Sedang Membaca
Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Abadi
Penulis Kolom

Jurnalis, penyair

Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Abadi

Sutardji

Kepada bang Tarji…. Sehat selalu di mana pun engkau berada.

Penyair Indonesia datang dan pergi,  namun yang bertahan dengan segala mahkota “kenestapaannya” sebagai penyair sejati, dapat dihitung dengan jari. Satu diantara yang sedikit dan terus memberikan arti, karena kemampuan berfikir, bersyair, dan bertafakurnya terus diasah dan diuji waktu, adalah Sutardji Calzoum Bachri.

Usianya sudah tidak paruh baya lagi, apalagi muda. Tapi elan vitalnya menulis syair puisi seperti menderas tiada henti. Mengalahkan penyair penyair muda, yang sibuk gonta-ganti status di media sosialnya, sibuk memacak foto dirinya sendiri.  Alih-alih menjadi penyambung lidah dan kepapaan orang-orang kecil yang dipinggirkan oleh sistem dan keadaan, yang seperti tiada henti terus secara maraton dipunggungi nasib baiknya oleh kekuasaan.

Alih-alih melahirkan syair yang membesarkan hati orang kecil, para penyair muda yang yang belum katam alif ba ta kehidupan ini, terus saja bersajak tentang “anggur dan rembulan”. Njelehi.

Tapi tidak untuk bang Tarji. Dia bisa menulis sajak pamflet, juga cinta, dengan sama baiknya. Mungkin lebih baik (?), sebagaimana sajak pamflet dan cintanya mas Willy.

Cecap dan simaklah sajak berjudul Jembatan karya bang Tarji ini:

//Sedalam-dalam sajak takkan mampu menampung airmata

bangsa. Kata-kata telah lama terperangkap dalam basa-basi

dalam teduh pekewuh dalam isyarat dan kisah tanpa makna.

Maka aku pun pergi menatap pada wajah berjuta. Wajah orang

jalanan yang berdiri satu kaki dalam penuh sesak bis kota.

Wajah orang tergusur. Wajah yang ditilang malang. Wajah legam

para pemulung yang memungut remah-remah pembangunan.

Wajah yang hanya mampu menjadi sekedar penonton etalase

indah di berbagai plaza. Wajah yang diam-diam menjerit

mengucap

tanah air kita satu

bangsa kita satu

bahasa kita satu

bendera kita satu!

Tapi wahai saudara satu bendera kenapa sementara jalan-jalan

mekar di mana-mana menghubungkan kota-kota, jembatan-jembatan

tumbuh kokoh merentangi semua sungai dan lembah

yang ada, tapi siapakah yang akan mampu menjembatani jurang

di antara kita?

Di lembah-lembah kusam pada puncak tilang kersang dan otot

linu mengerang mereka pancangkan koyak-moyak bendera hati

dipijak ketidakpedulian pada saudara. Gerimis tak ammpu

mengucapkan kibarnya.

Lalu tanpa tangis mereka menyanyi padamu negeri airmata kami//

Mungkin sajak ini tidak seikonik Sajak Sebatang Lisong-nya mas Willy. Tapi kedalamannya, tetap menenggelamkan.

Baca juga:  Sajian Khusus: Sangkan-Paraning Dumadi

Bang Tarji — demikian kami menyapanya saat masih acap bersilangan nasib dengannya pada awal tahun 2000-an di TIM– bahkan berkali-kali mengatakan, “Terserah kau mau mengutip apa tentang pendapat saya. Aku percaya saja, ” katanya. Waktu itu kami bersirobok nasib dan hendak mewawancarainya, tapi karena satu dan lain hal, dia musti segera berlalu.

Yang pasti bagi bang Tarji, “Pertama-tama, seorang penyair bercakap-cakap dengan kata-kata, bukan dengan pembaca. Ketika percakapan itu selesai, barulah kata-kata itu bercakap-cakap dengan pembacanya.”

Demikianlah ia merumuskan kiat penulisan karya puisinya. Katanya lagi, diksi akan menuntunnya menemukan makna. Alih-alih sebaliknya. Makanya jangan heran jika dia membebaskan makna dari kata. Kata menjadi  merdeka dari beban makna. Tapi begitu kata melaras dengan makna, dia langsung menenggelamkan kita dengan kedalamannya.

Karena,  bagi bang Tarji, “Kata-kata, meski telah memiliki makna yang mapan, di tangan para penyair, bukan tidak mungkin ia bergeser (pemaknaannya),” katanya.

Tersebab penyair,  dapat membawa lidah kita ke mana-mana karena persoalan selera. “Hari ini kita suka Bakso, esok lusa belum tentu. Dulu kita menyukai masakan ibu di kampung, tetapi suatu hari karena lama di Eropa, sudah tidak suka lagi”.

Dalam bahasa lain, penyair dan bisa jadi mistikus kelahiran Rengat Indragiri Hulu, 24 Juni 1941, pernah menubuatkan,  jika “Kata juga selalu membuka kemungkinan terhadap tafsir yang berbeda, yang sangat dipengaruhi oleh biografi seseorang”.

Baca juga:  Ngaji Rumi: Cara Nabi Muhammad Memuliakan Kulit Hitam Bernama Bilal bin Rabah

Kata ‘mawar’, imbuh dia, tak pernah diresepsi secara sama oleh beberapa orang. Ia bisa berarti traumatik, bisa pula nostalgik. Diksi “mawar” bagi seorang gadis yang dicium paksa oleh pacarnya di sebuah taman mawar dan dia berusaha memberontak, malih rasa maknanya menjadi sangat traumatik.

Berbeda halnya jika seorang gadis lainnya diperlakukan secara lembut oleh pacarnya, dia akan mengenangkan kata ‘mawar’ sebagai sesuatu yang nostalgik. Demikian halnya dengan diksi lainnya. Oleh karenanya, bang Tarji lebih suka memerdekakan kata dari makna. Semerdeka merdekanya. Bebas.

Maka itu, kenangkanlah, wahai para hulubalang nagari. Jika kata saja dibebaskan oleh bang Tarji, presiden penyair abadi, dari beban maknawi, mosok tuan dan puan mau mengebiri kebebasan makna atas nama apa saja. Bahkan demi langgengnya kuasa. Ngisin-ngisini.

Sehat terus bang Tarji. Angkat kopimu,  biar panjang usia dan pahalamu. Tertawakan saja kekuasaan yang terus melakukan sirkus makna. Memanipulasi kata-kata atas nama apa saja. Juga demi kelanggengan semunya. Tabik. (SI)

Apa Reaksi Anda?
Bangga
0
Ingin Tahu
1
Senang
0
Terhibur
0
Terinspirasi
0
Terkejut
0
Scroll To Top