Mutiara Hadis: Syi’iran Hadis-Hadis Pilihan

Zaim Ahya

Dzurrotul Ahadis (mutiara hadis-hadis) adalah karya Kiai Haji Taufiqul Hakim, yang terbit pertama kali pada tahun 2006, setelah sebelumnya beliau menulis kitab Amstilati—metode cepat membaca kitab kuning dalam kurun waktu tiga sampai enam bulan—yang fenomenal itu.

Hadis-hadis di kitab Dzurrotul Ahadis adalah cuplikan (mengambil) dari kitab Mukhtarul Ahadis, sebagaimana tertulis pada sampulnya. Yang membedakan kitab ini, dengan kitab hadis pada umumnya adalah adanya usaha dari Kiai Taufiq mengartikan hadis-hadis dalam kitab tersebut dengan model syi’ir, dan dua bahasa: Jawa dan Indonesia—di samping arti secara naratif dengan bahasa Indonesia.

Misalnya hadis perihal hati yang lembut dicintai Allah.

ان لله انية من اهل الارض وانية ربكم قلوب عباد الصالحين واحبها اليه الينها وارقها (رواه الطبرانى)

Arti dengan syi’ir bahasa Jawa:

Wadah Allah ing bumi # kang slalu ditingali
Atine wong kang soleh # dzikir ing Allah akeh
Kang paling disenengi # ing antarane ati
Ati kang lemah lembut # ora drengki lan hasut

Arti dengan Syi’ir bahasa Indonesia:

Wadah Allah di bumi # yang s’lalu dipandangi
Hati-hatinya hamba # yang soleh bercahaya
Dan yang paling disuka # diantara mereka
Hati yang paling lembut # tak drengki dan tak hasud

Arti berupa syi’irian di atas mengikuti nada solawat yang telah akrab di masyarakat:

مولاي صل وسل دائما ابدا # على حبيبك خير الخلق كلهم

Kitab hadis dengan metode arti berbentuk syi’ir adalah satu upaya Kiai Taufiq mengajak masyarakat pro aktif dan komunikatif atas apa yang disampaikan. Metode syi’ir dipilih beliau karena dipandang efektif.

Dengan santai dan juga bisa mengurangi rasa kantuk waktu ngaji, syi’ir-syi’ir tersebut bisa dilantunkan, juga untuk menghalangi kesan bahwa beberapa pengajian di masyarakat itu “Bungen Tuo” (mlebu kuping tengen, metu kuping kiwo/masuk kuping kanan, keluar kuping kiri).

Baca Juga

Kitab ini praktis, dilengkapi dengan daftar isi sesuai tema hadis.

Pengalaman penulis ikut mengaji, saat masih di Pesantren Darul Falah Amstilati Bangsri Jepara, kitab ini terlebih dahulu dimaknai gandul sebagaimana ngaji kitab di pesantren umumnya—namun Kiai Taufiq biasanya menyelipkan pertanyaan nahwu-sorof sesuai dengan tingkatan jilid Amstilati, dan yang tak bisa menjawab sampai hitungan ke tiga, dihukum dengan berdiri.

Pada akhir pengajian, syi’iran ini dibaca bersama-sama, biasanya dipimpin oleh teman santri yang suaranya merdu.

Kiai muda yang juga santri dari Kiai Haji M A Sahal Mahfud Kajen Pati dan Kiai Haji M Salman Dahlawi Popongan Klaten Solo (Allahu Yarhamhuma), sampai sekarang terus menulis karya.

Karya-karya beliau banyak yang berbentuk syi’ir. Bahkan beliau juga menulis karya cara menjadi muallif (penulis), yang fokus kepada teknik pembuatan syi’ir, yang dikenal dengan ilmu arudh. Tentu dengan metode cepat pula, sebagaimana pendahulunya: Amstilati.

Lihat Komentar (0)

Komentari