Sedang Membaca
Sa’adi dan Taman Mawar yang Indah
Ulummudin
Penulis Kolom

Mahasiswa Studi al-Qur'an dan Hadis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sa’adi dan Taman Mawar yang Indah

1 A Makam Sa'adi

Pagi yang dingin di musim semi menyambutku di kota Shiraz. Perjalanan kurang lebih delapan jam dari Yazd harus ditempuh untuk sampai di kota yang menjadi primadona wisatawan ini. Kota ini menawarkan banyak sekali destinasi wisata khususnya terkait dengan peninggalan Persia kuno.

Selain itu, kota Shiraj juga dikenal sebagai kota penyair dengan hadirnya dua penyair legendaris Persia yang berasal dari kota ini. Mereka adalah Hafez dan Sa’adi.

Pada kesempatan ini, saya bermaksud untuk mengunjungi mausoleum Sa’adi terlebih dahulu yang jaraknya tidak terlalu jauh dari terminal Shiraz. Nama aslinya adalah Abu Muhammad Muslih al-Din bin Abdallah Shirazi. Ia diakui sebagai salah satu penyair terbesar Persia sampai saat ini. Ia juga dijuluki Master of Speech karena kepiawaiannya dalam merangkai syair yang syarat makna. Ia sendiri lahir di Shiraz tahun 1210 M dan meninggal di kota yang sama 1292 M. 

Sa’adi dikenal dunia melalui dua karya besarnya yang berjudul Bustan (kebun) dan  Golestan (taman mawar). Selain seorang penyair, ia juga dikenal sebagai sufi. Memang di Persia ada kecendrungan bahwa setiap sufi pasti menjadi penyair, tapi tidak semua penyair adalah sufi.

Selain itu, Sa’adi juga adalah seorang pengembara ilmu. Sebelum menetap dan meninggal di Shiraz, ia berpetualang ke belahan dunia Islam dimana ilmu pengetahuan diajarkan. Pengalaman tersebut membentuk Sa’adi menjadi seorang yang bijak yang kata-katanya membius banyak orang. 

Syair-syair Sa’adi ini sangat populer di Iran. Bukunya Golestan menjadi benda yang akan mudah ditemukan di rumah-rumah orang Iran. Syairnya telah menjadi bagian yang tak terpisahkan bagi masyarakat di negara ini. Ia senantiasa mewarnai hari dalam setiap aktifitas mereka. Dalam sebuah acara seperti sab-e yaldo yakni perayaan awal musim dingin, gubahan syair dari Sa’adi ini seringkali dibacakan.  

Mausoleum Sa’adi ini begitu menawan. Ia berada di sebuah taman yang dikelilingi oleh bunga-bunga yang sedang mekar di musim semi. Dalam taman itu berdiri sebuah bangunan berkubah biru muda untuk melindungi makam dari hujan dan teriknya matahari. Sebelum mencapai makam, kita akan melewati kolam yang dihiasi dengan pohon cemara yang berjejer rapi di sampingnya. Kita diajak seakan-akan melewati sebuah altar untuk sampai ke panggung sebelum bertemu sang penyair. 

Iklan - Lanjutkan Membaca Di Bawah Ini

Konsep mausoleumnya seperti mencerminkan kehidupan sang penyair yang selalu melahirkan kata-kata mulia dan bijaksana. Melihat bangunan makamnya, kita seolah-olah sedang menyaksikan Sa’adi berpuisi di taman yang indah dengan pengunjung sebagai pendengarnya. Walaupun jasadnya telah tiada, tetapi untaian syair-syairnya tetap akan menjadi inspirasi bagi siapapun yang mencari hikmah kehidupan.   

Para pengunjung berbondong-bondong memasuki makam penyair besar Persia ini. Saya pun harus berdesak-desakan untuk dapat sekedar menyentuh batu nisannya. Saya menyaksikan penghormatan besar masyarakat Persia terhadap penyair yang satu ini. Makamnya dirawat layaknya pahlawan yang telah berjasa terhadap negara. Kondisi seperti ini sangat berbeda dengan para penyair di negeri kita. Nampaknya, mereka belum mendapatkan tempat istimewa di tengah-tengah masyarakat. 

Setelah mengecup nisan Sa’adi, saya duduk di kursi taman sambil menikmati bunga-bunga yang menawarkan keindahan. Hujan rintik-rintik menemani kunjungan saya kepada sang penyair. Dalam hati saya bergumam “Semoga pertemuan ini membawa kebaikan dan mudah-mudahan saya dapat memahami makna-makna syair yang telah digoreskan dengan indah”. 

Nampaknya, Sa’adi ini tidak hanya dikenal di Persia saja, tetapi juga dunia. Puisi-puisinya banyak diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing. Salah satu syairnya bahkan terpampang di gedung PBB yang berpusat di Amerika. Puisi tersebut berjudul Anak Adam.

Anak-anak Adam adalah bagian tubuh satu sama lain,

Yang telah diciptakan dari satu esensi,

Ketika malapetaka menimpa satu bagian tubuh,

Bagian tubuh yang lain turut merasakannya.

Jika engkau tidak bersimpati dengan penderitaan orang lain,

Engkau tidak layak disebut manusia.

Syair tersebut mengajak kita untuk berempati dan peduli terhadap sesama tanpa memandang ras, etnis, dan perbedaan lainnya. Kita adalah satu keluarga besar yang bernama manusia. Perdamaian dan kemanusiaan adalah pesan utama dari puisi di atas. Jika nasihat Sa’adi ini dapat diaplikasikan secara nyata, maka tidak akan ada kelaparan, apalagi peperangan yang dapat menghancurkan peradaban manusia.

Hujan yang mulai reda membuat saya beranjak dari mausoleum yang indah ini. Air yang membasahi tanah mengiringi jejak langkah saya menuju pintu keluar taman. Dengan perasaan syahdu saya mengucapkan selamat tinggal kepada Sa’adi, sang penyair legendaris dari Shiraz.   

Baca juga:  Syekh Abdul Qadir al-Jailani dan Kisah Jin Pengganggu
Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
0
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top