan banyak orang, ada teman-teman yang memilih mengalami kesepian.

Melakoni diri sebagai pembaca buku yang sesekali menulis. Teman-teman itu bukannya menepi sama sekali dari kegaduhan hidup duniawi. Mereka memilih mencandu buku-buku di kamar indekos sebagai upaya menumbuhkan diri dan lebih jauh lagi. Duh, romantisme yang sungguh ketinggalan zaman!

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Melakoni diri sebagai pembaca apalagi bercita-cita menjadi penulis hampir selalu aneh bagi sebagian besar khalayak, terlebih di zaman mutakhir begini. Membaca dan menulis jelas bukan pekerjaan yang lekas menghasilkan materi. Keduanya lebih banyak mewujud kepuasan diri para pelaku yang tak serta merta tampak pengamatan orang lain.

Seseorang tenggelam dalam lekuk-lekuk halaman buku, sendiri di kamar indekos, kalau merasa mendapat ide menulis lekas gelagapan dan tampak demikian antusias menyalakan laptop, selalu lebih sedikit tertarik pada perbincangan kawan-kawan lain.

Pendek kata, ia menjadi terasing. Keterasingan yang didaku menyenangkan.

Kita serap pengakuan Joko Priyono, “Sejauh ini, beberapa usahaku yang perlu Mama ketahui antara lain adalah belajar membaca. Membaca apa pun ketika hati ini berkehendak untuk membacanya. Setelah itu, mencoba menghayati dan meresapi akan hal tersebut. Mulai dari membaca buku dengan aneka ragam genre maupun judulnya. Membaca orang-orang ketika aku berhadapan dengan mereka. Maupun membaca situasi dan kondisi yang aku hadapi. Memang, kalau sudah asyik membaca, terkadang aku lupa entah untuk sekadar menceritakannya kepada orang lain atau membuat tulisan yang renyah dan menarik kalau dibaca…” (2017: hlm. 8).

Baca juga:  Tawaran Pola Hidup Minimalis Sasaki

Apa yang ditulis Joko Priyono dalam bukunya  Manifesto Cinta (2017) membuka kemungkinan dialami teman-teman lain. Masyuk membaca buku atau apa saja dan lupa pada hal-hal di luar itu. Kesukaan Joko Priyono dengan aktivitas membaca kiranya bertaut dengan pengalamannya sebagai aktivis muda PMII.

Ia tentu saja berpegang teguh pada wahyu yang pertama turun kepada Nabi Muhammmad SAW. Kita mengingat bagian awal autobirografi Daoed Joesoef dalam Rekam Jejak Anak Tiga Zaman (2017). Kata itu “Iqra”—bacalah. Keseluruhan wahyu pertama ini terdiri atas lima ayat yang sekarang disebut Surat Al ‘Alaq. Bahwa dari semua itu, kata “Iqra” yang disebut lebih dulu tentu bukan suatu kebetulan belaka.

Hal ini mengingatkan kita, betapa pentingnya membaca dalam penuntutan ilmu (hlm. 12). Kita jadi tahu, laku membaca rupanya bertaut erat dengan pemahaman dan pengamalan religiositas seseorang.

Menulis Religiusitas Diri dan Seterusnya

Romantisme seorang pembaca buku—yang kemudian menulis—kita jumpai di masjid sebuah kampus keislaman di Surakarta. Muhammad Taufik Kustiawan, salah satu mahasiswa kampus tersebut menceritakannya dalam pengantar buku Berbuku Bermasjid (2018). Pertemuan Taufik dengan buku terjadi di serambi Masjid Al-Bukhori IAIN Surakarta. Suatu hari selepas menunaikan ibadah sembahyang, ia melihat segerombol mahasiswa masyuk membincangkan buku.

Kendatipun belum kenal dengan gerombolan itu, Taufik penasaran. Hari itu, ia tahu agenda mengobrolkan buku di serambi masjid kampus terjadi saban Hari Kamis usai  sembahyang asar. Selepas pertemuan pertama itu, Taufik membaca buku-buku dan rutin turut serta dalam diskusi membincangkan buku.

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Baca juga:  Sabilus Salikin (33): Nafsu

Keputusan Taufik melakoni diri sebagai pembaca tak bisa dimungkiri seringkali membuat ia perlu menyendiri. Kian hari ia juga getol menulis esai bertema keagamaan, meski yang paling utama tetap tema masjid. Soalnya ia mengalami peristiwa romantis berbuku di masjid, dus mengerti betapa masjid di masa-masa sebelum ini punya peran besar bagi perkembangan intelektualisme di ranah kampus dan kemudian bangsa.

Kita membaca kisah Bang Imad dan romantismenya di kampus Salman ITB, aktivitas organisasi Jamaah Shalahuddin di masjid kampus UGM, pengembangan keilmuan di masjid kampus Universitas Indonesia, dan tentu saja Hari Kamis di serambi masjid kampus IAIN Surakarta tempat Taufik belajar (M. Taufik Kustiawan, 2018).

Selain Taufik, kita bertemu Bunga Hening Maulidina yang belum lama lulus dari Universitas Sebelas Maret (UNS). Kalau kisah kasih mesra Taufik dengan buku-buku dan masjid dinarasikan dalam esai, Bunga memilih jalan puisi. Bacaan dan ragam tempaan religius yang dialami Bunga membuat kita perlu lebih jeli mengamati bentuk puisinya. Judul puisi itu sudah menggelitik, Melampaui. Allah, dengan asma-Mu kami menyebut/ kebenaran-Mu, hukum-Mu, yang akan berlaku/ hilang buku-buku, kecuali firman-Mu// Allah, janji-Mu benar/ hilang puisi di depan doa Nabi// Allah Tuhan Yang Maha Perkasa/ Berkuasa atas semua// Allah,/ hilang kata (2018, hlm. 29). Puisi diri yang religius sekali.

Kita juga menjumpa keterasingan Adhy Nugroho dalam bukunya yang berjudul Pot (2018). Adhy tak ubahnya Joko dan Taufik. Dia sendirian. Tapi amat yakin, ada cahaya yang mesti ia kejar. Ini hari pertama saat dia mulai menyadari bahwa dia ada. Dia hanya diam, tak bergerak sedikit pun. Dia harus bisa membakar dirinya sendiri untuk bisa keluar menemukan cahaya. Mungkin ia ingin berbicara, tapi perkataannya masih tertahan begitu dalam. Jauh di dalam dirinya, ia ingin terbang, tapi itu masih sangat jauh (hlm. 2).

Deksripsi Adhy di cerita berjudul Cerita Dari Dalam Tanah boleh diduga sebagai gambaran puitis ihwal diri para pembaca dan yang kemudian belajar menulis.

Selain mengaku sebagai yang asing dan gemar menyendiri, kita mendapati muda-mudi yang belajar menulis ini sebagai sosok-sosok yang tak sungkan mengakui kebodohan dan kebingungan melakoni diri sebagai pembaca dan penulis yang tak jarang sok bijak atau merasa jumawa akan rupa-rupa pengetahuan dalam tulisan-tulisan yang dihasilkan.

Baca juga:  Visi dan Kontestasi dalam Puisi

Daripada para penulis esai, kita lebih mudah menangkap pengakuan para penyair. Misalnya yang terjadi dengan Hastami Cintya Luthfi. Ia pernah menulis puisi, tersebutlah oktaf-oktaf yang pandai meninggikan cerita,/ memanipulasi konflik sampai menjadi sulutan/ kecenderungan para pecandunya/ tak semua bisa langsung tumpah, padanya:/ deretan cekung kata/ masih saja tercampuri harap-harap laknat/ yang termuat dalam rusuk bermetafora// (2017; hlm. 40).

Sekali lagi, di laju zaman yang gegas, kita boleh bersulang merayakan perjumpaan dengan buku pertama karya beberapa pembaca-penulis muda. Buku itulah yang menjadi saksi kepongahan, keberanian, ketakutan, kesombongan, kebaikan, dan keburukan pemikiran/gagasan para penulisnya. Bagaimanapun itu, hormatku tak habis-habis. Tsah!

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Lihat Komentar (0)

Komentari

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini
Scroll To Top