Sedang Membaca
Berzikir dan Berdoa bersama Al-Ghazali

Berzikir dan Berdoa bersama Al-Ghazali

Untung Wahyudi

Berdoa dan berzikir adalah rutinitas bagi kaum Muslim. Dua aktivitas ini tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari. Baik setelah ibadah salat lima waktu, maupun ibadah-ibadah sunah lainnya seperti Salat Dhuha, Tahajud, Istikharah, dan ibadah sunah lainnya.

Karena itu, zikir dan doa merupakan sebuah niscaya bagi kehidupan umat Muslim. Aktivitas ini sudah melekat dalam hati umat Muslim karena di dalamnya terdapat perenungan-perenungan yang transendental.

Metode Zikir dan Doa Al-Ghazali adalah karya disertasi Kojiro Nakamura yang membahas makna dan hakikat ibadah perspektif Al-Ghazali. Dalam buku ini, Nakamura dengan penuh detail menjelaskan hakikat zikir, doa, dan bagaimana mengingat kebesaran Tuhan Alam Semesta.

Dalam pemikiran Al-Ghazali, ada dua tipe utama zikir yaitu “zikir dengan hati” (dzikr bil al-qalb) dan “zikir dengan lisan” (dzikr bi al-lisan). Keduanya memiliki peran yang khas, tetapi saling berkaitan dalam sistem pemikiran Al-Ghazali.

Menurut Al-Ghazali, persoalan zikir dengan hati merupakan persoalan yang vital dan mendasar. Dalam kategori ini, makna pertama yang dimiliki zikir adalah ikhtiar sungguh-sungguh untuk mengalihkan gagasan, pikiran, dan perhatian manusia menuju Tuhan dan akhirat.

Aktivitas zikir juga bisa menjadi penangkal godaan setan yang kerap mengganggu aktivitas kerohanian manusia. Karena, pada sisi lain, selama kita mencurahkan semua perhatian pada zikir dan Tuhan, hanya akan tersisa sedikit ruang untuk godaan setan. Dalam pengertian ini, zikir kepada Tuhan adalah tempat pengungsian teraman dari godaan setan (hlm. 86).

Yang perlu diketahui adalah bahwa ada manfaat yang kita dapat dari aktivitas zikir. Dalam buku ini dijelaskan, secara umum, ada dua pendapat berbeda mengenai manfaat zikir, yaitu bersifat “sakramental” dan “intepretatif”.

Pendapat pertama menyatakan adanya semacam kekuatan misterius dan supernatural yang secara inheren bekerja di dalam lafaz zikir itu sendiri (dan juga di dalam manfaat pelafalannya), seperti yang secara gamblang dijelaskan di dalam beberapa hadis.

Baca juga:  Empat Tingkatan Puasa: dari Fikih ke Tasawuf

Sedangkan pada sisi lain, pendapat interpretatif menganggap di dalam zikir terdapat sesuatu yang lebih dari gambaran yang diungkapkan dalam beberapa hadis. Pendapat ini menganggap kalimat yang diucapkan tersebut sebagai simbol bagi kondisi khusus yang muncul di dalam hati sang pengucapnya sebagai pengucapan berulang-ulang kalimat yang sama (hlm. 92).

Selain membahas tentang hakikat zikir dan doa dalam pemikiran Al-Ghazali, dalam buku ini juga dibahas zikir dan doa dalam praktik sehari-hari. Zikir dan doa yang dipraktikkan umat Muslim itu membutuhkan praktik khusus yang berbeda dengan praktik harian, seperti pada hari Jumat, selama Ramadhan, dan selama berhaji.

Al-Ghazali juga menyebutkan formula zikir dan teks-teks doa untuk saat-saat khusus seperti itu ketika dalam perjalanan, pernikahan, pemakaman, kekeringan, gerhana bulan dan matahari, sakit, marah, ketika berduka, dan banyak lainnya (hlm. 140).

Karena itulah, pada bab terakhir buku setebal 206 halaman ini dilengkapi dengan berbagai macam doa seperti ketika bangun tidur, memasuki kamar mandi, setelah buang air besar, saat berwudhu, setelah shalat tahajud, dan aktivitas lainnya. Semua dibahas dengan lengkap sehingga pembaca bisa mempraktikkan berbagai zikir dan doa dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan aktivitas kerohanian yang dilaksanakan. (*)

 

Baca Juga

IDENTITAS BUKU

Judul : Metode Zikir dan Doa Al-Ghazali

Penyusun : Kojiro Nakamura

Penerbit : Mizan, Bandung

Cetakan : Pertama, Juni 2018 (edisi II)

Tebal : 206 Halaman

ISBN : 9786024410407

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top