Sunat/Khitan dan Hal-Hal yang Sudah Selesai

Bandung Mawardi

Imajinasi bocah di abad XXI masih “burung” dan semut. “Burung” itu sebutan bagi alat kelamin milik lelaki. Semut adalah rasa saat bocah dikhitan atau disunat. Pengalaman gigitan semut di “burung” adalah siasat agar bocah-bocah tak terlalu mengalami ketakutan. Sakit memang terasa tapi masih mungkin diatasi jika bocah sudah mampu meramalkan kadar sakit. Si bocah sanggup, belum tentu orang tua.

Di khazanah bacaan bocah Indonesia, sunat termasuk tema penting. Para pengarang menulis cerita mengenai khitan berlatar desa dan kota. Pengarang pun memuat segala pengertian agama, adat, keluarga, pemerintah, dan perubahan sosial.

Teks-teks sastra itu membuktikan ada kemauan mendokumentasikan sunat sebagai bacaan bagi bocah. Buku menjadi referensi sebelum atau setelah khitan. Dua cerita pantas dikenang berkaitan sunat digubah oleh Hilman-Boim, dan Darto Singo.

Dua buku itu “menggenapi” dari kemonceran cerita pendek berjudul Panggilan Rasul gubahan Hamsad Rangkuti. Cerita sering dimuat di buku pelajaran. Khitan menjadi ketentuan dalam agama.

Di mata publik, khitan pun menjelaskan keberanian bocah, pergaulan, kondisi keluarga, dan anutan kultural suatu komunitas. Khitan bukan tema sepele tapi mengajak pembaca sampai ke renungan-renungan penting dan mendapatkan lelucon.

Novel berjudul Lupus Kecil: Sunatan Masal (1990) gubahan Hilman dan Boim terasa lucu dan mendebarkan. Lupus turut di sunatan massal agak terpaksa dan memiliki takut berlebihan. Lupus di cerita masih berusia tujuh tahun. Cerita itu mungkin sudah agak terlupa bagi generasi masa lalu sebagai penggemar seri Lupus. Novel lucu dan menghibur.

Alkisah, ibu Lupus dan para ibu di kampung tergabung dalam IWABI (Ikatan Wanita Penyebar Isu) berencana mengadakan sunatan massal. Mereka mau iuran dalam misi mendewasakan para bocah kampung dengan khitan. Rapat demi rapat tak formal diadakan agar acara sukses. Pada suatu obrolan, Lupus menguping omongan para ibu. Tema sunat lekas membuat Lupus ketakutan. Semula, ia sudah mendapat cerita-cerita menegangkan dari bocah-bocah sudah khitan. Di hati, Lupus belum mau sunat berdalih masih kecil.

Rencana-rencana penggagalan khitanan massal dilakukan Lupus. Ia memang nakal dan lucu. Lupus membujuk bapak agar jangan mau dimintai duit dalam pelaksanaan sunatan massal. Ia berpikiran beruntung bapak adalah manusia pelit. Bujukan agar jangan memberi bantuan dianggap cara paling jitu menggagalkan rencana IWABI. Bujukan kurang manjur. Bapak mau mendatangi rapat di balai pertemuan. Lupus masih memiliki akal licik. Sepatu-sandal bapak jadi korban. Benda penting untuk dikenakan kaki itu disembunyikan Lupus, berharap bapak batal datang ke rapat. Rencana itu gagal lagi. Bapak berhasil menemukan sepatu-sandal, berangkat ke balai pertemuan dan mufakat mengadakan sunatan massal. Lupus keok berulang kali. Lupus pun pasrah. Ia memang harus khitan.

Tema sunat bisa digarap lucu oleh Hilman dan Boim. Kita simak adegan Lupus gelisah sebelum khitan: “Ia kemudian berdoa supaya dokter sunatnya berhalangan hadir. Jadi paling tidak, acaranya diundur barang tiga sampai empat tahun lagi. Dan para ibu-ibu serta bapak-bapak lupa bahwa mereka pernah merencanakan sunatan massal.”

Doa tak dikabulkan Tuhan. Pada hari sudah ditentukan, Lupus tetap harus datang ke acara dengan seribu gelisah. Rasa gelisah belum punah meski mendapat hadiah sarung, peci, sepatu-sandal, dan duit.

Lupus itu representasi bocah-bocah masa 1990-an. Sunat atau khitan sering dimulai dengan takut dan gelisah. Orangtua bertugas memberi keterangan dan penghiburan. Tugas penting itu diganggu ocehan para bocah sudah mengalami sunat. Mereka biasa memberi cerita-cerita seram bagi teman mau khitan. Bocah menanggung hari-hari berisi imajinasi menakutkan. Lupus juga takut. Pada sunatan massal, Lupus dan teman-teman berhasil melewati menit-menit bersama dokter. Mereka mengaku cuma sakit sebentar, berganti ceria dengan foto bersama dan menonton hiburan rebana. Di tempat acara, bocah-bocah bersenandung Sunatan Massal berlagak meniru Iwan Fals (bandingkan dengan lagu Nasidariyah berjudul Khitanan).

Lupus menjalani sunat di perkotaan. Situasi seperti diceritakan di novel itu belum mengesankan tata adat atau penguatan nuansa keagamaan. Hadiah bagi Lupus masih mendingan jika kita membandingkan kemauan bocah-bocah di abad XXI sebelum sunat. Bocah biasa memintah hadiah aneh-aneh dan mewah. Sunat terus memiliki definisi hadiah.

Kita berganti ke imajinasi sunat atau khitan di novel gubahan Darto Singo berjudul Sunat (1993). Pengarang berlatar adat Jawa itu menceritakan sunat berlatar sosial-kultural Jawa. Sunat bukan melulu “burung” dan semut tapi pengajaran tatanan sosial-kultural Jawa bagi bocah-bocah di masa 1990-an. Bocah bersunat di novel bernama Gubah, berumur 11 tahun. Gubah menganggap telat sunat dan malu pada teman-teman. Peristiwa sunat dipahami penting bagi cara beragama, menjadi dewasa, kesehatan, dan kehormatan.

Baca Juga

Hari-hari menjelang sunat, para teman menebar ketakutan. Seorang teman mengatakan: “Malam kau akan disunat nafsu makan hilang! Tak bakal doyan dengan makanan yang serba enak dan kue yang lezat. Tapi sehari kemudian kau akan menyesal. Sebab, setelah kau disunat hanya diizinkan makan dengan tempe bakar tanpa garam.” Seorang lagi menambahi keseraman: “Setelah sunat jangan sampai melangkahi daun pepaya, atau tangkainya, apalagi batangnya. Burungmu akan membengkak sebesar pepaya jingga. Dan gatalnya minta ampun!”

Di rumah, Gubah beruntung mendapat cerita-cerita menghibur dan menenangkan dari orangtua. Situasi lekas berubah gara-gara pengakuan kakak. Gubah mendapat pengakuan Mas Jono bahwa rasa saat sunat seperti digigit semut rangrang. Gubah tak takut jika “burung” cuma digigi semut rangrang. Tubuh Gubah sudah pernah digigit semut rangrang saat memanjat pohon rambutan.

Di akhir pengakuan, Mas Jono bilang bahwa sunat seperti digigit semut rangrang satu sarang. Imajinasi-imajinasi ketakutan terus diatasi oleh Gubah tapi sulit. Hari demi hari, ia mendapat ajaran ikhlas dari Kakek Mursi. Pada hari sunat, ia pun ikhlas.

Sebelum sunat, keluarga Gubah mengadakan hajatan. Hiburan pentas seni dan wayang disajikan ke warga. Suguhan pelbagai makanan dimaksudkan memberi bahagia ke sesama. Sumbangan demi sumbangan diterima Gubah. Ia sadar bakal mendapat duit berlimpah.

Hari sunat tiba. Gubah sudah ikhlas dan mengucap basmalah. Sunat lancar tak seperti cerita-cerita menakutkan dari teman-teman dan kakak. Ia pun bergirang saat menghitung duit. Ia menggunakan uang untuk membeli sepeda dan kerbau.

Lupus dan Gubah, dua bocah sunat dari masa 1990-an. Mereka ada di cerita bersahaja dan lucu. Kini, bocah-bocah tak bernama Lupus atau Gubah tetap menjalani ritual sunat. Pada musim liburan, sunat memungkinkan bocah belajar pelbagai hal. Sunat tentu tak semengerikan masa lalu. Kini, tata cara sunat sudah canggih, tak memberi sakit keterlaluan seperti digigit semut satu sarang. Begitu.

Lihat Komentar (0)

Komentari

Scroll To Top